
Sudah seminggu berlalu Abigail dan Karan tidur bersama, hanya sebatas tidur. Mereka berdua mulai terbiasa dan mengurangi kewaspadaan mereka, sekarang jam tidur mereka sangat penting, tak mungkin setiap pagi mereka bangun dengan kantong mata hitam.
..........
Terdengar suara bising, langkah kaki Terburu-buru bahkan tak jarang beberapa pelayan saling beradu argument. Rasanya Abigail merasa pusing mendengar celoteh para pelayan.
Hari ini di mana Abigail secara resmi akan menjadi Ratu Lumenia dan Karan secara Resmi menjadi raja mengantikan mendiang Ayah nya. Lumenia mengadakan acara peresmian menyambut Raja dan Ratu, tentu saja para pelayan sibuk merias Ratunya, ingin Ratunya tampil dengan sempurna.
Abigail tak banyak berkomentar, dia tak ingin merusak hal yang membuat para pelayan bersemangat. Dia memang bukan dari Lumenia, namun orang-orang di sini perlahan mempercayai Abigail.
"Permata apa yang cocok?" gumam Syafa, sibuk memilih anting dan kalung permata.
"Emerald?, diamond, atau pearl?" Dia meminta pendapat pada pelayan lain yang membantu.
"Red coral tampak cantik" Jawab Zara.
"Tapi itu terlalu biasa!!" Ucap Syafa tak setuju.
"Itu benar, hari ini sangat bersejarah" Timpal Ira.
Mendengar ucapan itu membuat Abigail terheran, mereka terlalu melebih-lebihkan.
Abigail menghela napas pelan "Syafa tolong ambil kotak yang ada di laci" Pinta Abigail.
Bergegas Syafa mengambil kotak yang ada di laci, dia memberikan nya pada Abigail.
Abigail membuka kotak itu perlahan terdapat sepasang anting dan kalung Ruby (merah darah) sangat cantik. Abigail menutup mata pelan, Sebelum dia pergi ke Lumenia Ayahnya memberikan nya sebagai hadiah, Ayahnya bilang itu di siapkan memang untuknya ketika akan menikah, dia membuat itu sudah sangat lama dan sekarang dia memiliki kesempatan untuk memberikan nya pada Abigail, saat itu Ayah nya terlihat tersenyum haru namun terselip rasa bersalah.
Perlahan Abigail membuka matanya "Tolong pasangkan ini" Pinta Abigail lagi.
Permata Ruby sangat cocok untuk Abigail, begitu menyatu dengan warna mata dan gaun yang bercorak putih merah yang dia kenakan, baju khas kerajaan yang di turunkan dari generasi ke generasi untuk Ratu.
Semua terkesima menatap Ratu yang begitu cantik, tampak sangat berwibawa.
__ADS_1
Syafa menatap Ratunya dalam "Rasanya dia sangat sulit untuk di sentuh" Benak Syafa. Dari awal Syafa berjumpa dengan Ratunya dia merasa Abigail memasang dinding yang amat tinggi, rasanya sulit di tembus. Abigail begitu dingin dan kaku, dia tak banyak bicara jika tak penting. Bagi orang yang tidak mengenal Abigail pasti merasa dia orang yang ketus dan sombong. Padahal Abigail orang yang baik, namun Abigail sedikit sulit dalam mengekspresikan nya. Bagaimana tidak peperangan dalam jangka waktu lama dan Abigail berada di garda depan membuat nya memiliki sikap seperti itu "ratuku yang malang" Syafa tampak sedih.
Abigail menatap Syafa datar "aku tidak suka dengan kamu menatap ku seperti itu!! " Tekan Abigail melirik Syafa.
Syafa gelagapan, dengan cepat dia menunduk sopan "Maafkan Saya yang tidak sopan yang mulia"
Abigail duduk dengan tenang menatap diri pada kaca yang terpampang besar di depannya "semua orang bisa melakukan kesalahan, sekali atau dua kali namun tidak berkali-kali!!" Abigail sedikit meninggikan suaranya, penuh dengan penekanan.
Semua pelayan tersentak, mereka saling memandang, mereka bergidik ngeri. Ucapan Abigail di tunjukan untuk semua yang ada di Sana bukan hanya untuk Syafa.
"Kami akan mengingatnya yang mulia" Ucap Syafa diikuti pelayan lain yang menunduk.
