Demon Lord Reborn

Demon Lord Reborn
Chapter 27: Esir vs Freya V


__ADS_3

Esir perlahan mundur seraya menahan rasa sakit yang dideritanya. Dahi, dada, lengan dan perutnya memiliki luka tusukan yang parah, sehingga ia sulit untuk membalas serangan.


“Tidak, kurasa tidak... Aku tidak boleh menyerah... Selagi memungkinkan, aku akan melakukannya. Luka-luka ini tak cukup untuk menghalangi tekadku, dasar bodoh! Setidaknya, akan kuberikan kau perlawanan terbaikku... Itu, 'kan yang kau mau?” Esir tersenyum.


“Boleh juga. Tunjukkanlah perlawanan terbaikmu, setidaknya sebelum kau mati ditanganku, ya.” Freya menyimpan kembali Sword of Mercy menuju dan melipat kedua tangannya seraya berkata demikian, seakan dirinya telah siap untuk menerima serangan Esir secara cuma-cuma.


“Apa yang kau lakukan, hah? Mengapa kau melenyapkan Sword of Mercy-mu? Seakan-akan kau meremehkan seranganku dengan bersikap seperti itu. Ingatlah, menghormati lawan adalah bagian dari pertarungan, tunjukkanlah rasa hormatmu, wahai Dewi!” Esir keheranan.


“Aku tak perlu menghormati mahkluk yang lebih rendah dariku. Bagiku, hal itu hanya menurunkan keanggunanku dan membuang-buang waktu saja, tak memiliki manfaat sama sekali untukku.” Balas Freya dengan angkuh.


“Artinya, kau lebih buruk dari mahkluk yang kau anggap lemah itu sendiri. Kau saja tak sanggup menghormati lawan, sementara itu aku mampu melakukannya.” Esir melesat layaknya kilat menuju Freya dengan perbedaan jarak sejauh 3 meter.


“Lagipula, aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu. Aku berniat untuk memakai kemampuan lain yang sanggup dengan mudah melenyapkanmu, bodoh!” Freya menjulurkan tangannya kepada Esir sambil mengeluarkan jurus , membuat Esir hilang keseimbangan hingga tak mampu mengendalikan tubuhnya dan perlahan terdorong menuju yang diciptakan oleh dirinya sendiri.


“A-APA?! Esir terdorong jatuh menuju jebakannya sendiri! Inikah senjata makan tuan?” Ucap Alice yang nampak terluka akibat jurus yang meledak tak jauh darinya. Apalagi Alice tengah menyelamatkan beberapa Ular Cerdas yang tak sanggup menyelamatkan diri, sehingga ia ikut menjadi korban.


Esir pun terjatuh dan masuk pada ciptaannya sendiri, ia tenggelam pada kegelapan yang perlahan menyelimuti dan menelan tubuhnya.


“Memalukan... Benar-benar memalukan... Bisa-bisanya aku kalah dengan cara memalukan seperti ini... Aku menyesali semua yang terjadi... Kurasa tidak, penyesalan tidak ada gunanya. Sudah terlambat untukku menyesal. Aku sudah melakukannya, bukan? Aku telah menjalani hidup. Tidak ada gunanya untuk berharap aku bisa mengubahnya.” Esir tersenyum, tepat sebelum sepenuh tubuhnya terhisap oleh .

__ADS_1


Seluruh penonton tercengang dengan kejadian ini, mereka hanya bisa melihat sosok Freya yang berdiri di arena sendirian, tanpa Esir di sana.


“Apakah semuanya telah berakhir...? Ya, semuanya berakhir... Tak ada gunanya lagi menunggu kedatangan Esir yang dipenuhi tanda tanya... Sesuai peraturan, siapa yang diketahui terjatuh ke bawah arena akan mengalami kekalahan... Alhasil, pemenang pertandingan kedua adalah... Dewi Ketidakberuntungan, Freya!” Para penonton bersorak-sorai setelah mendengar keputusan Alice.


“Ya!! Selamat, Freya! Kau berhasil! Aku beruntung telah memilihmu! Kini, aku untung dan mendapatkan Item Instant Level dari pertaruhan!”


“Kurasa, dia telah mati... Bodoh sekali, kalian... Merayakan kemenangan di samping kematian. Berikanlah sedikit rasa hormatmu kepada Esir. Bukankah dia memiliki ras yang sama dengan beberapa dari kalian, hah?” Ucap Peace yang kecewa dengan tingkah laku manusia terhadap sesama, membuat arena menjadi sunyi.


