Dark Kingdom

Dark Kingdom
Pesan untuk Nikalos


__ADS_3

Burung gagak pembawa pesan telah datang, hinggap tepat di lengan pemiliknya~ Nikalos Basilio, 28 tahun.


Nikalos tertunduk setelah membaca jawaban dari adik nya. Dia mendongak pelan terkekeh "Dia benar Abigail ku" dia memeluk kertas jawaban Abigail lembut.


Nikalos tersenyum puas, dia sudah menebak adik kecil nya itu tak akan mundur jika sudah memilih jalan nya.


Rambut hitam dan mata merah, Nikalos dan Abigail sangat mirip bagai pinang di belah dua, wajah rupawan yang begitu menyejukkan hati.


"Kau menyeramkan" Ayah nya menatap nya jijik.


"Aku tak akan memberi tahu jawaban dari adik kecil ku" tekan Nikalos, menyembunyikan kertas jawaban Abigail.


"Katakan" tekan Coridan kesal.


"Tak- akan!!" Nikalos menggeleng.


"Berhenti bersikap kekanakan Nikalos" Tegas Coridan.


"Ini hanya candaan, Ayah selalu serius" gerutu Nikalos kesal.


Coridan mengerutkan kening tak membalas ucapan Nikalos. Dia hanya penasaran dengan jawaban dari putri nya.


Nikalos menghela napas, dia kemudian melanjutkan "adikku menolak tegas"


"Sudah kuduga" Coridan terdiam berhenti menyelesaikan dokumennya.


Nikalos menatap Ayah nya yang gusar, terselip rasa bersalah yang amat besar dalam diri Ayah nya.


__


"Ayah, Abigail sudah bisa menggunakan sihir" Abigail menunjukan sihirnya dengan begitu gembira pada sang Ayah.

__ADS_1


Saat itu Abigail berusia lima tahun, dia anak yang cerdas, dan belajar dengan cepat. Itu pertama kalinya dia mampu menggunakan sihir pemanggil Erebos. Jujur saja saat itu Coridan sangat terkejut. Dia sangat berharap Abigail tak bisa menggunakan sihir maka dia tak perlu ikut dalam pertempuran.


Namun, Abigail malah semakin tertarik dengan sihir. Coridan sangat membenci itu, karena hal itu dia  bersikap dingin pada Abigail berharap Abigail akan berhenti menggunakan sihir. Cukup Nikalos yang bergabung dalam medan tempur jangan lagi putri kecil nya. Melihat Nikalos yang berusia muda sudah berada di medan tempur menyayat hari Coridan, tidak lagi seorang gadis kecil bergabung.


Abigail dan Ayah nya semakin berjarak, Ayah nya ingin mendekat namun Abigail tumbuh dengan cepat, dia mulai memilih jalannya dan semakin tak tergapai lagi.


Genap di usia Abigail yang ke delapan tahun, saat itu Asteria Amelia Basilio terbunuh di pertempuran. Bahkan saat itu Coridan tak bisa bersedih untuk istrinya, bukan hanya dia semuanya tak ada waktu meneteskan air mata untuk orang-orang yang terbunuh.


Kekuatan melemah di sayap kanan, pemimpin terbunuh membuat pasukan menjadi kacau. Saat itu Abigail dengan berani mengambil alih dan saat itu pula Coridan merasa sebagai Ayah, suami, sekaligus seorang raja tak berguna. Senyum cerah putrinya tak pernah tampak lagi, dia sibuk di medan perang tanpa menoleh ke arah nya, sibuk memperkuat dirinya tanpa peduli sakit yang dia rasakan. Putranya Nikalos Basilio sendiri sudah menjadi pemimpin sayap kiri di usianya yang ke 9 tahun.


Betapa takut nya dia saat itu, kedua anak nya berada di medan tempur. Entah kapan nyawa mereka akan hilang, hari-hari menjadi tak tenang. Berusaha kuat melawan dan menghabisi lawan. Dia sendiri memimpin pasukan ekor, memberantas lawan kuat dan berpengaruh. Berharap kedua anak nya mampu melewati kematian di bawah lindungan dewa, tak hentinya dia memohon. Berkali-kali dia hampir mati, tapi berkali-kali keberuntungan berpihak padanya. Bukan!! tapi dia selalu berusaha agar tetap hidup. Semuanya demi kedua anak nya. Jika dia sampai mati di medan tempur, dia tak ingin membebani kedua anak nya dengan kesulitan yang tak berujung.


