Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Tidak Boleh Jatuh Cinta


__ADS_3

Megan melepaskan kecupannya, karena Dalton juga hanya diam.


Mereka saling berpandangan dalam gerimis, menatap satu sama lain mengartikan isyarat tanpa kata. Menerka-nerka dalam hening.


Ada pepatah bilang janganlah kau mencintai seseorang di saat hujan, karena jika kau kecewa dan patah hati, maka bayanganmu tentangnya akan selalu muncul ketika hujan datang. Yang tadinya menyukai hujan, mendadak membencinya karena perpisahan kalian.


Perasaan yang mendebarkan ini, apakah aku telah jatuh cinta batin Dalton yang terdiam setelah mengomeli Megan, wanita itu berhasil membuatnya bungkam.


Karena malu Megan pergi tanpa kata dan masuk ke dalam rumahnya


Dalton masih mematung di tempatnya, setelah Megan pergi dia baru menyadari jika wanita itu telah masuk. Ia pun kembali ke mobil dengan tubuh dan pakaian yang sedikit basah.


Ia tidak langsung melajukan mobilnya, terdiam cukup lama sambil menatap rumah Megan.


"Tidak boleh terjadi, aku hidup untuk balas dendam kematian orang tuaku. Kehadiran cinta bisa menjadi boomerang bagiku sendiri," ucap Dalton pada dirinya sendiri.


Ia membuka sarung tangan yang terus melekat di tangan besinya. Menatap tangannya dengan segala memory yang terekam. