
Dalam Diamnya Nara
Bab 16
Sementara orang yang ditunggu-tunggu Nara masih di rumah. Duduk terdiam sambil melihat ke arah jam dinding yang terus berputar.
Yudha sengaja tidak memenuhi permintaan Nara. Bukan karena tidak cinta hanya saja dia tidak ingin merasakan sakit lagi. Sakit melihat Nara pergi dan entah kapan akan kembali. Biarlah Nara membenci dia.
Yudha telah melepaskan Nara dan berpikir Nara berhak bahagia walau tidak bersamanya.
Setelah Nara pergi, cobaan hidup Yudha belum juga berakhir. Seseorang yang tidak tahu siapa, mengirim kepada ibu di kampung foto-foto Yudha saat bercinta dengan Tante Olivia. Sebuah surat bertuliskan tulisan komputer turut menyertai foto tersebut. Pada surat itu semua diceritakan tentang kerjaan Yudha saat itu.
Seketika ibu kena serangan jantung. Dia terjatuh di rumah dan tidak ada yang tahu. Karena memang tinggal sendiri. Sehari setelah itu baru tetangga tahu bahwa ibu telah meninggal di dalam rumah. Mereka heran tidak melihat ibu keluar rumah. Takut terjadi apa-apa mereka mendatangi rumah ibu. Ternyata Mereka sudah menemukan tubuh kaku ibu di atas lantai dengan foto tidak senonoh Yudha masih tergeletak tidak jauh dari ibu.
Tetangga melihat dan membaca isi surat tersebut. Begitu juga bapak kades sehingga mereka menyimpulkan bahwa itulah penyebab kematiannya.
Yudha terkejut setelah salah seorang temannya di kampung menghubunginya dan menyampaikan kabar duka tersebut.
"Bisa tunggu aku sampai baru dikuburkan?" tanya Yudha saat itu.
Ternyata sudah tidak bisa lagi, takut tubuh ibu membusuk. Karena ibu sudah meninggal sehari yang lalu.
Setelah Yudha sampai di kampung, Yudha hanya bisa mendapati makan ibu yang masih basah. Dia tidak bisa melihat wajah malaikat tak bersayap itu untuk terakhir kali.
Setiap Yudha lewat, para tetangga berbisik-bisik menceritakan foto dan isi surat itu. Hingga akhirnya teman Yudha datang dan membawa foto serta surat kaleng tersebut. Betapa terkejutnya Yudha dan merasa bersalah. Dia berpikir bahwa dialah yang membunuh ibu secara tidak langsung.
Tidak tahan dengan gunjingan tetangga, setelah tahlilan tiga hari selesai, Yudha pergi dari kampung tersebut dan berusaha melupakan kenangan dia dan orang tuanya serta dia dan masa kecilnya.
Setelah dia hancur lebih parah, tidak ada seorangpun yang namanya teman. Aron yang sudah dianggap sebagai sahabat perlahan mulai menjauh.
Ternyata teman itu bukanlah dia yang ada di saat kita senang. Teman adalah orang yang selalu setia di sisi kita walaupun kita sedang terpuruk. Seperti pertemanan Yudha dan Ilham. Mereka sangat jarang bertemu, hanya bertukar kabar lewat WA. Namun, saat dia mendengar kabar bahwa ibuknya Yudha meninggal. Ilham menyempatkan diri pulang dari perantauan untuk menemui Yudha.
__ADS_1
"Semua orang punya masa lalu. Ayo bangkit! Kami hanya beruntung bahwa aib kami tidak dibuka oleh Allah," ujar Ilham saat menemani Yudha termenung sendiri di rumah yang sepi.
"Kehilangan orang tua, kehilangan istri. Rasa ya aku ndak kuat," sahut Yudha dengan tatapan nanar.
"Kau suami hebat, Yudha. Kau lepaskan Nara demi impian dia. Kau biarkan hati kau terluka demi dia bahagia." Ilham mencoba menghibur Yudha.
"Bagaimana kalau kau ikut aku! Bantu aku jualan nasi goreng!" ajak Ilham. Dia bermaksud agar Yudha tidak lama-lama terpuruk dalam kehancurannya.
Di perantauan tersebut, Ilham ternyata seorang pengusaha nasi goreng sukses. Dia telah memiliki beberapa cabang warung nasi goreng. Mulai dari situ Yudha belajar mencari uang halal.
