Dark Kingdom

Dark Kingdom
Terjebak di rumah singgah


__ADS_3

Angin berhembus kencang, menerpa Abigail dan Karan. Perlahan hujan turun dengan deras, sesekali gemuruh kencang mengejutkan terdengar. Buru-buru mereka berdua meneduh di rumah singgah.


Begitu sunyi, tak ada yang memulai percakapan. Mereka berdua duduk dengan tenang di kursi yang tersedia di sana. Petir dan kilatan, tak membuat mereka berdua gentar, bagai terbiasa dengan kondisi seperti ini.


Karan melipat kedua tangan di dada melirik Abigail yang sibuk memandangi air hujan yang menyentuh tanah. Rambut hitam yang menyatu dengan gelapnya malam, terpancar cahaya merah dari bola mata Abigail. Gaun yang Abigail kenakan basah terkena air hujan membuat lekuk tubuhnya nampak dengan jelas. Karan membuang muka dengan cepat, beranjak dari duduk. Jas yang Karan kenakan dia lepas, memasangkan nya dengan pelan pada Abigail. Abigail menoleh menatap Karan tajam.


"Anggap saja ini ucapan maaf ku" Ucap Karan memecah keheningan. Mengingat kecerobohan nya sampai-sampai penyusup menyerang ratunya di dalam lingkup istananya yang harusnya aman.


Abigail menatap nya penuh tanya.


Karan berdiri tepat di depan Abigail, dia sedikit menunduk meraih tangan Abigail lembut "apa yang kamu dengar, perlakuan buruk yang aku maupun rakyat Lumenia buat, sengaja maupun tak sengaja aku harap kamu memaafkan nya" Karan mengecup punggung tangan Abigail.


Suasana kembali hening, Karan tak beranjak dari tempatnya, dia menunggu jawaban dari Abigail.


Abigail mendongak, menatap Karan datar "ucapan maaf tak selamanya menyelesaikan masalah, jika maaf bisa menyelesaikan masalah dengan mudah tanpa ada luka yang berbekas maka kedua kingdom akan berdamai dengan mudah. Tak perlu anda dan saya berada di sini" Abigail tersenyum getir.


Karan terdiam, melepaskan genggaman tangan Abigail "Benar, jadi apa yang kamu mau agar memaafkan kesalahan yang sejak awal aku buat" Karan menunduk.


"Bersikap biasa, bersikap seperti awal" Tegas Abigail, dia menyadari sikap Karan yang terlihat lebih hangat dan berusaha mendekatkan diri memang dia awalnya meminta begitu. Tapi entah mengapa, dia merasa ini tak sepenuhnya tulus. Lagipula di sini tidak ada siapapun tak perlu berpura sebagai pasangan hangat.


Karan termangu menatap Abigail, gemuruh saling bersautan semakin kencang.


"Anda tak perlu menghawatirkan persoalan perdamaian, seperti yang Saya ucapan di awal perdamaian akan tetap berlangsung selagi anda menghargai Saya dan Dark kingdom dalam tahap wajar" Jelas Abigail.


Karan tersenyum kecil "Baiklah, terimakasih" dia memegang erat bibir pagar, membuat hujan mengenai nya.


Malam yang semakin dingin, perlahan guntur tak terdengar lagi namun hujan masih turun dengan lebat.


"Aku ingin tidur di kasur hangat ku" Benak Abigail, menggosok kedua telapak tangannya.


Karan duduk di kursi samping Abigail "apa kamu mengetahui mengenai Hominem?! aku mendengar saat kamu di serang penyusup menggunakan Hominem? " Karan berusaha memecah keheningan yang terlalu lama.


Abigail menoleh "benar" Abigail kembali memalingkan wajah nya.


"Hominem masuk dalam kategori sihir tingkat tinggi, namun sihir itu sangat berbahaya. Jika berhasil di pelajari dengan sempurna atau di sempurnakan, maka itu bisa meluluhlantahkan sebuah pulau, namun penggunanya di pastikan akan mati" Jelas Abigail.


Karan terbelalak "Dark kingdom memiliki sihir yang mengerikan?!" benak Karan terkejut.


"Sebegitu mematikan?!" Ucap Karan.

__ADS_1


"Jelas" Jawab Abigail cepat.


"Penyusup itu baru mempelajari sedikit tak sampai seperempat, menggunakan Hominem yang tak sempurna" tekan Abigail.


"Anda pasti sangat kesulitan menemukan dalangnya, karena penyusup itu mati begitu saja" Abigail tampak gelisah.


Hominem sendiri sihir dari Dark kingdom yang sangat berbahaya, bisa saja Lumenia berpikir ini konspirasi dari Dark Kingdom.


"Kami akan terus berhati-hati agar kejadian tak terulang" tegas Karan.


