Dark Kingdom

Dark Kingdom
Menunjukan diri pada rakyat


__ADS_3

Abigail bersiap untuk ikut bersama membagikan hasil panen pada rakyat, guna mensejahterakan.


Syafa yang sibuk mendandani Abigail tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona. Saat dia membantu menggunakan pakaian Abigail tadi, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tanda kecupan. Karena hal itu sekarang Abigail harus menggunakan pakaian yang menutup bagian dada hingga lehernya.


Abigail sangat yakin dengan menunjukan hal semacam itu pada Syafa. Kedepannya akan terdengar rumor bahwa hubungan Raja dan Ratunya kian membaik. Hal, itu akan menutup beberapa para pembenci yang terus berkoar tak ingin perdamaian dan orang-orang yang tidak menyetujui dirinya sebagai Ratu akan bungkam untuk beberapa waktu. Dan itu memang tujuan awal Abigail, semuanya sesuai dengan rencananya.


Abigail didandani dengan sederhana. Itu permintaan Abigail sendiri. Sebagai ratu dia harus pandai memposisikan diri, agar tak mencolok atau dengan sengaja terlihat glamor disaat ekonomi yang tak stabil.


Lalu diluar dia telah ditunggu oleh Karan. Abigail menatap wajah Karan lekat dan kejadian semalam kembali terngiang. Namun, dengan cepat Abigail menepis pikirannya. Setidaknya dengan melakukan hal itu dia telah diakui, dan itu merupakan suatu kehormatan sebagai seorang istri.


Mereka duduk di kereta kuda saling berhadapan dan dengan pikiran mereka masing-masing.


"Mm, apa kamu baik-baik saja?" ucap Karan memecah keheningan.


"Ya" jawab Abigail meski sebenarnya tubuhnya sakit karena semalam, tapi Abigail tidak suka mengeluh.


Abigail memandang keluar jendela kereta. Beberapa warga yang melihat kereta berlambang burung merpati dengan kereta putih yang elegan, bergegas mendekat dengan antusias.


Kereta berhenti, saat mereka turun disambut dengan hangat oleh para warga. Tapi, mereka terlihat sangat tertib. Abigail berusaha ramah, dia yang sebenarnya tak terbiasa memperlihatkan senyumannya. Namun, semenjak diputuskan menjadi Ratu di negeri musuh demi tercipta perdamaian, dia harus berusaha keras untuk terus menunjukan senyumnya.


"Heh, itu kakak" ucap anak-anak yang berlarian menuju Abigail.


Mereka langsung memeluk Abigail. Meski Abigail harus berpura-pura ramah, tapi dengan anak-anak ini perlakuan nya tulus.


"Berhenti memanggilnya kakak. Sekarang dia Ratu kita" bisik patra pada Lily.

__ADS_1


Lily mengangguk, lalu mereka semua memberi salam dengan sopan.


"Kalian tidak perlu bersikap berbeda. Aku lebih suka kalian sebelumnya" ucap Abigail, dia tak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Hey, yang mulia. Apa-, apa anda benar menyimpan bunga ku kemarin?" ucap Varus yang tampak malu-malu.


Abigail menatap Varus yang terlihat lebih berani dari sebelumnya. Kemudian Abigail memberikan anggukan.


Patra, Lily, dan Tama berlarian entah apa yang mereka cari. Namun, setelahnya dia datang kembali dengan membawa setangkai bunga yang mereka petik.


"Mm, kami juga ingin anda menerima bunga kami" tama menyodorkan bunga yang baru dipetik nya pada Abigail, diikuti oleh Patra juga Lily.


Abigail tampak terkejut, dia menerima bunga itu dengan senang hati "Ini sangat cantik. Aku menyukainya"


Anak-anak itu tersenyum cerah.


"Yang mulai, apa anda mendengar saya?" tanya kesatria yang tengah berbincang dengan Karan.


"Ah, kau bisa ulangi" Karan kembali fokus berbincang dengan kesatria nya.


Hasil panen mulai dibagikan, para warga sangat tertib dan tak ada yang berebut mengingat mereka yang senasib membuat mereka menjadi tak arogan atau mementingkan dirinya sendiri. Meski tetap ada beberapa pihak yang mengacau, dengan lidah tajamnya.


