
Anak-anak itu tersenyum dengan manis, sembari tak melepaskan pelukannya pada Abigail.
"Perang telah usai karena kakak" ucap salah satu anak dengan antusias.
"Dia Ratu kita sekarang, jangan bertindak sembarang" tekan Syafa, dia berusaha memisahkan anak-anak itu dari ratunya. Syafa takut jika ratunya merasa tak nyaman dengan keadaan ini.
"Tidak apa Syafa" Ucap Abigail tegas.
"Orang dewasa bilang, jika kakak tidak kemari maka perang akan terus berlanjut" timpal gadis kecil.
"Itu benar, setiap malam kami selalu waspada telinga kami selalu di tutup oleh Ayah agar tidak mendengar suara pertarungan yang mencekam dan membuat merinding takut. Tapi sekarang tidak lagi. Kami tidak pernah mendengar decitan pedang bergesek dan lagi kami tak mendengar lantunan sihir--" Mereka bercerita dengan antusias berisi semangat yang menggebu.
Abigail tersenyum kecut, miris sekali mendengar cerita dari anak-anak yang tak bersalah. Sejauh mana luka dan trauma yang kami torehkan untuk anak-anak dari masing-masing kingdom.
Abigail mengelus kepala anak-anak itu. Hebatnya anak-anak itu tersenyum dengan gembira dan tidak terikat dengan masa lalu yang kelam atau berusaha menyalahkan salah satu pihak.
"Terimakasih tidak membenciku" gumam Abigail.
"Nah, aku ingin tahu nama kalian?!" Abigail menatap mereka, berusaha tampak ramah.
"Aku, aku Patra" Jawabnya semangat, sembari mengangkat tangannya "Lalu gadis kecil ini Lily dan anak lelaki itu Tama" jawabnya sembari meloncat-loncat menunjuk-nunjuk temannya.
Abigail terkekeh, mereka sangat lucu dan manis. Anak-anak yang polos dengan hati yang jernih.
"Begitu, nama yang keren" puji Abigail.
"Hey!" Ucap seorang anak kecil yang tampak malu, dia dari tadi tidak mendekat dan hanya mengamati dari kejauhan.
Abigail menoleh menatap anak itu bingung.
"Oh, anak itu nama nya Varus" Ucap Patra mengenalkan.
Anak itu berjalan mendekat dengan malu, dia bahkan berjalan mendekat dengan menunduk. Kedua tangannya di sembunyikan di belakang.
Abigail terheran "Apa yang kamu sembunyikan?" Abigail, berusaha mengintip yang Varus sembunyikan.
Varus terdiam cukup lama, dia tampak malu-malu.
"Varus kamu membuat kita menunggu!" Lily tampak kesal.
Varus menoleh "aku-, aku tidak bermaksud" mata Varus dan Abigail tak sengaja bertemu, dengan cepat Varus mengalihkan pandangan nya.
__ADS_1
Abigail mendekati Varus "tidak baik membuat orang lain penasaran" Abigail menatap Varus, meminta nya untuk segera mengatakan maksudnya.
Varus semakin menunduk, Abigail tersentak. Dia baru sadar telah menakuti seorang anak kecil dengan ucapan yang menekan.
Varus mengeluarkan tangan yang dia sembunyikan, di genggamnya setangkai bunga cantik berwarna merah.
"Warna bunga sama dengan mata yang mulia" ucapnya dengan gemetar.
Seketika Abigail terdiam, dia terenyuh dengan sikap Varus. Sepanjang hidupnya dia selalu mengabaikan hal-hal yang dia sukai termasuk dalam menyukai bunga, karena Abigail harus menjadi sosok kuat.
"Jadi kamu memetiknya untuk ku?" Abigail menatap Varus dalam.
Varus mengangguk cepat.
Abigail menerima bunga yang Varus berikan "Terimakasih, aku akan menyimpannya"
"Benar kah" Varus mendongak menatap Abigail tidak percaya.
Abigail mengangguk dengan senyum manis yang merekah di bibirnya.
Hari ini tidak buruk, bertemu dan tertawa bersama dengan anak-anak manis membuat Abigail merasa mungkin saja dia mampu bertahan di tempat baru.
Bagaimana mungkin Abigail tidak menyimpannya, bunga itu memiliki arti yang besar bagi Abigail. Bunga yang di berikan oleh seorang anak kecil yang tulus. Dan untuk pertama kalinya dia diberikan bunga secara pribadi.
Tak hentinya Abigail menatap bunga itu, rasanya ada yang menggelitik hatinya "Apa ini perasaan senang?!" Abigail menyentuh dadanya, dia tersenyum kecil. Perasaan yang tak pernah Abigail rasakan, rasanya begitu aneh baginya.
Abigail terdiam sejenak, berjalan ke arah jendela menatap ke arah hutan Xanax yang menjadi perbatasan kedua kingdom. Tak terlihat asap hitam mengepul, atau pancaran sihir apapun lagi, yang berarti perdamaian benar-benar terjadi. Abigail masih tak percaya perang telah usai.
"Apakah aku tengah bermimpi" gumam Abigail.
Abigail menghela napas, semua ini benar-benar terjadi. Dia tak perlu menghabiskan waktunya untuk terus bertempur.