Setahun berlalu, perjalanan yang hampir memakan waktu dua puluh jam lebih telah ditempuh kembali oleh Nara.
Nara menghirup udara tanah air, walaupun tidak asri lagi. Akan tetapi inilah yang dia rindukan selama setahun di negara orang demi mimpi Nara. Setelah melakukan operasi dan bermacam terapi akhirnya Nara bisa berbicara seperti orang normal lagi.
"Non Nara!" teriak Ayu sambil melambaikan tangannya saat dia melihat Nara dari terminal kedatangan.
Nara membalas lambaian tangan Ayu dan berlari mengejar Ayu.
"Ayu apa kabar?" tanya Nara.
"Ya, Allah. Ayu senang sekali, Non." Langsung Ayu memeluk Nara.
Jalan-jalan sudah banyak berubah, dalam waktu satu tahun, sudah lumayan banyak bangunan baru.
Tiba-tiba Nara teringat akan keberadaan Yudha. Walaupun Yudha sudah menjatuhkan talak kepadanya. Nara ingin sekali bertemu Yudha untuk sekedar mengucapkan terima kasih. Mungkin, jika malam itu dia tidak bertemu Yudha, mungkin sampai saat ini dia hanya menjadi wanita pemuas nafsu lelaki hidung belang.
"Kenapa, Nara? Tiba-tiba melamun?" tanya Nenek kepada Nara yang dari tadi memandang ke arah luar jendela.
Nara sadar, tidak mungkin dia berkata jujur. Akhirnya dia berbohong dengan mengatakan bahwa dia sedang melampiaskan rasa rindu pada tanah air.
"Ya, sudah. Besok pergi dengan Ayu jalan-jalan, wisata kuliner. Sudah satu tahun tak merasakan makanan Indonesia, bukan?" ujar kakek.
Tentu saja Nara menyambut gembira. Nara dan Ayu saling beradu tepuk.
__ADS_1
Sehari setelah Nara tiba. Dia langsung mengajak Ayu keluar rumah. Dia punya satu tempat yang harus dia tujuh.
"Kita naik motor aja, ya, Yu!" ajak Nara.
"Mobil kamu ada, kenapa nggak naik mobil aja?" tanya Om Kenny dengan tatapan penuh curiga.
"Nggak enak, Om. Nggak bisa begitu menikmati."
Nara tidak bisa mengendarai motor, karena selama ini Nara tidak pernah diajari cara mengendarai motor. Ayu mengikuti saja kemana arah yang Nara tunjuk.
Ternyata tujuan utama Nara adalah rumah kontrakan dia dan Yudha setahun yang lalu.
"Kami pernah tinggal di sini, Yu," ujar Nara setelah mereka menghentikan motornya di depan rumah.
Nara memberanikan diri mengetuk pintu, berharap Yudha masih tinggal di sini.
"Cari, siapa, Mbak?" Seorang wanita seumuran Nara keluar dari dalam rumah.
"Apa di sini masih rumahnya Mas Yudha?" tanya Nara penuh hati-hati.
"Bukan. Mungkin orang yang Mbak cari sudah lama pindah dari sini," sahut wanita tersebut.
Betapa berdosanya Nara, karena di dalam hatinya, telah menuduh wanita tersebut istri baru Yudha.
"Coba tanya ibu kontrakan! mana tau dia tahu kemana pindahnya orang yang Mbak cari," saran wanita penghuni baru rumah tersebut.
Betapa terkejutnya pemilik kontrakan melihat Nara yang sudah bisa bicara. Belum Nara bertanya keberadaan Yudha. Ibu kontrakan langsung mengatakan apa karena mengantar Nara keluar negeri makanya Yudha menghilang begitu saja.
Tidak ada yang tahu bahwa Yudha dan Nara telah bercerai.
"Yudha apa kabar? Kok kesini nggak sama Yudha?" tanya ibu pemilik kontrakan.
Nara terpaksa bersandiwara, mengatakan Yudha kerja.
__ADS_1
Nara dan Ayu saling tatap. Setelah mengetahui bahwa Yudha telah pergi begitu saja . Kemana mereka akan mencari Yudha lagi?
Ibu kontrakan memberi sekantong pakaian yang ditinggalkan Yudha begitu saja.