"Oh, itu Ratu kita dari Dark Kingdom. Sebenarnya aku tak setuju dengan rencana perdamaian terlebih meminang seorang wanita dari musuh bebuyutan. Bukankah aneh, dia memiliki darah iblis. Jika keturunan raja yang bersih dan suci memiliki anak maka darah iblis itu akan tercampur dengan darah suci sang raja kita"


"Kau benar. Meski Ratu kita terlihat cantik, tapi aku curiga dia menggunakan sihir jahat agar orang-orang mengagumi dirinya"

__ADS_1


"Aku jadi bergidik. Bagaimana jika bagian pangan yang dibagikan nya berisi sihir jahat?"


"Bisakah kita mempercayai Ratu itu. Mengingat sejarah kelam yang terjadi?"


Segerombolan orang-orang berbisik, tapi terdengar begitu jelas. Hal semacam itu tak membuat hati Abigail tertusuk. Karena dia tau, hal semacam ini tak bisa dia hindari. Abigail berusaha abai dan tak mau mengusik perbincangan mereka tentang dirinya. Dia hanya perlu mengurusi bagian yang memang perlu dia tangani. Abigail sibuk kembali membagikan pangan pada rakyat lainnya. Anak-anak itu juga ikut membantu Abigail. Benar, meski banyak kebencian untuknya tapi masih ada sedikit harapan. Seperti anak-anak ini yang tulus tak memandangnya sebagai orang jahat dari musuh.


Karan menatap tajam kearah orang-orang yang berbisik. Karan mendengar jelas perbincangan mereka. Dia mendekat "Siapakah iblis disini? dia yang kau cap iblis rela memberikan dirinya ke wilayah musuh yang sudah jelas keamanan untuk dirinya sangat minim. Kepercayaan Dark Kingdom memberikan putrinya sangat besar, jadi hentikan celoteh tak berarti kalian!! jahat atau tidak dia kalian tak berhak mencemooh seperti ini!! tunjukan kebersihan hati kalian sebagai rakyat Lumenia!!" tegas Karan.


Orang-orang langsung tertunduk, mereka takut. Mereka tak menyangka Rajanya akan mendengar dan langsung memberi ultimatum.


Bagi Karan perdamaian ini sangat berarti. Dia tak ingin satu atau dua patah kata dari orang-orang yang tak bersyukur mengusik perdamaian yang telah terjadi.


Mereka membagikannya sampai tengah hari, itupun karena bantuan para kesatria yang ikut membagikan. Matahari terasa hangat dan Abigail tampak senang, ketenangan dan kehangatan semacam ini tak pernah dia rasakan. Sebuah perubahan yang terasa memuaskan, membantu orang-orang, tanpa lagi saling membunuh dan membenci.


Setelah istirahat sejenak, Karan mengajak Abigail untuk berkeliling disekitaran pemukiman rakyat. Dan menunjukan diri mereka. Terlihat rumah-rumah tampak berdiri kokoh, lebih baik dari sebelumnya. Para warga dengan senyum cerahnya membuat hati tersentuh.


Abigail juga berharap Dark Kingdom akan setenang ini dan penuh dengan senyum cerah. Segala macam kesedihan dan kesengsaraan lenyap.


"Ku harap kamu betah disini?" Karan memecah keheningan.


Abigail menoleh sekejap, lalu wajahnya kembali di palingkan "aku akan berusaha"


"Lalu kamu sungguh baik-baik saja? mengingat semalam untuk pertama kalinya bagi kita. Dan esoknya kau harus ikut kemari. Aku sungguh tak tau situasi" ucap Karan, tengkuk lehernya terlihat merah padam, dia juga terlihat malu.


Mereka berdua benar-benar tak berpengalaman dalam hal berhubungan dengan lawan jenis. Meski begitu Abigail merasa Karan melakukannya dengan lembut.

__ADS_1


"Itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan" jawab Abigail sembari tersenyum, dia benar-benar berusaha agar hubungan ini setidaknya terlihat membaik. Meski ini pernikahan politik, dia berharap tak akan menjadi lebih buruk dari pada terus berada di medan perang.


__ADS_2