
Dalam Diamnya Nara
Bab 6
Sementara Aron memperhatikan Yudha dan Nara tanpa bersuara. Nara bangkit dan berjalan mundur ke arah kamar. Mungkin dia takut kelihatan bercak darah datang bulannya.
"Dia, kok, gitu ngomongnya?" tanya Aron setelah Nara benar-benar masuk ke dalam kamar.
"Bisu," jawab Yudha.
"Ha?"
"Biasa aja kau!" Yudha mendorong wajah Aron yang jaraknya hanya sejengkal dengan wajahnya.
"Eh, jangan bilang mami, ya, dia ada disini!" mohon Yudha.
"Jadi …?" Aron membalas mendorong kepala Yudha.
Mereka sudah dalam masalah besar.
"Kasian aku, udahlah dia bisu. Dijual pula dengan Abang tirinya," jelas Yudha.
Yudha menjatuhkan badannya di atas sofa dengan punggung tersandar.
"Tapi kau dalam cari masalah namanya," bentak Aron. "Balikan dia ke mami atau biarkan dia hidup sendiri!"
Tanpa mereka sadari, Nara mendengar pembicaraan itu.
"Dia nggak ada siapa-siapa dan nggak tau kota ini," Yudha mencoba meyakinkan Aron.
"Sebenarnya itu bukan urusan kau. Yang menjadi urusan kau, nyawa kau terancam. Mirip nggak tau mami saja."
"Ah,sudahlah!" Yudha mengakhiri saja perdebatan yang tidak ada ujungnya itu.
Dia kesal saja saat Aron menyuruhnya membiarkan Nara hidup di kota Besar ini sendirian.
Yudha bangkit dari duduknya, dia ingin memanggil Nara karena perutnya sudah lapar. Namun, saat dia berbalik ke belakang, ternyata Nara sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sudah lama di situ?" tanya Yudha dengan sedikit kikuk.
Nara tersenyum lalu menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku lapar. Bisa tolong buatkan mie rebus?" Masih dalam suasana kikuk."Kau mau mie rebus?" tanya Yudha kepada Aron.
"Mau, mau," jawab Aron penuh semangat.
"Tolong buatkan dua,ya!" ujar Yudha.
Nara pun menuju dapur membuatkan mie rebus permintaan Yudha. Sesekali Yudha melirik ke arah dapur, terlihat Nara sesekali mengernyitkan keningnya. Mungkin sakit karena datang bukannya belum hilang.
"Woi!" Suara Aron mengejutkan Yudha yang asik melirik ke dapur.
"Terkejut aku, se ta n," maki Yudha.
"Sudah berapa lama kau sembunyikan dia?"
"Hampir dua Minggu," jawab Yudha tanpa beban. "Nggak ada yang tau kalau nggak dikasih tau." Yudha melirik ke arah Aron.
"Kau kira aku ini ember, set*n?" Sekarang giliran Aron yang memaki Yudha.
Perang makian mereka berhenti saat ponsel Yudha berbunyi, ternyata tidak lain dan tidak bukan merupakan panggilan video call dari Tante Olivia.
Padahal baru tadi pagi berkencan, malam ini minta ditemani lagi. Kalau saja dia tidak tambang uang, sudah malas Yudha menemuinya.
Yudha cepat memberi tanda agar Nara berhenti saat dia akan mengantar dua mangkuk mie rebus. Nara yang bisa, tentu mengerti saja bahasa isyarat. Dia meletakkan mie di atas meja makan dan pergi ke dapur mencuci perkakas yang digunakan tadi.
"Dimana mangkok, Yud?" teriak Aron.
"Di laci meja kompor," sahut Yudha yang masih asik video call.
Menanyakan mangkok ternyata hanya alasan bagi Aron untuk berbicara kepada Nara.
"Nara!" sapa Aron saat dia sudah berdiri di sisi Nara.
Nara menggerakkan mulutnya seolah sedang bertanya "apa"
"Bagus kau pergi aja, kau jauhi Yudha. Aku tau kau dan Abang kau—Andi itu hanya sandiwara." Kini Aron menyandarkan tubuhnya di meja kompor. "Kau mau memanfaatkan kebaikan Yudha, bukan?" sambung Aron dan dia juga menatap Nara penuh kebencian.
