
“Heitari, ya? Aku memiliki Skill Grow Awakening, sih. Jadi tak ada yang perlu kutakuti, namun alangkah baiknya jika kuhindari saja jurus itu. Karena bisa saja Skill Ashes miliknya telah Awakening dan mampu meniadakan Skill Grow Awakening.” Ucap Manah sambil mengeluarkan kapak yang disimpan disaku celananya menggunakan tangan kanan. Kemudian, ia hempas Heitari ke arah atas memakai kapaknya, membuat Heitari merubah arah lajunya ke atas.
“M-Mustahil! Heitari bisa memusnahkan apa pun yang menghalanginya, namun dia mampu merubah arah laju Heitari menggunakan kapak itu! Omong kosong macam apa ini?!” Tanya Neutron dari dalam hati dengan heran. Neutron adalah sosok pria berambut pirang, alis berwarna pirang, mata tajam berwarna cokelat dengan jas berwarna kuning yang tak dikancingi, celana berwarna hitam, sepatu berwarna hitam dan tubuh yang kekar.
“Sha sha sha sha sha sha! Sekuat-kuatnya sihir, efeknya akan tiada jika terkena kapakku ini, makanya dia disebut Unlimited Deletion. Tongkat ini telah dilapisi Skill tingkat S, Abolition yang mampu meniadakan sihir, paham? Pakailah tombak emas dipunggungmu itu, aku menantangmu untuk bertarung tanpa Skill maupun sihir jarak jauh, Neutron!” Ucap Manah sambil menodongkan kapaknya ke arah Neutron.
Di sisi lain, Neutron menanggapi tantangan Manah dengan serius. Ia memposisikan tangan kanannya seperti mencekeram lalu digerakkan ke punggung untuk mengambil tombak emas andalannya. Kemudian, Neutron menodongkan tombak emasnya ke arah Manah, membuat situasi semakin panas tiap waktunya. Neutron sama sekali tidak meremehkan Manah, padahal Level mereka terpaut cukup jauh. Neutron malah menanggapi tantangan dari sosok yang lebih lemah darinya dengan serius.
“Ketahuilah bahwasanya tombak emasku ini bisa meniadakan fungsi dari Skill Grow Awakening, terkena sedikit saja bisa berbahaya untukmu, makanya tombak emas ini disebut Hasta! Tombak ini diselimuti oleh Skill Grow Awakening tingkat S yang membuatku mendapatkan kemampuan itu.” Balas Neutron yang tak sabar untuk bertarung dengan Manah.
Peserta lainnya hanya bisa menatap mereka berdua dari jauh dengan perasaan heran, tak ada seorang pun dari peserta yang berani untuk menghentikan pertarungan sia-sia ini, mereka semua takut kepada seorang, yakni Issac Neutron sang Aspiring Star.
“Ha...? Ada apa ramai-ramai begini? Pertarungan, ya... Kalau begitu, izinkan aku untuk... IKUT!!” Ucap Ares sambil menerjang Neutron dengan niatan untuk ikut bertarung. Ares mengenakan topi keledar Korintus sehingga rambut dan matanya tidak kelihatan, ia mengenakan baju zirah emas dan sebilah pedang yang bertengger dipunggungnya.
“Menjengkelkan...” Ujar Neutron dengan lirih sambil mengeluarkan jurus yang membuat waktu di sekitar arena berhenti, hanya ada 2 orang yang mampu bergerak di sana, yakni Neutron itu sendiri dan Manah yang meniadakan efek dari jurus Pause menggunakan jurus
__ADS_1
“Keputusan yang baik, aku menghargainya... Sekarang, kita bisa bertarung tanpa diganggu siapa pun, Neutron!” Ucap Manah sambil melancarkan kapaknya ke dahi Neutron, namun dengan mudah, Neutron bisa menahan serangan itu menggunakan gagang tombak Hasta.
“Mengesankan! Seperti yang diharapkan darimu, Neutron!” Neutron pun mendorong kapak itu dengan kencang, membuat Manah sedikit hilang keseimbangan dan hampir terjatuh. Namun untungnya, ia masih sempat melompat ke belakang sebelum tombak Hasta mengenai perutnya.
“Itulah sebabnya jika kau banyak bicara ketika bertarung, Manah!” Tak lama kemudian, Neutron kembali melayangkan tombak Hasta ke arah jantung Manah, namun untungnya, Manah sempat menghindar, lalu dengan kecepatan yang tak terukur cepatnya, Manah menerjang Neutron sambil menebas lengan kirinya dengan kapak Unlimited Deletion, membuat Neutron kehilangan lengan kirinya.
