
”Ya... Kurasa strategi Break The Wall yang akan kupilih, kehancuran dinding batu dan dinding istana akan membuat para penjaga terkejut, lalu disaat-saat itulah kita akan menyerang mereka. Untuk menghancurkan dinding batu dan dinding istana sekaligus, kita hanya perlu mengeluarkan jurus berdaya hancur yang tinggi.” Ucap Peace yang setuju dengan strategi Break The Wall.
“Akupun setuju, namun strategi ini harus dibarengi tempo yang cepat, jika tidak, musuh akan sempat membuat rencana. Karena kekuatan kita yang berbeda jauh dengan mereka, kita harus menghindari hal itu, jangan sampai membiarkan musuh membuat rencana.” Kata Majhul.
“Baiklah, semuanya setuju dengan strategi Break The Wall. Kalau begitu, ayo kita keluar untuk berlatih, siapkan diri kalian untuk penyerangan nanti. Rencananya, penyerangan akan dimulai minggu depan, jadi berlatihlah sungguh-sungguh untuk menggapai tujuan kita bersama, yaitu memenangkan peperangan dan mengambil balik kerajaan Ular Cerdas yang nantinya akan dipimpin oleh Raja Iblis, Siyah Peace!” Ucap Astaroth.
“Eh!? Apa maksudmu, Tuan Astaroth? Bukankah Anda yang akan menjadi pemimpin kerajaan Ular Cerdas? Mengapa jadi dia?” Tanya Majhul dengan panik.
“Majhul, kami sudah melakukan perjanjian saat pagi hari, yaitu jika Peace menyelamatkanku dari monster Bile, aku akan memberinya tahta sebagai seorang raja, dan hal itu tak dapat diganggu gugat.” Jawab Astaroth yang membuat Majhul kecewa.
“Oh, ya. Peace, kau ini masih berumur 17 tahun, 'kan? Tapi mengapa kau sudah menjadi Raja Iblis di dunia sebelumnya?” Tanya Astaroth dengan heran dan penasaran.
“Mudahnya, keluargaku mati karena perang, dan menyisakan diriku sendiri yang adalah anak terakhir. Sebagai anggota keluarga Raja Iblis satu-satunya yang masih hidup, aku diangkat menjadi Raja Iblis selanjutnya dan memimpin para iblis selama 7 tahun sebelum aku terkirim ke dunia Vanaheim.” Jawab Peace.
“Oh... Baiklah, kalau be-” Tiba-tiba, ucapan Astaroth terpotong oleh sebuah suara kencang yang terdengar seperti pukulan. Penasaran, Peace, Astaroth, Gram dan Majhul beranjak berdiri lalu bergegas berlari ke arah suara berasal.
__ADS_1
Ternyata, suara itu berasal dari gerbang yang terlihat bolong layaknya donat, akibat dibolongi Zombie berukuran besar. Di sana juga terlihat tubuh Yin dan Yang beserta 2 penjaga gerbang lainnya yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah, setelah melindungi gerbang sekuat tenaga.
“Zombie sialan! Mereka muncul lagi, namun rasanya ada yang aneh. Aku melihat Zombie yang membolongi gerbang terasa berbeda dari Zombie yang lainnya, mungkinkah?! Dia adalah Raja Zombie!” Ucap Astaroth dengan panik.
“Raja Zombie? Apalagi itu? Aku sudah muak melawan keroco seperti mereka, namun kau tak salah, Zombie itu memang terasa jauh lebih kuat dari yang lainnya... Jadi semangat.” Kata Peace sambil tersenyum tipis lalu berlari ke arah Raja Zombie secepat suara.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan?! Gram dan Majhul, ayo kita hentikan Peace. Bisa-bisa dia mati konyol sebelum peperangan dimulai.” Ucap Astaroth yang semakin panik akibat kelakuan Peace yang sangat bodoh.
“Maaf, aku harus menolak permintaanmu, Tuan Astaroth. Sebaiknya, kita juga ikut membantu Peace.” Kata Majhul dengan wajah yang tersenyum lebar dan penuh gairah. Ia memukul kedua tangannya dan langsung berlari secepat cahaya ke arah dinding kayu.