Nara menggeleng, dia berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat bahwa yang dituduh oleh Aron itu tidaklah benar.
"Kau kira aku ini Yudha, dengan gampang kau bohongi?" Suara Aron pelan tetapi, penuh penekanan.
Aron juga tidak segan-segan mendorong kepala Nara.
__ADS_1
"Kau ambil mangkok apa bikin mangkok?" teriak Yudha dari ruang tengah.
Mendengar teriakan Yudha itulah membuat Aron berhenti mengintimidasi Nara.
Setelah pukul tujuh malam, Yudha dan Aron pergi. Sebelum keluar rumah, Yudha menemui Nara di kamar nya. Selama Aron di rumah, Nara tidak berani keluar kamar.
Tadi sore saja, saat dia melewati Yudha dan Aron, Nara hanya tertunduk. Dia sangat takut kepada Aron.
"Aku nanti pulang malam atau mungkin nggak pulang. Kalau mau tidur, tidur aja. Kunci rumah aku bawa," jelas Yudha kepada Nara. Yudha merasa dia sedang berbicara kepada adiknya.
Nara mengangguk dan menuliskan kata. Hati-hati.
"Terima kasih," sahut Yudha.
Yudha keluar kamar dan menyusul Aron yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Ngapain kalian lama kali?" ceplos Aron.
"Maklum lah, bicara sama Nara harus pakai tulis. Jadi nunggu dia nulis dulu," terang Yudha.
"Aku takut mami tau dan kau dalam bahaya besar. Kau antar aja dia ke terminal, suruh dia pulang!" suruh Aron .
"Sudahlah, jangan bahas itu dulu!"
Nara mengintip dari balik jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan halaman depan. Dia sangat takut pada Aron, dia juga takut Aron berhasil menghasut Yudha untuk membuang Nara.
Sepanjang malam Nara tidak bisa tidur, berkali-kali dia melirik jam di dinding kamar lalu mengintip keluar jendela tetapi, tidak ada tanda-tanda Yudha pulang. Padahal sekarang sudah pukul dua dini hari.
Hingga pukul tiga dini hari di saat Nara mulai tertidur, dia kembali tersentak oleh bunyi pintu pagar dibuka dan deru mesin mobil memasuki pekarangan rumah. Nara tidak berani keluar kamar. Dia hanya mengintip dari balik jendela.
Dengan jelas dia melihat seorang wanita paru baya tetapi, masih sangat cantik turun dari mobil. Dia memutar dan membuka pintu mobil sebelahnya. Saat Nara melihat Yudha turun dari mobil dengan oyong, berjalan pun sudah tidak lurus lagi. Sepertinya dia sudah mabuk berat.
Ingin rasanya Nara keluar kamar dan menolongnya. Akan tetapi, dia teringat kata-kata Yudha yang melarang dia kelaue kamar jika ada orang ke rumahnya kecuali Aron.
Nara masih mendengar, pintu depan dibuka. Lalu suara orang melangkah ke dalam kamar. Nara berlari ke belakang pintu kamarnya agar dia bisa mendengar lebih jelas. Suara kami itu mendekati kamar Yudha yang posisinya di sebelah kamar Nara.
Tante Olivia membawa Yudha ke kamar. Yudha yang sedang mabuk membuat nafsunya tinggi. Saat di dalam kamar dia menarik Tante olive sehingga jatuh di atas dada Yudha.
Tante Olivia tidak tahu bahwa ada orang lain selain Yudha di rumah ini sehingga dia tidak menahan desahannya. Dia mendesah dan berteriak memakan ruangan hingga ke kamar Nara.
Nara memang tamatan sekolah dasar, tetepi, dari kecil dia bekerja dan bertemu orang banyak sehingga dia mengerti apa yang terjadi di kamar sebelah.
__ADS_1
Sebulan sudah Nara tinggal bersama Yudha, dalam diamnya Nara dia bisa menyimpulkan perkerjaan Yudha yang sebenarnya. Pekerjaan kantor, yang dia lakukan setiap pagi berangkat kerja tersebut, Nara juga sudah tahu bahwa itu bohong.
Apapun profesi Yudha, bagi Nara, Yudha adalah pahlawannya. Karena Yudha sudah membebaskannya dari sarang dosa.