
Ahh gila ya tuh bos, gimana coba alasan yang gak masuk akal. Perusahaannya terkenal, pasti dia mikir tidak mungkin seorang Dalton tidak mengerti persoalan investasi, batin Megan setelah sampai di kantor dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Megan pulang dan akan mencari ide alasan yang akan di buat di proposalnya.
Ia berkemas, membawa laptop kantor dan berkas lainnya. Tapi ia menghentikan aktivitasnya dan berpikir, di rumah lebih tidak bisa konsentrasi. Selain lampu rumahnya yang tidak terang juga ada beberapa yang mati. Ditambah sang ibu sering batuk-batuk, pasti akan sangat mengganggu dari suaranya. Jadi dia memutuskan untuk menyelesaikannya di kantor secepat mungkin.
Megan membuka blazernya dan menyelinap masuk ke ruangan Dalton. Didalam ada kamar mandi kecil yang bisa ia gunakan untuk mandi.
Rencananya dia akan mandi dan menggunakan kaos tipis serta CD yang selalu dia bawa untuk ganti di dalam totebag miliknya.
"Wow... kamar mandinya keren banget, beda banget ya sama toilet karyawan. Astaga ada Bath upnya," seru Megan.
Suaranya bergema padahal dia hanya berbicara pelan. Matanya berbinar dan ingin merasakan mandi di dalam Bath up. Selama ini ia hanya melihatnya di televisi ataupun YouTube.
Di tutupnya lubang Bath up dan kemudian ia menyalakannya keran air lalu menyettingnya hangat. Megan juga mengambil sabun dan membuat airnya berbusa.
Dilepaskannya satu per satu kain yang melekat di tubuhnya. Ia menaruhnya di lantai dekat pintu. Untuk celana panjang yang akan dipakai lagi, di taruh di Wall Hook (Cantolan) dekat pintu.
"Ahh astaga enak banget, hmmm wangi. Jadi begini ya rasanya mandi di Bath up," ucap Megan seraya menyandarkan punggungnya ke dinding Bath up.
Tak berapa lama Dalton kembali ke kantor, ia ingin mengambil barangnya yang tertinggal. Flashdisk itu tertinggal di CPU komputernya, berisi beberapa filenya penting.
Begitu langkah kakinya menuju ruangannya. Dilihatnya Megan tak ada di depan ruangannya, namun tas dan blazernya masih berada di mejanya. Lantas Dalton masuk ke ruangannya.
Suara percikan air dari dalam kamar mandi, suara keran mengalir dan suara wanita bernyanyi.
Dalton berjalan ke kamar mandi, membuka pintunya dengan pelan. Dilihatnya kemeja pink dan br4 berwarna hitam berada di lantainya dan matanya beralih ke seorang wanita yang berada dalam Bath up. Wanita yang sangat di kenalnya dan dengan lancang masuk kedalam kamar mandinya tanpa ijin.
Dalton melepaskan sepatunya, jasnya, lalu masuk ke dalam, sengaja ingin memberi pelajaran pada Megan.
Ia mengelus pundak Megan dari belakang. Megan menghentikan nyanyiannya dan dia menoleh karena ada sesuatu yang menyentuh pundaknya.
"Hai...," ucap Dalton dengan senyum devil
"Aaaaahh!!!" Megan langsung menyipratkan air ke wajah bosnya itu
"Keluar!! Kau tidak sopan!" seru Megan
__ADS_1
"Mana yang tidak sopan, menggunakan kamar mandi pribadiku tanpa ijin hah?" ucap Dalton tak mau kalah
"Ta-tapi aku wanita, seharusnya kau tak boleh masuk," ucap Megan melotot dan tangannya masih menutupi dadanya. Untung saja air dalam Bath up masih berbusa sehingga bagian yang lain tidak terlihat.
"Ku beri kau waktu 5 menit dan keluar dari sini," ucap Dalton lalu pergi keluar.
Sesungguhnya dia sangat terpesona dengan Megan yang sedang mandi. Maka dari itu ia memilih pergi agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Setelah Dalton keluar, Megan langsung beranjak dan membersihkan busa sabun di tubuhnya di dalam shower box. Tak lupa sebelumnya ia membuang air bisa dalam Bath up dan membuatnya bersih seperti sebelumnya.
Lalu Megan mencari handuk..
Sialnya tak ada handuk di sana.