“Begitu juga denganku. Aku tidak mungkin meninggalkan tuanku sendirian, pastinya aku akan membantunya juga.” Ucap Gram yang seketika berlari mengejar Peace dengan kecepatan yang hampir sama dengan cahaya.
Kedatangan Peace dan Gram ternyata sudah diprediksi oleh Raja Zombie, sehingga Raja Zombie sudah bersiap untuk memukul Peace dan Gram menggunakan jurus
“Sial, kita datang diwaktu yang salah. Raja Zombie seakan-akan bisa melihat masa depan, dan sudah menyiapkan pukulannya bahkan sebelum kita sampai di sini. Kuharap pukulan Raja Zombie tidak terlalu kuat, supaya kita dapat bertahan dari pukulannya.” Ucap Peace dengan wajah datar. Begitu juga dengan Gram yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Astaroth langsung berlari dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya menerjang Peace dan Gram. Astaroth mendorong Peace dan Gram menjauh dari pukulan Raja Zombie yang malah mendarat ke tanah. Pukulan itu menghasilkan lubang di tanah yang sangat besar, namun tidak terlalu dalam.
“Hampir saja... Kalian sangat merepotkan. Andai aku tidak ada, pastinya kalian telah hancur di tangan Raja Zombie. Sejujurnya, jantungku berdetak sangat kencang ketika menerjang kalian, kecepatan serangannya lebih cepat dari cahaya, meskipun kecepatan bergerakku setelah terkena efek dari Skill Adaptation 2× lebih cepat dari kecepatan menyerangnya.” Kata Astaroth sambil beranjak berdiri setelah tengkurap di tanah sebab menerjang Peace dan Gram. Peace dan Gram juga perlahan berdiri dan mereka bertigapun berhadap-hadapan dengan Raja Zombie.
Di sisi lain, Majhul melompati dinding kayu untuk langsung berhadapan dengan para keroco. Para Zombie yang berdiri di hadapan Majhul berukuran besar dengan aura mengerikan dan tatapan yang tajam, sama seperti raja mereka.
“Bha ha ha ha ha! Menarik! Sepertinya kalian semua ada di sini, setelah kulihat-lihat, setidaknya kalian berjumlah 100 Zombie. Namun sayangnya, kalian semua akan berakhir di tempat ini.” Ucap Majhul sambil tersenyum lebar dengan wajah mengerikan, aura Majhul layaknya iblis yang sedang haus darah.
Tanpa diduga-duga, Majhul langsung menerjang salah satu Zombie lalu memukul kepalanya dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya, memaksa Zombie itu untuk menerima pukulan keras Majhul yang tak dapat dihindarinya. Seketika, kepala Zombie itu hancur tak bersisa akibat pukulan keras Majhul.
Merasa tak puas, Majhul meneruskan perbuatannya dengan langsung menerjang kedua Zombie yang berdiri dibelakang Zombie barusan. Ia memegang kepala kedua Zombie itu dengan erat lalu menabrakkannya ke kepala satu sama lain. Kepala kedua Zombie itupun hancur layaknya semangka.
Tanpa disangka, para Zombie langsung menerjang Majhul sekuat tenaga, yang membuat Majhul terkepung di bawah puluhan Zombie. Namun tiba-tiba, aura Majhul semakin besar dan terasa semakin mengerikan, bahkan beberapa Zombie ada yang memutuskan untuk menjauh dari Majhul karena ketakutan. Sebenarnya, para Zombie yang mengepung Majhul juga merasakan hal yang sama, yakni ketakutan. Namun bermodalkan tekad, mereka terus meniban dan mengepung Majhul.
Tiba-tiba, dari sana muncul sebuah ledakan, ledakan itu membuat para Zombie yang meniban dan mengepung Majhul terpental cukup jauh, ada yang terpental ke dinding kayu hingga hancur, ada juga yang terpental ke batang pohon hingga tumbang.
__ADS_1
“Apa-apaan itu... Ledakannya tercipta dari aura mengerikan itu...” Ucap salah satu Zombie yang seketika mati akibat terlalu ketakutan.
Bersambung...