Kriet...
Pintu terbuka.
Abigail dengan pelan menoleh, Karan masuk dengan piyama tidurnya dengan dada yang tampak jelas.
Abigail terperanjat "Salam yang mulia" ucap sopan Abigail sedikit menunduk.
"Kamu tidak perlu melakukan hal itu, kamu dan aku memiliki status yang sama" tegas Karan.
__ADS_1
"Baik, jika Anda sudah berkata demikian" jawab Abigail, berdiri tegap.
Mereka berdua tampak canggung, dan tampak kebingungan. Lalu Karan duduk di kasur pelan, dia mulai memecah keheningan "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik" Jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan berkeliling hari ini?" Karan benar-benar berusaha mencairkan suasana diantara keduanya.
"Ku pikir kita harus mempercepat mengurus pemukiman warga yang hancur. Memperhatikan makanan yang cukup, dan pakaian mereka. Lalu rasanya senang bertemu dengan anak-anak manis yang tulus" Ucap Abigail, dia bahkan tak mampu menyembunyikan wajah senangnya karena berjumpa dengan anak-anak sebaik mereka.
Karan tampak lega. Dia sempat khawatir Abigail akan tak nyaman atau membenci tempat ini.
"Lalu mengenai malam pertama kemarin. Maaf aku yang membuat mu menunggu" ucap Karan dengan tulus meminta maaf.
"Tidak masalah, setidaknya untuk saat ini. Seperti yang anda tau kita diawasi dua kubu. Bangsawan yang menyetujui perdamaian dan bangsawan yang tak menyetujui perdamaian ini dari dua kingdom bersamaan" jawab Abigail.
Karan mengepal kedua jemarinya, saat ini rumor buruk tengah tersebar di kalangan rakyat. Banyak yang mengatakan dirinya mengabaikan pengantinnya, di malam pertama. Itu sangat menganggu Karan, terlebih jika masalah itu terdengar sampai telinga Raja Dark Kingdom akan sangat bahaya.
"Apa Anda datang karena menghawatirkan rumor?" Sebenarnya Abigail berusaha menutup telinga, tak ingin peduli dengan hal yang di ucapkan orang-orang. Abigail mendengar semuanya, bisik-bisik pelayan yang mengetahui bahwa Abigail tidak bermalam dengan Karan. Hal itu pasti akan tersebar di kalangan rakyat dan para bangsawan.
"Anda tidak perlu khawatir, hal itu tak akan menjadi masalah. Perdamaian akan terus berlanjut. Hanya saja aku berharap kamu akan lebih bijak dalam menunjukan sikap. Setidaknya berpura-pura hangat di depan orang-orang, ku pikir itu akan cukup menghempas rumor itu dan ketegangan perlahan akan hilang" Tegas Abigail.
Karan terdiam, dia tahu semua terjadi karena kesalahan nya sendiri. Bagaimana bisa dia melupakan bahwa di hari itu dia sudah menikah.
Abigail mendekat, berdiri tepat di depan Karan. Karan mendongak menatap Abigail. Mereka berdua saling menatap dalam keheningan. Karan pria tampan rambut perak dan mata biru, tampak sangat berwibawa benar-benar mencerminkan ciri dari Kingdom Nya. Perlahan Abigail hendak melepaskan piyamanya Karan membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang Abigail lakukan di depannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Karan bahkan meninggikan suaranya saking terkejut dengan apa yang ingin Abigail lakukan.
"Bukankah Anda datang untuk ini? terlebih bukankah ini keharusan?" Abigail menatap Karan kosong, tatapan nya bagai tak berminat, namun karena keharusan dia melakukan hal ini.
Karan semakin kesal "Jangan lepaskan!!" tekannya.
Abigail berhenti "Jadi anda kesini untuk apa?" Tanya Abigail kebingungan.
"Aku datang untuk tidur" Karan merebahkan tubuhnya ke kasur.
Abigail semakin heran, dia ingat ucapan dari pelayan yang mengajarkan etiket sebelum menikah. Pelayan nya berkata setelah menjadi istri hal yang harus Abigail lakukan adalah melayani suami. Tak perlu segan untuk memulainya lebih dulu. Itu hal yang Abigail ingat. Dan itu demi mempertahankan kedamaian yang telah terjadi ini, suka ataupun tidak itu kewajibannya sekarang.
"Mungkinkah dia tak akan melakukannya denganku, karena aku keturunan dari Dark Kingdom dengan sihir gelap. Benar! dia pastinya tak akan mau mencemari keturunannya dengan sihir gelap milikku" benak Abigail berasumsi.
Abigail naik ke kasur ikut merebahkan tubuhnya. Tak ada percakapan yang terjadi, mereka berdua sepanjang malam terjaga, mereka awas. Mewaspadai satu sama lain, bagaimanapun mereka dulunya musuh bebuyutan yang tak akan mudah saling mempercayai. Penghianatan bisa saja terjadi kapanpun itu, hal itu bahkan di lihat dari pertama Karan memperlakukan Abigail,menjadi hal yang cukup untuk Abigail memikirkan kemungkinan buruk yang tengah di rencanakan Karan, di tambah Karan yang menolak berhubungan dengannya.
__ADS_1