
Abigail masih dengan pendiriannya, meski ia sangat lelah ia tetap menunggu kedatangan suaminya. Abigail adalah wanita yang memegang kuat pendiriannya, tidak akan menyerah walaupun ia selelah apa pun. Abigail menggenggam kuat rok piyamanya sembari terus berusaha duduk dengan tegap di kasurnya. Sebenarnya, dalam benak dia marah karena ini penghinaan baginya sebagai wanita yang tak terjamah dimalam pertama.
Brak..
Pintu terbuka, Abigail menoleh mendapati suaminya yang tengah menatap ke arahnya cemas.
Dengan cepat karan berlutut "Maaf. Sedikitpun aku tak berniat mengabaikan mu. Kesibukan yang harusnya ku kerjakan lain waktu tak sengaja terus ku selesaikan. Sampai-sampai melupakan dirimu yang penting ini"
Dalam hal ini. Keduanya memiliki keharusan menunjukan versi terbaiknya. Dan dalam Perjanjian yang tersepakati tidak ada yang boleh saling menyakiti. Dan sebagai gantinya perasaan mereka disini yang menjadi taruhan, karena harus sehidup semati dengan orang yang tak mereka cintai.
Abigail menatap datar Karan "Aku tau situasi ini sangat berat. Tapi setidaknya untuk kedamaian yang telah tersepakati. Maka bertindaklah lebih hati-hati" Ucap Abigail memperingati.
Karan mendongak, dia mengerti. Dan terlihat jelas wajah istrinya begitu pucat tetapi tidak menutupi aura cantik dari wajahnya. Karan mencium kening Abigail lembut, sembari mencium bibir Abigail. Abigail tersenyum akhirnya ia menunggu tidak sia-sia, Abigail langsung terjatuh ke pelukan Karan saking lelahnya dia. Karan meletakan Abigail ke kasur sembari memperbaiki posisi Abigail.
Saling bercengkerama, berciuman itu tradisi yang harus dilakukan oleh kedua pengantin agar tidak mengalami kesialan dan memang harus benar-benar dilakukan. Abigail yang mengetahui tradisi itu tidak mau melewatkannya, ia takut jika ia melewatkannya maka kedua Kingdom akan mengalami kekacauan lagi.
Abigail terbangun setelah tiga hari, bahkan hal itu menggemparkan seisi Kingdom. Perdamaian baru saja terjadi, jika Abigail benar-benar tidak terbangun kemungkinan besar peperangan akan terjadi lagi.
Syafa pelayan yang ditunjuk langsung oleh Karan untuk membantu Abigail berkeliling dan menjelaskan tentang Kingdom yang menjadi rumah baru Abigail sekarang.
Sebelum itu, Syafa menyisir rambut panjang bergelombang milik Abigail. Syafa berdecak kagum melihat warna rambut hitam legam milik Ratunya. Bukan hannya itu, rupa dari sang ratu begitu cantik. Syafa tahu betul bahwa Ratunya bukan sembarang orang, rumor juga beredar bahwa wanita di depannya ini penyihir Dark terkuat. Seketika Syafa menelan ludah, mengingat asal Ratu yang merupakan musuh bebuyutan. Syafa menunduk menyisir rambut ratunya, ia yang tadinya berani menatap wajah Ratu dari cermin mendadak tidak berani.
"Aku tidak ingin melihat wajah murung itu lagi!!" Tegas Abigail, Abigail masih menggunakan nada bicara memimpinnya. Abigail yang sangat lama dalam pertempuran tidak mengerti dengan perubahan sikap dari pelayannya itu. Baginya ketegasan adalah hal yang ampuh membuat pasukan menurutinya.
__ADS_1
Syafa langsung terkejut, ia langsung kembali dengan wajah cerianya walaupun dengan ke kecanggungan.
Karan sibuk mengurusi semua kebutuhan Kingdom pasca peperangan, banyak yang harus ia perbaiki ditambah banyak tumpukan dokumen yang harus segera ia bereskan. Karan juga harus cepat mengurusi semua bentuk perdamaian dengan Dark Kingdom. Untuk itu dia belum sempat menjumpai Abigail yang baru siuman.
Syafa memilihkan beberapa gaun yang baru datang untuk di pakai Abigail, gaun tidak begitu mewah dan terbuat dari kain biasa. Uang harus dipergunakan untuk hal-hal yang jauh lebih penting dari sekedar Gaun. Gaun yang biasa setelah digunakan Abigail menjadi begitu cantik.
Abigail merasa tidak nyaman dengan gaun yang ia gunakan, bertahun-tahun Abigail menggunakan baju Zirah yang berlapis sihir. Begitu kuat dan berat, ketika menggunakan gaun ia merasa tiba-tiba menjadi lemah selayaknya seorang tuan putri. Di tambah kaki tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Ingat tata krama" Seketika ucapan kakaknya terlintas, Abigail dengan buru-buru melupakan niatnya yang ingin melepas gaun dan meminta celana untuk penggantinya.
