
Hari ini melelahkan. Kepergian kakaknya cukup membuat perasaan Abigail kesepian, dia juga menjadi merindukan kampung halamannya yang amat berbeda dengan orang-orang disini.
Lalu mengenai dia dan Karan semuanya terdengar baik-baik saja. Tak ada lagi rumor buruk mengenai hubungan mereka, akibat mereka yang sering menunjukan kebersamaan sehingga keyakinan mengenai kedamaian akan semakin berlanjut.
Abigail tengah menikmati tehnya seorang diri, di teras dekat kamar tidur. Meski dia tampak tenang, namun pikirannya begitu rumit. Dia masih memikirkan dalang dari orang yang menggunakan Hominem, Abigail merasa akan terjadi hal besar yang mungkin mempertaruhkan nama baik Dark Kingdom.
"Penggunanya orang Lumenia, jadi dalangnya kemungkinan orang Dark Kingdom, atau mungkin orang Lumenia yang ingin mepropaganda?!" Jemari Abigail sibuk mengetuk-ngetuk meja.
Abigail menghela napas, dia menatap mentari yang mulai tengelam. Rasanya hal-hal rumit akan mengusiknya dalam waktu dekat. Seandainya ini memang propaganda dari pihak yang tak menyetujui perdamaian ini. Kedepannya akan sangat bahaya.
Abigail lantas melihat orang-orang di bawah, tersenyum ceria, bercanda gurau, tak ada wajah ketakutan dan kecemasan. Baik itu pelayan, kesatria, dan bangsawan yang berkunjung di sekitaran istana. Jika propaganda itu berhasil maka senyum itu akan menghilang dan kembali menjadi lautan darah dan situasi mencekam yang menakutkan. Abigail bahkan tak mampu membayangkan hal-hal mengerikan kembali terjadi.
Tampak Karan yang baru saja kembali dari urusan mengunjungi lumbung pangan. Bulan ini panen sangat luar biasa. Itu akan mencukupi untuk orang-orang kingdom untuk beberapa hari mendatang. Lalu kebetulan mata Abigail dan Karan bertemu. Karan menghentikan langkahnya. Abigail tersenyum manis sembari mengangguk pelan. Dengan begitu Karan kembali melangkah memasuki istana.
Karena demi menunjukan bahwa mereka pasangan suami istri yang harmonis dan menghindari asumsi-asumsi publik. Karan dan Abigail selalu tidur bersama, meski tak melakukan hal-hal semacam suami istri.
Kriet..
Pintu terbuka dan Karan masuk ke dalam. Dia menghampiri Abigail yang masih duduk di teras. Dahinya mengernyit saat melihat Abigail hanya menggenakan gaun tipis dengan bagian dada yang terlihat jelas. Karan melepaskan jasnya lalu memasangkannya pada Abigail "Di luar dingin, mari masuk" bisiknya.
Abigail melirik ke bawah, orang-orang melihat mereka. Abigail tersenyum, sembari mengangguk.
__ADS_1
"Bagaimana kunjungan mu?"
Karan melepas kancing bajunya "semuanya berjalan lancar. Kedepannya rakyat tak akan kelaparan. Lalu besok kami akan membagikan beberapa hasil panen. Juga kamu harus ikut, menunjukan dirimu pada rakyat bersama dengan ku!!" Karan melepas kemeja putihnya.
Abigail mengerti. Menunjukan diri itu penting, bagi raja dan ratu bukan hanya citra tapi demi kepercayaan rakyat. Terlebih Abigail ratu yang berasal dari Dark kingdom. Masih banyak orang-orang yang menganggap nya orang jahat. Demi perdamaian lancar maka dia perlu menunjukan kebaikan dirinya, dan secara langsung menunjukan keharmonisan hubungan dengan suaminya, membuat orang-orang semakin percaya bahwa perdamaian tak akan pernah hancur.
"Baiklah" Abigail mendongak, dia membelalak melihat Karan yang bertelanjang dada. Tubuhnya di penuhi dengan bekas-bekas luka. Itu hal wajar mengingat pertarungan sengit yang terjadi.
"Jangan melihat tubuhku seperti itu. Aku tau luka ini sangat menganggu" kata Karan sembari menyibak kasar rambutnya. Dia memang sengaja menunjukannya karena ingin tau respon Abigail saat melihat tubuh suaminya yang tak mulus.
