Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Chemistry


__ADS_3

Kenapa dia menanyakan itu? Ku pikir dia akan marah karena aku menulis sesuatu yang buruk tentangnya batin Megan


Bisa-bisanya aku bertanya hal konyol batin Dalton


Megan menggelengkan kepala tanda tidak punya


"Tidak punya Pak... Hemm memangnya kenapa?" tanya Megan


"Soalnya... gak jadi lah...," ucap Dalton


"Kok gak jadi... kan jadi penasaran," jawab Megan


"Tadinya aku mau tanya soal gimana cara mendekati perempuan. Tapi kau sendiri belum pernah punya pacar, so tidak jadi," ucap Dalton dengan mengganti alibinya.


Entah kenapa melihat Megan yang hanya menggunakan kaos, sedikit tipis apalagi no br4 malah semakin menarik perhatiannya. Padahal dia sering melihat wanita buggils di setiap pesta dengan para kliennya. Bukan hal tabu di luar negri, itu sudah biasa dan sering menjadi konsumsi publik


"Hemm meremehkan kelebihanku ya. Besok lihat saja, pasti pak Dalton bisa pergi dengan Victoria. Pak Dalton mau mendekati Victoria kan hehe," ucap Megan


"Ok, kita lihat saja,"


"Kalo misi ku berhasil, aku minta 3 permintaan,"


"Aku bukan jin,"


"Ya Pak Dalton memang bukan jin tapi Devil, alias setan!" ucap Megan


Pletak


Sentilan keras mendarat di jidatnya


"Kalau misi itu berhasil, hutangmu Lunas. Kalau tidak silahkan pergi dari perusahaan ini. Deal or no,"


"No, aku tidak ingin itu. Aku hanya ingin diberikan pinjaman modal untuk buka usaha. Aku bukan tipe orang yang bisanya meminta, Deal?" ucap Megan mengulurkan tangannya sebagai bentuk diterimanya kerjasama


Seketika Dalton menyukai karakter Megan, persis seperti dirinya yang memiliki sebuah ambisi. Dalton akhirnya mengiyakan keinginan Megan.


"Ok deal," jawab Dalton


"Begini saja, buat perjanjian dengan Victoria dengan nama lain. Sesukamu, jangan pakai nama asliku. Jangan pakai nama perusahaan ini. Buat saja perusahaan cangkang, perusahaan yang hanya sebuah nama," ucap Dalton


"Itu ilegal, kau ingin menipu Victoria?" sahut Megan


"Haha tidak smua perusahaan cangkang itu ilegal. Tapi ya memang kerap digunakan secara tidak sah untuk menyamarkan kepemilikan bisnis yang sebenarnya. Daripada kau mengatakan jika aku tidak bisa berbisnis atau tidak mengerti investasi karena yang mengerjakan semua adalah anak buahku, itu malah membuat namaku buruk Megan," jelas Dalton


"Baiklah aku akan mengubah semuanya, namamu dan nama perusahaan. Kalau begitu mulai sekarang nama pak Dalton adalah Vincent," ucap Megan


Ketika Megan mengatakan nama Vincent, entah kenapa Dalton merasa dari hatinya yang terdalam, seperti ada yang menggetarkan dirinya seakan memang itulah namanya.


"Nama yang bagus, tetapi coba yang lain," pinta Dalton

__ADS_1


"Itu sudah paling bagus," ucap Megan tetapi Dalton tidak bersuara, dia seperti menimbang sesuatu. Ada perasaan lain yang mengatakan jangan pakai nama itu.


"Jack, Dominic, Adams, Bryan...," sahut Megan lagi dengan pilihan yang lebih banyak


"Bryan terlihat friendly, ok ubah namaku menjadi Bryan. Jangan lupa buat semua identitas ku seperti kartu nama, id pengenal, stempel dan lain sebagainya menjadi nama Bryan sebagai pemilik. Kau bisa cetak semua di bagian design lantai 3," ujar Dalton


Megan mengiyakan, kemudian Dalton pamit pergi lagi untuk ke dua kalinya.


Satu jam kemudian, Megan merasa lelah. Sebenernya buat proposal tidak selama itu hanya saja. Dia mengerjakan laporan yang lain sehingga besok pagi dia tidak terlalu repot.


Haus yang menyerang tenggorokannya membuat Megan beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju pantry. Teh hangat, sepertinya cocok untuk melepaskan lelahnya agar lebih rileks.


Suasana kantor sepi, tidak ada siapapun. Office boy juga sudah pulang. Hanya ada satpam yang ditempatkan bekerja di setiap lantai. Megan sudah mengatakan pada Satpam di depan Divisi jika dirinya lembur. Maka ruangan di depan divisi akan dijaga olehnya.


