
Peace berjalan menghampiri jasad Hel yang terbaring dengan penuh babak belur, Peace merasa heran sebab Hel mati dengan menyisakan tubuhnya di arena terbalik ini. Tak lama kemudian, suara Emerald kembali muncul yang mengatakan demikian.
[Aura Anda menembus tubuh Hel dan sampai pada titik jiwanya berada. Jiwanya terkoyak-koyak akibat ribuan tinju yang melayang padanya, menyebabkan jiwa Hel lenyap dan mati. Ketika jiwa lenyap, tubuh takkan bisa difungsikan dan pada akhirnya Hel mati dengan menyisakan jasadnya yang terbaring di sana.]
“Jadi, Aura-ku bisa menyentuh jiwa, ya? Padahal jiwa itu keberadaan non fisik, lho. Mengesankan sekali, aku sadar betapa kuatnya diriku saat ini, aku juga sadar siapa yang harus kujadikan kawan maupun lawan. Dengan kekuatan terbatas ini, sebaiknya aku tidak bersifat angkuh terlebih dahulu, sebab di atas langit masih ada langit.” Ucap Peace sambil menghela napasnya dalam-dalam.
Angin berhembus kencang disertai oleh dedaunan hijau yang menyelimutinya, Peace lega pertarungannya telah berakhir dengan baik. Ares dan Manah berhenti bertarung lalu berjalan kembali ke kursi penonton, motivasi dan tujuan bertarung mereka telah sirna akibat pertarungan utama yang telah berakhir dengan singkat.
Tiba-tiba, Peace menciptakan sekop dari api, ia hancurkan lantai arena hingga menemukan tanah yang terkubur oleh bebatuan. Tak lama berselang, Peace gali tanah itu hingga menyerupai lubang persegi panjang yang cukup untuk menampung seseorang di dalamnya. Kemudian, Peace melenyapkan sekop apinya lalu mendorong Hel masuk ke dalam lubang yang telah disiapkannya. Selepas itu, lubang persegi panjang ditutupi oleh bebatuan sebagai lapisan pertama, dan dilanjutkan oleh tanah sebagai lapisan teratas.
Peace menatap kuburan Hel dengan tajam, rasanya ia tak cukup puas dengan pertarungan barusan. Ia mengharapkan lebih dari sosok Hel yang angkuh itu.
“Harapanku terlalu besar untukmu, Hel! Nyatanya, kau meninggalkan diriku sebelum kau bisa memenuhi harapanku. Kecewa, itulah rasa yang bisa kugambarkan setelah semua omong kosong ini usai. Sebelum berakhir, kuberikan sebuah kalimat berharga untukmu, Hel... Menghormati lawan adalah bagian kesempurnaan dari sebuah pertarungan.” Kata Peace sambil berbalik badan dan mulai berjalan keluar arena dengan keadaan pusing. Tak lama kemudian, Peace pun pingsan dalam perjalanan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Peace membuka matanya dan tersadar ketika ia berada dipangkuan Alice. Peace melihat-lihat sekitar dan merasa semuanya telah kembali layaknya semula. Di arena, pertarungan antara Esir melawan Freya baru saja berlangsung, para penonton bersorak-sorai untuk menyerukan suasana yang awalnya terasa hambar.
“Bukankah kau Alice? Omong-omong, kenapa aku bisa pingsan, ya? Apa kau tahu jawabannya?” Tanya Peace sambil beranjak bangun dan mencari tempat duduk miliknya sendiri.
“E-Eh!! Ehm... Ya, kau pingsan karena jurus milik Manah, ya, ya, ya...! Oh, silahkan cari kursimu... Ehm... di sana!” Jawab Alice dengan terkejut, gugup dan gemeteran, sebab ia tak menyangka Peace akan bangun dari pingsannya secepat ini. Peace pun mengikuti arahan yang diberikan Alice, dan sampailah dia ditempat duduknya. Peace pun duduk dengan santai untuk menyaksikan pertarungan yang tengah berlangsung.
Freya mulai melakukan langkah pertamanya sambil mengaktifkan , akibatnya terciptalah Sword of Mercy, pedang emas yang konon katanya bisa meniadakan apa pun. Esir menghela napasnya dalam-dalam dan mulai mengenggam pedang dari punggungnya, pedang itu adalah Sayf Shaytan.
