Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Gertakan


__ADS_3

Di sebuah ruangan besar dan luas, semua perabotannya terlihat mewah berkelas dengan interior bangunan klasik modern, masuklah seorang kakek tua dengan pakaian lusuh rambut putih dan tipis, tangan diikat dan mulutnya di lakban. Di belakangnya ada dua bodyguard yang menjaganya dibelakang. Kemudian Dia di paksa untuk berlutut.


Di hadapannya ada sebuah meja besar dengan kursi eksekutif sering disebut oleh kursi bos, memiliki bantalan yang lebih tebal dan empuk.


Desainnya pun dibuat kokoh, mewah dan eksklusif. Ukurannya tentu jauh lebih besar. Selain itu, sandaran di bagian belakang dibuat lebih tinggi agar bisa menopang kepala dan bahan kursi ini menggunakan kulit asli berkualitas tinggi.


Seseorang duduk disana membelakangi pria tua, ia menghadap ke jendela kaca dengan pemandangan kota.


"Bos, orang yang kita cari sudah ada disini," ucap salah satu bodyguard.


Lalu pria yang duduk di kursi eksekutif itu berputar sembari meletakkan wiskinya di atas meja. Ia melihat pria tua itu berlutut di depannya.


"Sean George, apakah aku punya salah padamu?" tanya Dalton kemudian berdiri dan melangkah maju mendekati Pria tua. Ia menyuruh anak buahnya untuk membuka lakban di mulutnya


Krek


"Ah," keluh pria itu merasa perih


"Si-siapa kau?" tanya Pria tua itu


"Karena mulut mu itu, nyawa ku hampir melayang," ucap Dalton


"Apa kau sungguh tak ingat aku?" tanya Dalton kemudian berlutut dengan satu kaki menghadap pria tua yang rambutnya hampir semuanya memutih.


"Dalton... kau kah itu?" ucap pak tua yang rupanya tidak dapat melihat dari jarak jauh


"Kalau kau seumuran denganku, sudah ku kirim kau ke neraka. Karena mu pembunuh orang tuaku kembali mencariku," ucap Dalton menyentuh rahang pria tua yang sempat menceritakan tentang Dalton kepada Mark.


Dia adalah pria tua penjual rokok dan minuman ringan dengan gerobak kelilingnya.


"Dia mengaku jika dia detektif, aku hanya ingin dia mencari tahu siapa pembunuh orang tuamu," ucap Pria tua itu


"Ck kau dibohongi pak tua," desis Dalton

__ADS_1


Lalu ia melepaskan rahang pria tua itu, "Lain kali kalau ada yang bertanya soal ku, bilang saja aku telah mati, kalau kau berbicara sembarangan lagi maka aku tak akan segan merobek putri mu," ancam Dalton seraya menepuk pundak pak tua kemudian beranjak berdiri.


"Apa maksudmu merobeknya? Kau akan melecehkan dirinya? Atau...," belum selesai pak tua bicara Dalton sudah meneruskannya


"Aku akan merobek ususnya...," Dalton tersenyum licik kemudian tertawa terbahak-bahak karena melihat reaksi pak tua, "Hahaa...,"


Dalton tertawa sembari melangkah keluar ruang kerjanya yang ada di rumah. Sementara Pak tua itu terus berkata pada Dalton untuk memakan kesalahannya dan dia tidak akan mengulanginya. Ia terus berkoar agar putrinya tidak menderita padahal Dalton hanya menggertak. Dia tidak akan pernah tega dengan orang miskin.


Rob mengambil kain hitam dan menutupi wajah pak tua agar pria itu tidak tahu lokasi rumah Dalton.Lalu Rob menyuruhnya untuk berdiri dan keluar dari ruangan itu dan memasukkannya ke dalam mobil, sopir akan mengantarnya kembali ke rumahnya.


"Dia sudah diantar bos, apa rencana anda selanjutnya," ucap Rob setelah mengantar kepergian Sean George, pak tua.


"Rob, apa kau lapar?" tanya Dalton tidak menjawab pertanyaan asisten pribadinya itu.


"Tidak bos,"


"Kau terlihat pucat, aku sudah memesan pizza dan pasta kesukaanmu. Aku pesan banyak buat anak-anak juga. Jika makanannya sudah datang kalian makanlah dahulu oke,"


"Terimakasih bos," ucap Rob tersenyum senang.