“Argh... Sialan kau! Akibat tertebas kapak itu, lenganku tak dapat diregenerasi... Kuharap, ketiadaan efek sihir ini memiliki batas waktu yang cukup singkat, setidaknya sampai seluruh Mana-mu habis.” Ucap Neutron tanpa merasakan rasa sakit sedikit pun, bahkan setelah lengan kirinya terbelah dan terjatuh di lantai.
“Kukira akan sulit untuk menyerangmu, namun nyatanya semudah ini... Tch, kalau begini saja, aku tak perlu membuang-buang waktu untuk meladenimu, dasar lemah!” Ujar Manah dengan nada sombong dan meremehkan. Manah pun berbalik arah untuk melihat keadaan Neutron, namun tiba-tiba, Neutron langsung menyerang Manah dengan melayangkan tombak Hasta ke kepala Manah, namun baiknya, Manah masih sempat menghindar, walau ia tetap mendapatkan luka dibagian kanan pipi akibat terkena ujung dari tombak Hasta.
“Omong kosong! Aku tidak akan terpengaruh oleh gertakanmu itu, Neutron!” Ujar Manah, lalu dia menerjang Neutron sambil melayangkan kapak ke dahinya, namun dengan mudah, Neutron menghindari itu, lalu meluncurkan serangan balik berupa tombak Hasta ke perut Manah, membuat perut Manah tertancap oleh tombak Hasta, dari perut Manah keluarlah sejumlah darah hitam yang mengeluarkan bau tak sedap, mengakibatkan Neutron muntah.
Disaat-saat itulah Manah menyerang balik dengan melancarkan kapaknya ke dada Neutron, membuat dada Neutron seketika terluka cukup parah.
“Ya... Inilah, kemenangan sudah di depan mata, selamat tinggal, Neutron!!” Ucap Manah sambil melompat ke arah Neutron, lalu melayangkan kapak ke kepalanya. Namun tiba-tiba, waktu yang awalnya terhenti dimulai kembali, Ares yang awalnya ingin menerjang Neutron malah salah sasaran menjadi Manah, karena Manah-lah yang berdiri diposisi ketika Ares mulai menerjang Neutron. Ares pun memposisikan tangan kanannya seperti mencekeram lalu digerakkan ke punggung untuk mengambil pedang andalannya, lalu ia layangkan pedang itu ke kepala Manah.
__ADS_1
Diwaktu yang sama pula, Neutron ikut serta melancarkan tombak Hasta ke arah jantung Manah, dengan harapan bisa membunuhnya. Manah pun terkepung dari kedua sisi dengan persiapan yang belum matang.
“Sial! Sekarang aku harus memutuskan serangan mana yang akan kuhindari, karena mustahil jika kuhindari keduanya disaat yang bersamaan. Ini adalah pertaruhan hidup dan matiku, aku tidak boleh salah langkah...” Ujar Manah dari dalam hati dengan sedikit panik.
“Semuanya sesuai dengan rencana... Dia akan masuk ke dalam jebakanku.” Ucap Neutron dari dalam hati dengan penuh percaya diri akan rencananya.
“Jika aku melompat ke kanan, aku malah bertindak layaknya bunuh diri, karena arah itulah tujuan Ares, ia menerjang dari kiri ke kanan. Dan jikaku melompat ke depan, aku akan langsung mati oleh Neutron. Satu-satunya jalan yang memungkinkan adalah melompat ke belakang... Ya, benar!” Manah pun memutuskan untuk melompat ke belakang, alias melompat ke arena. Jarak antara arena dengan kursi penonton cukup tinggi, sehingga Manah merasa percaya diri kalau ia takkan lagi diikuti.
Manah pun terjatuh ke arena dengan perasaan lega, karena berhasil lepas dari kejadian menegangkan barusan. Namun ia baru saja tersadar, kalau ia akan jatuh tepat di bawah Hel yang masih berlari-lari mengitari arena.
“M-Mustahil! Bagaimana bisa?! Ini semua bohong, 'kan?! Apa yang baru saja kau lakukan?! Jawab aku, Neutron!” Tanya Manah dengan panik, akibat ia akan menimpa temannya sendiri.
“Kalau begini saja, aku tak perlu membuang-buang waktu untuk meladenimu, dasar lemah!” Ujar Neutron sambil berbalik arah untuk kembali duduk dikursi penonton, sementara itu, Ares kecewa karena dirinya tidak mendapatkan jatah dalam pertarungan barusan.
Bersambung...
__ADS_1