Pada langkah kedua, Freya melepaskan tebasan Sword of Mercy kepada Esir yang nampak seperti kakek-kakek berambut hitam, bermata cokelat, berjanggut hitam dengan jubah putih yang menyelimuti tubuhnya. Namun Esir tak tinggal diam, ia sanggup menahan tebasan Sword of Mercy dengan mengandalkan gagang dari Sayf Shaytan.
“Mengapa kau tidak menyerangku, huh? Kau meremehkanku? Sebaiknya hindari kemarahanku, sebab Level kita terpaut jauh dan mustahil untukmu menang, Esir!” Kata Freya sambil melakukan langkah ketiga dan keempatnya, ia kembali melayangkan tebasan kepada Esir dan Esir menanggapinya dengan santai, seolah dia sudah berpengalaman dalam hal pertarungan. Esir menghempas tebasan Sword of Mercy menggunakan gagang Sayf Shaytan ke atas, hingga hilang ke angkasa.
“Tak cukup, cobalah sekali lagi!” Ucap Esir sambil melakukan langkah ketiga dan keempatnya, membuat posisi mereka semakin dekat. Tak lama kemudian, Freya menebas bahu Esir, membuat luka dengan rasa sakit yang sulit ditahankan.
__ADS_1
“Ha ha ha ha ha ha! Luar biasa! Kerja kerasmu membuahkan hasil, Dewi Fre-” Kata-kata Esir terpotong setelah ia melihat Freya melayangkan tebasan Sword of Mercy kepadanya. Tebasan itu pun mendarat pada dada Esir yang tak terjaga sama sekali, membuat luka yang cukup dalam dan menyakitkan.
“Argh...! Sialan... Kau melakukannya dengan baik, ya...” Esir membungkuk sambil menahan rasa sakit yang diterimanya. Tiba-tiba, ia dikelilingi oleh Freya sambil melayangkan tebasan Sword of Mercy-nya. Seolah tebasan Sword of Mercy muncul dari arah mana saja, rasanya mustahil untuk Esir menghindari serangan itu. Bahkan, para penonton langsung berasumsi Freya akan menang dan lolos ke babak selanjutnya.
“Regenerasiku ditiadakan dalam kurun waktu sejam... Sakit sekali, ya! Sword of Mercy memang pedang yang menarik... Namun, pedang itu takkan cocok pada sosok sepertiku... Andai daya tahanku lebih kuat, pastinya aku sanggup mengalahkan mereka semua.” Ucap Esir sambil mengeluarkan Aura yang mengerikan, meski jauh berbeda dengan Aura Peace, tetap saja Aura Esir sanggup memberi intimidasi kepada Freya.
Semakin lama, semakin cepat pula kecepatan Freya. Kini, kecepatannya telah melebihi kecepatan cahaya, membuat Esir sulit melihatnya dengan mata normal. Sampai pada suatu ketika, di mana tebasan Freya dari segala arah datang pada Esir diwaktu yang sama. Peace, Neutron, Ares dan Manah yang diketahui mampu melihat kecepatan cahaya merasa Esir akan kalah karena kecepatannya terlalu lambat.
“Esir! Matilah dengan damai!” Teriak Freya dengan lega, ia merasa pertarungan ini akan berakhir dengan kemenangan baginya.
“99 tebasan telah kau layangkan kepada tubuhku dalam kurun waktu sedetik, pencapaian yang luar biasa... Namun, kau takkan bisa mencapai tebasan ke 100-mu, sebab pola seranganmu telahku analisis sedemikian rupa hingga aku menemukan solusi untuk menghindari tebasan Sword of Mercy dengan mudahnya... Dengarkan dan perhatikan baik-baik...” Ucap Esir sambil memalingkan kepalanya hingga ia menemukan Freya.
“M-Mustahil! Bagaimana bisa dia menemukanku? T-Tapi, aku yakin dia takkan bisa menghindari itu semua!” Kata Freya dengan panik.
__ADS_1
“Dari 77 serangan yang ditujukan kepadaku, hanya 10 dari mereka yang nyata, biasanya lebih bercahaya dari yang palsu. Dan sisanya hanyalah bayangan dari serangan-serangan sebelumnya. Benarkah begitu, dek? Mariku lanjutkan, tebasan Sword of Mercy memiliki lebar sepanjang 3 meter, dan masing-masing dari mereka berjarak 5 meter. Dengan jarak sejauh itu, aku hanya perlu mencari tebasan bayangan dan berjalan menembusnya untuk keluar dari serangan ini. Begitu mudahnya jika mataku masih bekerja dengan baik.” Ucap Esir sambil mempraktekkan analisisnya.
Bersambung...