Dipertengahan jalan ada seseorang yang membuntutinya, segerombol preman mengincar tas yang dibawa Dalton. Dalton kalah jumlah saat melawannya, karena saat itu tangannya belum terpasang tangan besi. Dia sedikit kesusahan melawan gerombolan preman.


Tak berapa lama datanglah Rob dengan penampilannya yang kumuh, ia membantu Dalton terbebas dari para preman.


Dari situlah Dalton menjadikan Rob asisten kepercayaannya sekaligus pelindungnya. Karena mereka membangun usaha bersama dari sejak tidak memiliki apa-apa hingga sukses.


Makanan delivery datang, Rob dan anak buahnya yang lain ikut menyantap makanan yang dipesan Dalton. Mereka berpesta kecil di rumahnya yang besar.


Usai makan, Dalton meminta beberapa anak buahnya berjaga di kantor, rumah dan dua orang ikut dengannya termasuk Rob.


"Rob, berkas yang ku pinta kemarin sudah kau selesaikan?" tanya Dalton sebelum mereka bersiap pergi


"Sudah bos, sebentar," ucap Rob kemudian ia menuju ruang kerja Dalton dan me aruh semua berkasnya dalam koper kecil.

__ADS_1


Tak berapa lama Rob kembali dengan menyerahkan koper berisi berkas itu kepada Dalton. Dalton memeriksanya dahulu sebelum mereka pergi.


"Bagus sekali, kali ini aku akan membuat Victoria bangkrut dan mempunyai hutang dimana-mana haha," senyum Dalton merekah.


Pagi itu Dalton pergi tanpa Megan. Dia tidak ingin Megan terluka jika sewaktu-waktu melihat apa yang dilakukan Victoria padanya. Meskipun Dalton tidak berniat bermesraan tetapi melihat Victoria yang sedikit agresif apa salahnya berjaga-jaga agar tidak menyakiti hati Megan.


"Bos jangan lupa perketat tangan palsu mu, kita sebaiknya tidak membuat kesalahan sebelum dia masuk ke perangkap," ucap Rob


Dalton menurut, karena Rob juga benar. Jika ingin menjalani kerjasama, kita tidak boleh menunjukkan kebohongan di depan atau rencana itu akan gagal.


"Aku ingin lihat rumah lamaku, kita mampir kesana sebentar," ucap Dalton pada sopirnya


"Baik Tuan," jawab Sopir


"Rob, sebaiknya kita tidak membiarkan bengkel itu terbengkalai. Buka kembali dan tambahkan mini market disekitar sana. Lalu rumah yang masih kosong segera cari penyewa baru atau jual dengan harga murah," ucap Dalton pada Rob


"Baik bos," ucap Rob lalu ia mengambil ponselnya dan menelepon penjaga bengkel yang sudah lama tidak beroperasi untuk membuka kembali.


Rob juga menghubungi anak buahnya yang mengurusi masalah rumah. Sesampainya di jalan menuju rumah lama Dalton, pria itu tiba-tiba mengingat hari kelam yang menghantuinya sepanjang hidup.


Ia memejamkan mata dan menyuruh sang sopir untuk putar balik.


"Pembunuh itu, kemana dia kabur?" ucap Dalton yang sebenarnya bertanya pada dirinya sendiri tetapi Rob langsung menjawabnya


"Kami tidak dapat menemukan identitas wajahnya tuan, karena dia memakai penutup wajah dan menghilang dengan baik sepertinya dia sudah lihai," ucap Rob


"Terus cari aku yakin kamera lain pasti menangkapnya di suatu tempat, jika sudah ketemu, sebarkan foto wajahnya dan pastikan dia akan menjadi buronan," ucap Dalton


Setibanya di kantor Victoria, pria itu telah dinantikan kedatangan. Belum saja Dalton melangkah masuk ke dalam ruangan, Victoria sudah menyambutnya dengan ciuman pipi kiri kanan serta kecupan singkat di bibir.


"Aku pikir kau tidak akan datang, karena Megan sekretarismu sudah kemari," ucap Victoria


Apa? Megan?.... batin Dalton yang langsung menoleh ke sofa tamu.

__ADS_1


Megan sudah duduk disana, menatapnya dengan tatapan dingin. Melihat apa yang dilakukan Victoria dan dirinya. Padahal Dalton sengaja tidak mengajak Megan karena takut hal ini akan terjadi tapi semua sudah terjadi, dan calon istrinya itu masih menatapnya dengan tajam.


__ADS_2