Dark Kingdom

Dark Kingdom
penyusup


__ADS_3

Malam dengan cepatnya berganti pagi. Karan dan Abigail benar-benar tak bisa tidur semalaman. Semakin larut mereka berdua semakin waspada. Mereka berdua yang tak saling mengenal, musuh bebuyutan, bagaimana mungkin bisa tidur dengan nyenyak?!.


Dini hari Karan dengan cepat keluar dari kamar tentunya mengurus hal penting. Saat itu juga Abigail pura-pura tertidur karena dia sendiri tak tahu harus berkata apa ketika berhadapan dengan Karan. Karan sendiri mengetahui Abigail yang hanya menutup mata dan tak tidur. Karan berpura-pura tak tahu dan menganggap Abigail tertidur dan buru-buru keluar dari kamar. Benar-benar canggung antar mereka berdua.


Abigail tak hentinya menguap, dia benar-benar mengantuk. Syafa sibuk mendadani Abigail, wajah pucat yang tampak kurang tidur semalam, di buat kembali segar dengan tambahan make up. Syafa kembali sibuk mengotak-atik rambut Abigail. Terbesit senyuman kecil di bibir Syafa, bagai mengerti bahwa semalam terjadi sesuatu yang panas antar Raja dan Ratunya, sampai-sampai Ratunya begitu kelelahan.


Abigail menatap Syafa dari pantulan kaca "Apa yang membuat mu senang?" tanya Abigail. Syafa tak pandai menyembunyikan wajah gembiranya yang tampak sangat jelas.


"Ah, bukan apa-apa yang mulia" Jawab Syafa dengan tersenyum manis.


Abigail hanya menaiki satu alisnya, tak berkata. Melihat Syafa yang begitu gembira membuat nya ikut senang.


"Jadi apa jadwal hari ini?" Abigail menatap dirinya di cermin, Syafa sangat pandai dalam merias. Dia jadi tampak lebih baik dari pada tadi.


"Kemarin saya sudah menjelaskan semua tentang Lumenia, jadi hari ini saya serahkan pada yang mulia" Jelas Syafa.


Abigail terdiam "Jadi apa boleh aku melakukan hal yang ku inginkan?" benak nya.


"Kalau begitu aku ingin melihat tempat pelatihan" Ucap Abigail.


Syafa terdiam sejenak, kemudian dengan cepat menjawab "Tentu akan saya antar" Jawab nya lembut.


Syafa mengarahkan Abigail menuju tempat para kesatria Lumenia berlatih, Abigail dengan tenang mengikuti.


Bising pedang yang saling bergesekan, cahaya terang yang menyilaukan mata, benar itu adalah sihir cahaya yang di gunakan para kesatria Lumenia.


Abigail menatap para kesatria yang berlatih dengan serius. Ada yang saling bertarung, Ada  yang sibuk melafal mantra, Ada yang tengah berkonsentrasi mengumpulkan mana, Ada yang beristirahat, sampai mereka yang malas berlatih.


"Mengagumkan" gumam Abigail.


Rasanya dia juga ingin ikut bergabung, dia sudah lama tak berlatih. Abigail menatap tangannya. Dia mengepal jemarinya, tak mungkin dia bergabung dengan mereka. Perbedaan sihir mereka sangat jelas, di antara mereka Abigail sangat yakin pasti Ada yang membencinya dan tak mengharap kehadirannya.

__ADS_1


Seorang kesatria dengan rambut merah menatap ke arah Abigail "Semuanya beri salam pada yang mulia Ratu" pekiknya lantang, mengejutkan Abigail. Semua kesatria menoleh dan dengan cepat memberi salam, menunduk dengan sopan. Bisa ditebak bahwa kesatria berambut merah itu memiliki pangkat, sampai-sampai kesatria lain menurutinya.


"Cih, aku melakukan ini hanya karena perintah yang mulia Raja. Dia meminta kita untuk bersikap sopan pada Ratunya" Bisik salah satu kesatria yang terdengar sangat jelas di telinga Abigail.


"Jaga mulutmu Carav" tekan kesatria yang Ada di sampingnya, Luce.


"Dia menjadi Ratu kita di sini, hanya untuk perdamaian. Dia rela memberikan dirinya menjadi jaminan di negara musuh, hanya demi perdamaian" tekan Luce.


"Tetap saja" Gerutu Carav.


"Bisa saja dia mata-mata, menjadi Ratu dan mencari kelemahan kita" Jelas Carav penuh penekanan.