"Ahhh bagaimana ini," ucap Megan.
Ia lalu meraih kemejanya dan menjadikannya handuk dadakan. Tidak menyerap air. Rambutnya masih basah dan tubuhnya belum mengering dengan sempurna.
Megan lalu memakai kaos tipis, tanpa br4 dan memakai celana panjang tentu dengan CD yang dia bawa, hehe bagaimana rasanya pasti bisa kalian bayangkan. Karena memang Megan berniat lembur sendirian di kantor yang sepi.
Ia keluar dengan membawa kemeja dan br4 yang disembunyikan dalam lipatan kemejanya yangs setengah basah. Rambutnya masih menetes ke kaos yang tipis.
"Kenapa kau mandi disini, apa dirumahmu tidak ada air?" tanya Dalton
Megan muncul ide agar dirinya tidak terlalu dimarahi
"Hmm sebenarnya iya pak, dan saya juga berniat lembur disini karena tidak bisa mengerjakan proposal dirumah. Tidak ada lampu,"
"Tidak ada lampu?" Dalton mengernyit.
"Beberapa lampu putus pak," ucap Megan dan menunduk memasang wajah sedih
Dalton teringat dirinya yang dahulu, beruntung saat itu gereja mau menampung dirinya hingga bisa mendapatkan akses dan tidak pernah kekeringan air.
"Hemm ok aku maafkan kali ini. Tapi tolong jangan menggunakan atau masuk ke ruangan ini tanpa ijin. Kau tahu tempatku ini banyak rahasia besar. Jika hilang maka kau yang akan di tuduh," sahut Dalton yang ternyata memiliki hati pemaaf juga, padahal Megan sudah ketakutan
"Terimakasih pak, aku janji tidak akan mengulanginya,"
__ADS_1
"Sekarang kembali ke ruangan mu dan kerjakan pekerjaanmu,"
"Baik, permisi," Megan berjalan melewati Dalton
Mata Dalton menangkap benda yang naik turun melambai dengan seksinya.
Ahh sial kenapa dia seksi sekali, batin Dalton kemudian membuang wajahnya ke arah lain.
Lalu ia pergi, mengambil jasnya tetapi tidak dipakai kembali. Kemudian memakai sepatu yang tadi di lepas. Setelah itu ia mengambil flashdisk yang tertinggal dan mengantonginya.
"Megan, aku pulang dulu. Sebaiknya kau tidak pulang larut," ucap Dalton seraya berjalan keluar ruangan
"Ya pak, akan ku usahakan. Terimakasih,"
Megan membersihkan kacamatanya dan memakainya kembali. Lalu mulai memikirkan bahasa yang bagus untuk proposalnya.
Victoria bukanlah orang yang bodoh, jika alasannya Dalton tidak bisa berinvestasi maka dia tidak akan percaya.
"Hemm aku punya ide," ucap Megan.
"Dia mengatakan aku harus memikirkan bagaimana caranya kan maka apapun yang ku tulis bisa ku buat kalau karyawan yang terdahulu resign haha begini lebih baik. Jadi Victoria akan berpikir jika kesuksesan Dalton karena karyawannya bukan dirinya. Yang sebenarnya cerdas adalah karyawannya itu hahaha. Cerdas sekali kau Megan," gumam Megan sambil tertawa kecil
"Bagus sekali Megan," ucap Dalton yang berdiri di sisi dinding pembatas.
"Ah hehe pak... kau .... bukannya sudah pulang?" tanya Megan sedikit takut
"Hemm aku berubah pikiran. Coba ku lihat seperti apa surat proposal yang kau tulis,"
Berubah pikiran? Apa dia takut jika aku berbuat ulah lagi batin Megan
Dalton membelakangi Megan dan membaca tulisan yang baru diketik oleh sekretarisnya itu. Akan tetapi sesuatu membuatnya tidak fokus. Posisinya yang sangat dekat, berada diatas bahu wanita itu meskipun agak jauh namun cukup membuat aroma tubuh Megan terendus ke indera penciumannya. Membangkitkan hormon androgen miliknya yang telah lama tertidur.
"Megan," ucap Dalton
"Ya pak," Megan menoleh
Dalton pun ikut menoleh, kini pandangan mereka saling terikat.
__ADS_1
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Dalton
"Hah?" Megan sedikit menjauhkan wajahnya karena merasa mereka terlalu dekat