
Majhulpun melancarkan pukulan kerasnya ke perut Zombie tipe Predatory, membuat organnya hancur dari dalam. Selang beberapa menit setelah Majhul memukulnya, Zombie tipe Predatory musnah tak bersisa akibat sejarahnya yang sebelumnya telah dihancurkan. Majhul merasa bahagia, senang dan gembira pada saat itu, ia sedikit tak percaya bahwa dia benar-benar bisa mengalahkan musuh yang begitu kuat baginya.
[Selamat! Level meningkat menjadi 149. Selamat! Fragment bertambah menjadi 69. Selamat! Skill Adaptation telah menunjukkan kebangkitan aslinya yakni Awakening. Skill Adaptation Awakening membuat setiap peningkatan kekuatan Anda menjadi permanen.]
“Ya... Aku mengalahkannya... Puas? Tentu saja. Dialah lawan tertangguhku sejauh ini... Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk bersenang diri. Aku harus membantai mereka terlebih dahulu. Sejujurnya, aku tak menyangka kalau keroco seperti kalian bisa bertahan dari aura mengerikanku... Walau hidup kalian memang akan berakhir sebentar lagi. Information Control? Tidak perlu, dengan kedua tanganku saja sudah cukup. Menderitalah kalian akibat membuat kerusuhan di desa ini, keroco!” Majhul perlahan berjalan naik ke permukaan. Sesampainya ia di sana, Majhul langsung memukul kedua tangannya sambil terseyum lebar, didampingi oleh aura mengerikannya yang tersebar ke mana-mana. Uniknya, aura Majhul yang tersebar itu malah bertemu dengan aura Peace yang membuatnya saling beradu di langit malam.
Lampu-lampu desa penampungan tidak sempat diaktifkan sebab kepanikan yang merajalela akibat dari penyerangan massif para Zombie. Mereka yang panik melarikan diri keluar dari desa dan pergi menjauh sampai situasi kembali aman seperti semula. Namun, tidak bagi para Ular Cerdas Petarung selain Majhul, mereka juga melindungi desa dari sisi lain dan membantu evakuasi para Ular Cerdas. Salah satu Ular Cerdas Petarung yang sangat mencolok adalah Al'Aqwa, dia dapat menembus ketahanan para Zombie yang setara bangunan besar dengan sangat mudah, bahkan dengan jari telunjukpun ia bisa membunuh sesosok Zombie.
“Ja ha ha ha ha ha! Sadarilah posisi kalian, dasar bodoh! Konyol sekali, bisa-bisanya seekor tikus menyerang kandang ular yang sedang lapar. Bodoh sekali... Aku jadi tidak bisa membayangkan pemimpin kalian itu. Kira-kira, dia sebodoh apa, ya? Ja ha ha ha ha ha!” Ucap Al'Aqwa dengan nada menghina sambil tertawa tipis.
__ADS_1
“Ya... Kami memang lemah jika dibandingkan kalian... Namun, pemimpin kami yakni Tuan Chronus jauh lebih kuat dari siapapun, termasuk kalian. Dia bisa melakukan apapun sesuai keinginannya. Apalagi, bersama adiknya yakni Tuan Jovah, dia bisa menguasai dunia ini! Dengan kepintaran dan kegilaan yang bersatu. Ingatlah pesan terakhirku ini...” Kata salah satu Zombie berukuran normal dengan tubuh yang berlubang layaknya donat sehabis diserang Al'Aqwa. Setelahnya, ia terjatuh ke tanah lalu mati dengan darah yang berceceran ke mana-mana.
“Tch, bahkan diakhir hayatnya, ia masih sempat mengagungkan tuannya itu. Kalau begitu, saatnya berpindah sisi, kurasa tugasku di sini telah selesai dengan sempurna!” Kata Al'Aqwa sambil mengeluarkan buah apel dari selipan di celana kulitnya lalu memakannya dengan lahap.
Di sisi lain, Peace, Astaroth dan Gram nampak sedang berdiri di hadapan Raja Zombie dengan aura yang mengerikan. Tubuh mereka berdiri dengan kokoh sembari menunjukkan wajah seriusnya. Perlahan, Peace mengeluarkan pedang dari punggungnya menggunakan tangan kirinya. Diwaktu yang sama juga, Gram mengeluarkan jurus yang menciptakan sabit api digenggaman tangan kanannya. Tak mau kalah, Astaroth ikut serta dengan mengaktifkan ular-ular disekujur tubuhnya.