"Diam!!" tegas Luce.


Carav menggerutu dalam diam.


Abigail menghela napas, dia sadar betul tak akan mudah di terima. Pasti ada luka yang membekas di hati mereka semua, sama halnya dengan Abigail yang sepenuhnya tidak memaafkan Lumenia. Peperangan yang merenggut orang-orang tersayangnya akan sulit melupakan semua itu.


Pria yang berambut merah mendekat, Tara namanya "Ada apa yang mulia sampai kesini?" tanyanya sopan.


Tara tersenyum kecil "apa tak sama dengan latihan para kesatria Anda di sana?"


"Entahlah!" Jawab singkat Abigail, yang sibuk menatap para kesatria yang kembali berlatih.


"Kami berlatih tanpa henti saat itu, tak di sangka hari ini tak lagi saling bertempur. Karena yang mulia di sini perdamaian terjadi" Tara memiringkan wajah nya, dengan senyum terbesit di bibirnya.


"Anda benar! perdamaian terjadi karena dua orang yang rela memberikan hidupnya. Mungkin semua orang bersorak, karena peperangan telah usai, perdamaian telah terjadi" Abigail membalas dengan tersenyum manis.


"apa anda terpaksa?" tanya Tara tanpa rasa tanpa menimbang perasaan Abigail.


"Jika bisa, saya akan melakukan hal ini sejak dulu. Maka tak banyak korban berjatuhan saat itu" Jawab Abigail.

__ADS_1


Abigail tak menyesali tindakannya yang menikah demi perdamaian. Dia sendiri rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan banyak orang.


Satu hal yang Abigail harapkan, melihat orang-orang yang menggapai mimpi mereka. Lewat perdamaian ini Abigail tak akan melihat orang-orang putus asa hanya untuk bertahan hidup. Tapi orang-orang yang mulia bergerak untuk mimpi-mimpinya.


Tara terkekeh "Anda orang yang tak tertebak yang mulia"


Abigail terdiam tak bergeming.


"Saya undur diri kembali ikut bergabung berlatih" ucap sopan Tara.


Abigail mengangguk pelan.


"Senang berbincang dengan Anda" Tara kembali bergabung dengan kesatria lain.


"Ad hominem!!" Seru lantang seorang kesatria, menyerang ke arah Abigail. Serangan besar ke arah Abigail.


"Erebos!!" Ucap Abigail cepat.


Erebos adalah perwujudan kegelapan. Bayangan hitam berbentuk pria yang besar muncul, menangkis serangan dari kesatria itu.


Serangan dari kesatria itu cukup besar, sampai-sampai di sekitar Abigail ikut hancur. Telat sedetik saja saat itu juga Abigail bisa terluka parah. Untung Syafa berada di belakangnya jadi Syafa aman. Meski jantung Syafa rasanya hendak copot.


Syafa tampak sangat terkejut, bukan hanya dia para kesatria lain juga sangat terkejut melihat kejadian itu. Buru-buru para kesatria menangkap kesatria itu, namun kesatria itu dapat dengan mudah menghindar.


"Tampak nya ini tak di sengaja" Benak Abigail.


"Religare" Abigail mengikat tubuh pria itu dengan bayangan hitam nya, mengikat dengan  kuat sampai-sampai kesatria itu tak berkutik.


"Kau sepertinya penyusup!? bagaimana bisa kau menggunakan Hominem, itu adalah Ilmu sesat yang di larang" tekan Abigail.


Pria itu bagai orang linglung, busa keluar dari mulutnya, dan hal yang mengerikan tubuhnya hancur. Abigail hanya menatapnya dengan datar bagai sudah terbiasa dengan hal semacam ini.

__ADS_1


Hominem akan membunuh penggunanya Jika penggunanya sembarangan, hal itu yang menjadi penyebab di larangnya menggunakan Hominem. Sejauh ini tak Ada yang mampu menyempurnakannya.


Carav terbelalak, dia sangat terkejut melihat kemampuan Abigail. Kemampuan yang tidak main-main. Carav hanya mendengar rumor bahwa Abigail panglima perang terdepan dengan magic yang luar biasa. Abigail juga tampak cekatan dalam menghadapi musuh nya, Carav yang kemampuan level rendah bisa dengan mudah terhempas "Aku rasa harus berhati-hati dengan mulut ini" gumam nya sembari memukul mulutnya yang suka berbicara sembarang dan tak sopan.


__ADS_2