Abigail keluar dari istana di temani oleh Syafa. Syafa juga menjelaskan hal-hal yang Abigail tidak tahu dan hal-hal yang dilarang. Saat di taman banyak pandangan menusuk ke arahnya, Abigail sangat peka terhadap hal itu. Itu sangat wajar menurutnya, tidak semuanya akan mudah menerima perubahan mendadak ini.
Abigail putri dari Dark Kingdom musuh bebuyutan dari tempat yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Dark Kingdom selalu dipandang dengan orang-orang yang kejam dan jahat, tidak menutup kemungkinan orang-orang di sini tetap tidak menyukainya. Walaupun perdamaian telah terjadi, namun kebencian terhadap satu sama lain masih melekat begitu erat. Abigail, jauh di lubuk hatinya masih membenci Lumenia Kingdom yang telah merenggut nyawa Ibunya dan rakyatnya. Lumenia Kingdom yang memulai perang dan membuat semua ke kacauan berpuluh-puluh tahun lalu. Abigail mengepal tangannya kuat, berusaha melupakan kejadian masa lalu, dan mengesampingkan egonya untuk tetap mendukung perdamaian.
Abigail sampai di gerbang istana tempat pemukiman rakyat, ia begitu terkejut melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Para rakyat mengenakan pakaian yang bahkan tidak layak, anak-anak terlihat begitu kurus kurangnya asupan makanan. Rumah-rumah hancur akibat perang yang terus terjadi. Tanah menjadi kering akibat pertempuran yang menggunakan sihir. Abigail merasa malu menggunakan gaun yang baru saja datang, ia seperti wanita jahat yang menginjak rakyat.
Beberapa kesatria Lumenia terlihat di sekitar reruntuhan perumahan, mulai menata rumah-rumah rakyat. Para rakyat juga bergotong royong membantu para kesatria, para wanita sibuk membersihkan area pemukiman yang di penuhi rumput liar akibat di tinggal begitu lama bahkan mereka juga ikut partisipasi menebang beberapa pohon yang tumbuh menjulang tinggi di area pemukiman.
Abigail terdiam, sekarang dia menjadi bagian dari Lumenia. Rasanya dia memiliki keharusan untuk membantu membangun Lumenia. Abigail berjalan mendekat ikut mencabuti rumput, memotong pohon yang besar dan kegiatan pembangunan lainnya. Mereka melakukan semua itu dengan dibarengi sihir, namun Abigail enggan menggunakan sihirnya, perbedaan cara dan warna dari sihir Dark Kingdom sangat jelas, jika Abigail menggunakan sihirnya takut akan langsung menarik perhatian semua rakyat.
"Ratu saya rasa cukup, mari kembali" ajak Syafa.
"Tidak aku ingin membantu" Abigail sibuk ikut bergabung dengan para warga di sana yang tengah memungut bebatuan untuk keperluan pembangunan.
__ADS_1
Syafa merasa hal semacam itu sangat tidak boleh di lakukan oleh Ratunya. Itu akan mengotori nya "Anda terlihat lelah, Anda baru tersadar dari tiga hari tertidur" ucap lirih Syafa.
Abigail melirik tajam ke arah Syafa seketika Syafa menunduk.
"Biarkan aku membantu" Tekan Abigail.
Gaun Abigail di tarik-tarik. Dengan sigap Abigail menarik lengan orang yang menarik gaunnya membuat orang itu bergelantung. Seorang anak kecil memberikannya senyuman, dengan pelan Abigail meletakan anak itu kembali menginjakkan tanah. Naluri untuk waspada yang selalu Abigail gunakan saat bertempur tidak sengaja ia gunakan pada anak kecil.
"Kakak bekerja dengan gaun cantik, apa tidak sayang gaunnya menjadi kotor?" Ucap polos anak itu menyayangi gaun yang Abigail kenakan.
"Tidak masalah, ini masih bisa dipakai setelah di cuci" ucap Abigail canggung.
"Kakak dari kalangan atas ya?" Tanya anak itu menunjuk Abigail.
"Dia Ratu kita kedepannya, jaga ucapan dan sikapmu" Tegas Syafa.
Anak itu terkejut, mematung memandang Abigail. Setelahnya dia berteriak "Ratu dari Dark Kingdom!!" dia berlari cepat meninggalkan Abigail.
"Jangan pedulikan dia ratu" Syafa berusaha agar Abigail tidak berkecil hati dengan perlakuan anak itu.
Abigail bahkan tak berekspresi karena dia tahu kondisi seperti ini pasti akan terjadi.
"Itu-" Tunjuk anak itu ke arah Abigail, Anak itu datang dengan membawa teman-temannya.
__ADS_1
"Dark Kingdom Argh!! Argh!!" Anak-anak itu mengeram berulang kali.
Abigail tidak begitu ramah dengan anak kecil, tapi jika nanti mereka berulah sekalipun anak kecil Abigail tidak akan segan. Abigail menoleh ke arah anak itu. Kemudian anak-anak itu berlari ke arah Abigail memberinya pelukan. Abigail mematung tertegun, dia pikir anak-anak ini akan men-jaili nya dengan melempar batu atau sejenisnya.