Abigail keluar dari kamar nya, dia menatap Karan yang berdiri dengan gagah di sana.
"Apa anda menunggu lama?" tanya Abigail, mengejutkan Karan.
Karan menoleh dengan cepat "Tidak" Karan terdiam, menatap Abigail dalam. Abigail sangat cantik dengan dibaluti semua yang melekat di tubuhnya, dia bagai seorang dewi "Ekhm, mari" Karan mengulurkan tangannya pada Abigail, berusaha tampak biasa saja.
Hari ini Karan tampil berbeda, rambut menyibak keatas, baju yang dia kenakan senada dengan yang Abigail gunakan, tentu saja karena baju itu memang pasangan, badannya juga sangat bagus, Karan tampak bagai lukisan "dia sangat tampan" Abigail mebelalak, tak di sangka dengan mulut nya itu dia mengeluarkan kata itu.
Abigail sangat malu, dia mengutuk mulut nya yang mengeluarkan kata itu spontan. Karan jadi salah tingkah di buatnya, mereka berdua merona malu dengan kecanggungan.
"Anggap saja anda tidak mendengar apapun" Abigail membuang muka.
"Baik lah" Karan tersenyum kecil, jujur saja dia merasa senang dengan pengakuan tak sengaja Abigail.
"Apa Abigail akan terus mengabaikan tangan ku ini?" Karan melirik tangannya yang sedari tadi menunggu Abigail meraihnya.
Abigail meraihnya dengan ragu "maafkan Saya" Abigail semakin malu di buatnya.
"Lalu panggil aku Karan!!" Bisik Karan penuh penekanan.
Telinga Abigail memerah, hari ini begitu dobel kesialan yang dia alami. Abigail tampak sangat kesal dengan dirinya, rasanya dia harus mulai ketat dengan dirinya sendiri, dan tak memberi celah kesalahan sekecil apapun itu.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju Mazevo Domatio.
Mazevo Domatio merupakan ruangan umum, dimana Raja dan anggota kerajaan menyambut tamu negara lain. Berbagai acara kerajaan juga di adakan di sana. Ruangan itu digunakan untuk acara resmi, bagian utama ruangan itu adalah dua kursi berwarna keemasan. Kursi itu digunakan untuk penobatan Raja dan Ratu Lumenia.
...
"Apa kalian melihatnya?" Tanya Ira yang sedari tadi memukul Zara.
"Apa kamu pikir kami sedang menutup mata?!" tekan Zara kesal.
Mereka bertiga mengintip dari balik pintu, bagai cicak.
"Mereka sangat romantis dan malu-malu" Ira merona melihat Raja dan Ratu mereka.
"Wajar saja mereka suami istri" Zara menatap Ira datar, dalam hal ini tidak ada yang aneh. Bagi Zara suami istri memang sepatutnya seperti itu.
Ira menatap Zara sinis "tapi mereka itu dari dua kingdom yang memiliki sejarah musuh bebuyutan!!" Tekan Ira dengan suara sedikit memekik.
"Hey, kecil kan suara mu itu" Syafa merasa terusik dengan suara Ira.
Ira terdiam, menatap Syafa cukup lama "Syafa jangan mengadu pada yang mulia ya!" Suara Ira menjadi pelan, dia takut. Ira baru sadar bahwa ada Syafa yang merupakan pelayan pribadi Ratu.
"Apa yang akan aku adukan?" dia menatap Ira heran.
"Mengenai ucapan ku tadi" Ira menatap Syafa penuh harap, tangannya meraih lengan Syafa.
Buru-buru Syafa menepis tangan Ira "Aku tak akan berucap hal aneh tenang saja" Syafa merasa geli dengan sikap Ira.
"Lagian aku mendukung ucapan mu" Syafa menggenggam tangan Ira.
Syafa jadi bersemangat "Apa kamu tahu, akhir-akhir ini yang mulia Ratu tidur bersama dengan yang mulia Raja. Setiap pagi dia tampak lelah, aku rasa hubungan mereka sudah di tahap, aha!!" Syafa dan Ira saling menatap genit, senyum menyeramkan tampak terukir di bibir mereka.
"Kita akan memiliki bayi, bayi hohoho" Ucap syafa dan ira bernanyi sembari menari-nari gembira.
__ADS_1
Di samping Zara meninggalkan mereka berdua begitu saja "aneh" gumam Zara, dia berjalan semakin menjauh.