Setelah mereka berada di medan perang dalam waktu lama, barulah mereka berkumpul untuk pertama kalinya. Nikalos berusia 22 tahun dan Abigail berusia 17 tahun, mereka berdua tumbuh dewasa dalam medan perang, berkumpul  pun untuk membicarakan masalah pertahanan. Rasanya air mata Coridan ingin menetes, ingin berlari memeluk mereka, dan berterimakasih karena masih hidup sejauh ini. Namun, sebagai raja dia harus mampu menyembunyikan segala rasa sakit dan rindunya bersamaan.


Nikalos tumbuh dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya, itu cara Nikalos bertahan dalam pelik pertempuran, seakan-akan senyuman memenangkan segalanya dan Abigail tumbuh tanpa senyum nya, seakan tanpa senyum nya dapat membunuh musuh nya.


___


Kedua kingdom bertempur di hutan Xanax yang menjadi perbatasan dari kedua kingdom.


~ Kepala


Bagian pertahanan pusat yaitu Dark kingdom itu sendiri. Berisi rakyat di dalamnya dan dijaga ketat. Mereka di lingkari oleh sayap kiri, sayap kanan, dan ekor.


~ Sayap kiri dan Sayap kanan


Sayap kiri dan sayap kanan bergerak bebas dengan posisi sebagai pengatur yang sedikit heroik. Sayap kiri pengamat yang baik, sedangkan sayap kanan terampil dalam membuat sesuatu pertahanan seperti Erebos.


Sayap kanan dan sayap kiri juga bertugas mengawasi penyusup, penyusup di sini tak sembarang karena jumlah mereka banyak dan mereka harus menghabisi sebelum mereka berhasil melewati hutan Xanax dan memasuki wilayah Dark kingdom. Tak jarang berakhir dengan bertempur.


~ Ekor

__ADS_1


Bagian pertahanan utama yang paling penting, mereka berusaha menahan musuh di perbatasan hutan Xanax dimana mereka bertemu  dengan lawan yang berpengaruh, yaitu bertempur nya masing-masing Raja dari kedua kingdom. Pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi penyapu terakhir.


___


"Hey Ayah" Nikalos menatap Ayah nya dalam.


Ayah nya terperanjat, seketika tersadar dari lamunan.


"Berhenti memikirkan masa lalu, semuanya telah terjadi" tegas Nikalos.


"Jangan merasa bersalah" ucap Nikalos, dia berusaha menenangkan Ayahnya yang kembali menyalahkan diri, sebagai raja yang tidak becus.


"Adik kecil ku bukan wanita sembarang, dia dulu dan sekarang wanita yang hebat" Nikalos menatap langit, tatapan nya sendu.


Coridan beranjak dari duduk menghampiri Nikalos "Ayah tahu, kalian anak yang hebat" ucapnya, mencengkeram pundak Nikalos kuat.


"Sejujurnya aku tak setuju menggunakan Abigail sebagai bentuk perdamaian, mungkin di lubuk hatinya dia membenciku" Coridan tertunduk.


"Tapi aku tak punya cara lain" Rasanya Coridan tak bersemangat.


"Aku berusaha agar anak-anak ku tak mendapat kesulitan yang tak berujung, rupanya aku tidak bisa. Ah, mungkin jika Ibumu tau Abigail digunakan sebagai alat perdamaian dia akan membunuhku" suara Coridan bergetar. Dia sungguh membenci posisi dirinya yang harus menyerahkan putrinya.


"Terimakasih telah memikirkan kami sejauh itu, berhenti merasa bersalah Ayah. Lalu Ibu ku pikir dia akan mengerti"


"Abigail tak membencimu Ayah, aku sangat yakin" Nikalos berusaha menenangkan Ayah nya lagi dan percaya bahwa adiknya sebelum setuju telah memikirkannya matang-matang.


"Terkadang kita harus merelakan hal yang berharga untuk hal yang berharga lainnya. Walaupun itu pait dan sangat sulit melepaskan, manusia tak lekang dari sikap egoisnya" Nikalos mengepal erat jemarinya.


"Maafkan aku adik kecil" gumam Nikalos.


Langit mendung, dengan hujan yang turun lebat. Bagai ikut bergabung dengan kesedihan mereka. Sesekali gemuruh melengking hebat dengan sambaran kilat yang menyambar tak menentu. Bagai hati yang resah tak tahu ke mana arah nya.

__ADS_1


__ADS_2