Abigail menatap datar Karan "Apa karan pikir di situasi yang terus bertempur. Memiliki tubuh mulus adalah keharusan?" Abigail dengan berani juga melepas gaunnya, dan hanya terlihat rok ********** saja.
"Aku juga memiliki bekas luka. Meski tak sebanyak anda. Aku beruntung karena kakak saya seorang penyembuh. Hanya saja tak semua luka benar-benar bisa sembuh dan tak berbekas" ucap Abigail murung.
"Jadi Karan tak perlu berkecil hati" Abigail tersenyum manis, bahwa dia tak sendiri dengan tubuh yang penuh goresan luka.
Karan dengan cepat memaksa Abigail menggunakan pakaiannya lagi "Kamu dengar tak boleh sekalipun kamu melepas bajumu seperti ini sembarang pada pria lain!!" tekan Karan.
"Karan suami saya. Bukankah tidak masalah?" ucap Abigail polos.
Karan mengepal kuat jemarinya. Awalnya dia hanya ingin bersikap hangat seperti yang dia rencanakan. Agar tak ada keraguan bagi keluarga Dark Kingdom dan perjanjian perdamaian akan terus terjadi, lagi pula dia tak akan dirugikan jika sedikit perhatian. Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini dia menjadi gundah. Dadanya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya, terlebih saat bertemu dengan Abigail. Kadang Karan merasakan apa mungkin Abigail menggunakan suatu sihir aneh sampai-sampai dia seperti ini?.
__ADS_1
Wanita polos yang dengan sok berani memberanikan memberikan tubuhnya pada pria musuh. Tapi, mata Abigail yang kosong saat memberikan dirinya malah membuat Karan kesal. Itu menunjukan bahwa sebenarnya Abigail melakukannya tanpa perasaan dan hanya karena itu sebuah keharusan. Karan sendiri tak masalah jika memang perlu berhubungan semacam itu. Toh, sekarang mereka sudah suami istri. Tapi, dia menjadi ragu dan marah saat tatapan kosong itu di tunjukan oleh Abigail. Namun, hal-hal intim semacam itu tak bisa terus diabaikan, karena bagaimanapun dia pasti akan dituntun memiliki keturunan secepatnya. Penerus diperlukan dan memiliki anak diantara keduanya akan semakin menguntungkan. Bahwa penyatuan ini benar-benar berjalan baik.
Lalu Karan juga tak pernah mengencani wanita. Dia menjadi kesulitan hal apa yang harus dilakukan agar wanita menjadi nyaman dan dia juga tak mengetahui hal-hal yang benar dilakukan oleh sepasang suami istri. Karan selalu sibuk dengan pertarungan dan usahanya agar Kingdom Nya tetap berdiri, dia tak pernah memiliki kesempatan atau tertarik dengan wanita.
Abigail menatap datar Karan, dia berkata "Jikapun anda tak berniat memiliki anak dariku-, ku pikir aku bisa mengerti. Aku tau kekhawatiran Anda mengenai darah kegelapan dan cahayamu tak mungkin bisa disatukan. Anda pasti berpikir darah dari saya akan menghancurkan dan mengotori darah keturunan anda"
Sorot mata Karan tajam, dia mencengkeram pundak Abigail kuat "Bagaimana bisa anda berpikiran semacam itu. Sedikitpun tak terbesit pemikiran semacam itu di benakku. Darah mengotori apa? huh, jadi kau memikirkan semacam itu?"
Abigail tertunduk. Karan menyadari karena penolakannya itu yang membuat Abigail berpikiran semacam itu.
Karan menatap lekat-lekat wajah Abigail yang sungguh menawan. Tangannya menyentuh dagu Abigail "tatap mataku" suruhnya.
Abigail melakukannya, dia menatap lekat-lekat mata Karan. Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibir manis Abigail.
Abigail membelalak terkejut dengan ciuman tiba-tiba yang Karan lakukan padanya. Lalu tangan Karan menarik pinggangnya mendekat.
"Aku tak berpengalaman tapi ku harap kau akan merasa puas" ucapnya berbisik.
Abigail tampak kebingungan. Dia juga menyentuh bibir yang baru di kecup Karan.
Karan kembali melepaskan pakaian Abigail. Lalu menjamah bagian-bagian lainnya. Dan dia dengan pelan meletakan Abigail dengan hati-hati ke kasur. Karan berada diatas Abigail dan dengan lembut mengecup bagian lehernya.
__ADS_1