“Tch, merepotkan juga manusia itu... Di sisi lain, terima kasih telah memberikan pengalaman baru untukku, melawan sosok yang luar biasa sepertimu itu menyenangkan, ya... 100 pertarungan, 98 kekalahan dan 2 kemenangan. Aku tidak akan pernah menganggap sebuah pertarungan jika lawannya lemah.” Freya berjalan menuju ujung arena dan mulai terbang ke kawasan penonton.


“S-Sepuluh kali pertarungan... D-Delapan kali kemenangan... Dan... D-Dua kali kekalahan...” Cakap Esir dengan lirih, selayaknya sosok yang tengah sekarat.


Beberapa tahun pada masa lampau, Esir dan Jīngrén tengah melakukan pemanasan di lapang hijau, sebelum mereka bertarung sesuai perjanjian terakhir kali ketika berlatih.


“Ya... Sebenarnya aku tak pernah janji, sih. Namun, tawaranmu kuterima, akan kuusahakan sebaik mungkin demi mengalahkanmu, senior Jīngrén!” Balas Esir sambil sedikit jongkok dan menjulurkan kepalan tangan kanannya ke depan. Sementara itu, tangan kiri dibuka lebar dan ditaruh sejajar dengan dada.


“Mengesankan, baru beberapa minggu kau telah sanggup melakukan teknik-teknik hebat. Walau tingkatannya masih rendah.” Jīngrén meniru Esir sambil tersenyum dengan sedikit jongkok dan menjulurkan kepalan tangan kanannya ke depan. Sementara itu, tangan kiri dibuka lebar dan ditaruh sejajar dengan dada.


“Ha!” Esir meluncurkan tendangan keras kaki kiri, mengarah ke kaki kiri Jīngrén dengan tujuan untuk menghancurkan keseimbangannya. Rencana itu berhasil, disertai pukulan bertubi-tubi ke wajah Jīngrén menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


“Sial!” Jīngrén mencoba bertahan dari pukulan Esir dengan menggunakan kedua tangannya yang diposisikan tepat di hadapan wajahnya. Teknik itu ampuh dan berhasil menahan seluruh pukulan Esir yang terbang pada wajahnya, sehingga menciptakan sebuah peluang untuk Jīngrén membalas serangan, selagi Esir tengah bersiap-siap.


“Ha ha ha! Sekarang giliranku, bodoh!” Jīngrén melayangkan sebuah pukulan tangan kanan yang mengeluarkan listrik bertenaga tinggi, bahkan mampu menyetrum siapa pun yang berada di dekatnya.


“Apa-apaan pukulan itu, cok!? Bukankah itu terlalu mengerikan? Sial, kalau begini aku harus mengeluarkan jurus pamungkasku...”


“Menyerah!”


Jīngrén menghentikan pukulannya, sebelum mendarat pada wajah Esir. Dia memasang wajah kekecewaan kepada Esir, karena menyerah sebelum kalah.


“Ah, terlalu cepat, sat! Aku masih butuh lebih banyak serangan lagi, duh... Tapi, teknikmu sudah lumayan, kok. Aku menyukainya, tinggal berlatih untuk menyempurnakannya. Guru Hades dan aku akan membantumu, dan sekitar beberapa hari lagi kau akan melampauiku, percaya saja, aku bisa melihat masa depan.” Jīngrén tertawa tipis selayaknya candaan.


“Ya, akan kujadikan itu nyata! Lihatlah 3 hari ke depan, walau waktunya sedikit dan terlihat mustahil. Akan kupatahkan semua keraguan, ingatlah!” Ucap Esir dengan semangat sambil menunjuk Jīngrén.


Tiba-tiba, langkah kaki terdengar penuh intimidasi dari arah belakang Esir. Ketika Esir menoleh ke sumber suara, ia ketakutan dan mulai berkeringat. Sosok yang berjalan menghampiri mereka adalah Hades dengan rambut hitam pendek, mata cokelat sipit, baju hitam ketat, celana hitam dan sepatu kulit hitam.


"Sedang apa kalian berdua, hah...? Kurasa, siang ini adalah waktu yang tepat untuk berlatih, berhubung saya habis mengacaukan kerajaan sebelah dan merasa semangat. Jadi, siapkan saja diri kalian.” Kedua mata Hades memancarkan sinar merah, disertai oleh kemunculan Aura mengerikannya.


"Baiklah, guru Hades! Saya sudah siap untuk melakukan latihan kedua pada siang hari yang cerah ini. Berhubung saya tak kenal lelah." Balas Jīngrén dengan berpura-pura semangat.

__ADS_1


“Aku pun sama.” Jawab Esir.


Bersambung...


__ADS_2