[Peringatan! Zombie di atas rata-rata ada di hadapan Anda dengan level 10. Skill-nya sama dengan Zombie pada umumnya, namun yang membedakan adalah kekuatan fisik mereka. Potensi terbesar kekuatan fisik mereka adalah menghancurkan sebuah gunung dengan sangat mudah.] Ucap Emerald, Ruby dan Hope secara bersamaan.
Merasa telah diremehkan, Zombie itu kesal dengan amarah yang tak tertahankan lagi. Ia mengeluarkan jurus yang membuatnya memukul angin hingga terdistorsi. Efek dari pukulan itu menciptakan gelombang kejut serta angin ribut yang menghancurkan setengah desa penampungan. Sementara itu, Peace, Astaroth dan Gram berusaha untuk bertahan dari segala bencana yang tercipta dari Heavy Punch Zombie tersebut.
__ADS_1
“Sial, seakan-akan pukulannya bisa menciptakan bencana alam yang begitu dahsyat. Namun, hal ini... Seru juga, ya.” Ucap Peace sambil mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Zombie itu. Ia mengeluarkan jurus pamungkas untuk menyakiti Zombie tersebut. Dari telapak tangan kirinya, muncullah sebuah pusaran air yang menciptakan air lainnya tanpa henti dari dalam sana menuju tubuh Zombie itu.
Dengan mudahnya, Zombie tersebut menghindari Blue Beam sembari berkata, “Kecepatan yang lebih cepat dari suara itu tidak bisa menghentikanku sama sekali. Kau terlalu cepat 1000 tahun untuk melawanku, wahai anak muda!” Ketika matanya sedang fokus ke arah Peace, Gram berlari ke bagian kiri Zombie, sedangkan Astaroth berlari ke bagian kanan Zombie. Mereka berdua berniat untuk berlari ke leher Zombie.
“Ketika kita sampai di leher Zombie, dia akan merasakan keberadaan kita berdua dan malah mengganti fokusnya, yang awalnya ke Tuan Peace, malah ke kita berdua. Dan disaat-saat itulah Tuan Peace akan mengeluarkan jurus Heitari-nya untuk memusnahkan tubuh dan jiwa beserta sejarah Zombie. Sebenarnya, aku bisa saja mengeluarkan Skill Destiny dan Skill Causality Control-ku yang sebelumnya belum pernah kupakai. Namun, lebih baik kugunakan kedua Skill itu disaat-saat krusial saja, seperti ketika aku hampir mati.” Ucap Gram dari dalam hati yang akhirnya sampai di pundak Zombie, diikuti oleh Astaroth yang juga telah sampai dibagian kanan pundak Zombie.
Tanpa berlama-lama, mereka melompat bersamaan ke leher Zombie sambil menancapkan ranting pohon supaya tidak jatuh. Hal ini membuat Zombie merasa sedikit kesakitan lalu menepuk lehernya menggunakan tangan kanan. Dengan cepat dan lincah, mereka melompati tangan kanan Zombie yang membuat tepukan Zombie meleset. Zombiepun berkata, “Apa ini? Mereka menganggu sekali.”
“Tuan Peace! Saatnya telah tiba! Lakukan sesuai rencana!” Ucap Gram dengan suara keras dan lantang. Perkataannya juga didengar oleh Zombie yang membuatnya seketika kebingungan sembari berkata, “Suara? Oh, mereka adalah kedua pemain itu!”
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Peace mengarahkan telapak tangan kirinya ke arah Zombie. Telapak tangan kiri Peace memunculkan api yang semakin lama membesar, Peace mengeluarkan jurus dengan memusatkan seluruh api yang dimilikinya ke telapak tangan kirinya. Dengan api yang tak terbatas dan Mana yang terbatas, Heitari sudah sebesar tubuh Zombie. Tanpa perlu basa-basi, Peace langsung melepaskan Heitari ke arah Zombie.
Bersambung...