Tanpa sepatu high heels Megan berjalan sangat santai berlenggak lenggok tanpa ada yang memperhatikan, sambil bernyanyi dan sedikit menggerakkan tubuhnya. Dia tidak tahu jika masih ada seseorang di sana sedang mengamatinya menari-nari di pantry.


Begitu selesai membuat teh hangat, Megan menyesapnya sedikit demi sedikit. Lalu berbalik dan....


jreng jreng jreng


Dalton yang duduk di sofa pojokan, kakinya berada di atas meja. Laptopnya berada di pangkuannya dan matanya sedang memandang Megan


Byuur


Megan menyembur minumannya karena terkejut dengan kehadiran Dalton di sana. Didalam ruangan Pantry


"Pak... astaga kau seperti setan...," ucap Megan


Bahkan masih terngiang jelas di pikirannya betapa seksinya Megan kala itu. Berkali-kali pula ia hanya bisa menelan salivanya.


"Katanya pulang? Kenapa masih disini?" tanya Megan


"Kau tidak tahu jam berapa ini? Dan diluar hujan," ucap Dalton melemparkan pandangannya pada layar komputer


"Haha jangan bilang kau sedang mengkhawatirkan karyawan mu yang cantik ini," ucap Megan memuji dirinya sendiri sambil menyesap kembali teh buat buatannya.


"Ya bisa dibilang begitu," jawab Dalton


Ia lalu kembali ke meja dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Bosnya itu, meskipun tanpa disuruh.


"Oh so sweet, kau adalah bos yang terbaik dari sekian bos yang ada," puji Megan


Dalton tidak menjawab, kemudian Megan memberikan teh untuk Dalton


"Silahkan My king of the year," ucap Megan


Dalton tertawa kecil


"Thanks," ucapnya mengambil teh dari tangan Megan.

__ADS_1


Megan duduk di meja makan yang terletak di tengah pantry. Tidak ada pembicaraan apapun, keduanya menikmati teh hangat hingga habis.


"Aku lelah, dan ingin pulang. Terimakasih pak Dalton telah menemaniku," ucap Megan membawa gelasnya ke wastafel untuk di cuci


"Aku antar," Dalton menutup laptop dan beranjak. Ia membawa gelas tehnya dan menaruhnya di samping meja wastafel.


"Hmm ok.. terimakasih," jawab Megan yang biasanya dialah yang meminta tumpangan kini ketika Dalton sendiri yang menawarinya, Megan malah canggung.


Megan berkemas dan mematikan lampu ruangannya, lalu keduanya berjalan beriringan dan pamit pada satpam yang berjaga di depan divisi


Pak Dalton tidak pernah sedekat ini dengan karyawan perempuannya wah bisa jadi bahan gosip ini batin satpam


Sesampainya di mobil Dalton, Megan melupakan kacamatanya. Dia tidak mungkin naik ke lantai 7 lagi untuk mengambil kacamatanya, capek.


Lalu saat mengaitkan seatbelt Megan sampai memiringkan mata dan membungkukkan badan agar pas kaitannya


"Kau kenapa?" tanya Dalton


"Mencari kaitan Seatbelt, aku tidak bisa melihat tanpa kacamata, bisa jika dari jarak dekat," ucap Megan


Dalton mendekat dan mencari kaitan Seatbelt, kini keduanya kembali dekat. Semakin menciptakan chemistry secara tidak langsung.


Ditengah perjalanan keduanya diam, bukan tidak ada bahan perbincangan melainkan keduanya sudah lelah. Lebih banyak menikmati musik nostalgia yang diputar Dalton


Hujan lebat berubah menjadi gerimis. Megan turun setelah sampai di depan rumahnya. Dalton yang biasanya hanya menurunkan Megan di halte bus atau gang depan rumah. Kini ia menurunkannya tepat di depan rumah yang kecil dan sangat sederhana.


"Ini rumahmu," tanya Dalton


"Iya, hmm Pak Dalton jangan ikut turun, masih hujan,"


"Kamu tuh pede banget ya," ucap Dalton


"Terimakasih pak, bye," pamit Megan sambil berlari menuju rumahnya.


Kaki Megan menginjak dedaunan besar yang membuat dirinya jatuh terpeleset. Untung saja ada seseorang yang menangkapnya


Deg deg deg


Jantung Megan berdebar saat tahu Dalton yang menangkapnya. Bayangan yang ada di kepalanya seperti adegan romantis yang ada di drakor. Tapi semua sirna saat mulut pedas Dalton mengatai dirinya


"Bodoh, jalanan licin. Kenapa lari, jalan saja kan bisa, dasar ceroboh!" ucap Dalton


Megan gemas, dia tidak ingin berdebat malah ingin menutup bibir Dalton dengan bibirnya


Cupp


Deg deg deg deg (Debaran jantung Megan )


Deg deg deg deg ( debaran jantung Dalton)

__ADS_1


Bukan ciuman hanya satu kecupan untuk menutup mulut Dalton yang pedas.


__ADS_2