"Penyusup itu terkonfirmasi bukan dari rakyat Dark kingdom melainkan dari Lumenia. Pasalnya, bagaimana dia bisa menggunakan Hominem? bahkan Abigail sendiri menyatakan hal itu di larang?" Karan sibuk dengan pikiran nya


"Bisa di pastikan orang di baliknya bukan sembarang" Benak Abigail dan Karan memiliki opini yang sama.


Hujan turun dengan rintik, Abigail beranjak dari duduknya.


"Saya undur diri terlebih dulu" Ucap sopan Abigail.


"Bisakah berhenti berbicara dengan formal?! " Karan bangun dari duduknya.


"Lalu? " Abigail menatap Karan seakan heran. Dia yang semalam memberikan jarak dan sekarang bagai orang berbeda.


Abigail menoleh "karan" Ucapnya.


"Sungguh tanpa basa-basi" gumam Karan.


"Bukankah lebih baik seperti itu" Abigail memiringkan wajah nya, menatap Karan dengan datar.


"Aku akan mengunjungi mu, sekarang dan seterusnya kita akan tidur bersama Abigail" Ucap pelan Karan.


"Saya menanti Karan" Abigail berbalik berjalan meninggalkan Karan yang menatap punggung Abigail yang mulai menjauh.


Karan mendongak menatap langit, membuat rintik hujan membasahi wajah nya. Dia mengepal kuat jemarinya "Aku tak tahu seperti apa akhir dari perdamaian ini"


Syafa melihat Abigail yang keluar dari taman Flos, buru-buru Syafa menghampiri, tak lupa bergegas membawa payung yang dia bawa.


"Yang mulia anda membuat Saya khawatir" Tampak jelas Syafa panik.


Abigail menatap Syafa kesal.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu menungguku" Abigail berjalan cepat.


Syafa mengikuti Ratu, berusaha agar Ratunya tak terkena hujan dengan payung yang dia bawa.


"Syafa!!" Abigail sedikit memekik.


Syafa terkejut "Maaf yang mulia, Saya terlambat anda pasti marah" Syafa menunduk, dia hampir menangis.


"Berhenti melakukan ini, kamu menungguku dengan cuaca yang seperti ini sendiri diluaran, pikirkan diri mu juga" Abigail mencengkeram kuat pundak Syafa.


Syafa mendongak, rupanya Ratunya menghawatirkan dirinya "ini adalah tugas Saya yang mulia"


"Dari awal Saya mengatakan untuk kembali, berarti kamu berhak  beristirahat saat itu" Abigail tampak kesal.


"Maaf Saya tak akan melakukan itu lagi" Syafa tampak murung.


Abigail menghela napas "Baguslah kalau kamu mengerti" Abigail kembali berjalan menuju kamarnya.


Syafa kembali riang, dia kembali sibuk dengan celotehnya. Syafa mengamati Ratunya, dia basah "Lalu jas yang Ratu pakai? " Syafa tersenyum puas " Yang mulia Ratu bertemu yang mulia Raja rupanya, argh!! " Syafa membayangkan hal romantis yang terjadi diantara Raja dan Ratunya.


__


Akibat pertemuan dengan Karan yang tak terduga di rumah singgah, membuat emosi Abigail tak stabil, rasanya campur aduk "Itu pembicaraan yang tak sehat" Abigail menggosok rambut nya dengan handuk.


Setelah sampai di kamar Abigail, Syafa selalu bersin, dan badannya panas. Abigail meminta nya untuk kembali dan beristirahat. Syafa hendak menolak, namun ketika Abigail  menatapnya tajam Syafa tak berani melawan dan pergi dengan berat hati.


Pintu terbuka, Abigail sudah menduga bahwa Karan tidak mungkin mengingkari ucapan nya.


"Selamat datang Karan" Abigail menyambutnya dengan ramah.


Karan tersenyum kecil, menutup pintu dan berjalan mendekati Abigail.


"Jadi, apa Karan akan memintanya malam ini?" Abigail menatap Karan, tangannya bersiap melepaskan piyamanya.


"Hentikan, malam ini juga tidak" Karan merebahkan tubuh ke kasur.


"Begitu, baik lah" Ucap santai Abigail.


Abigail menyadari bahwa sikap baik Karan hanya formalitas semata, sebagai bentuk dia menghargainya. Pernikahan politik memang seperti ini, hanya sebatas rekan dan penghasil keturunan tidak lebih. Tapi beruntung jika di hargai, itu lebih baik bagi Abigail. Masalah hubungan atau hal-hal intim, Abigail tak ingin ambil pusing. Selagi perdamaian berjalan sebagaimana mestinya.

__ADS_1


Karan tidur membelakangi Abigail, lengan kanan menutupi wajah nya yang tampak merah padam.


__ADS_2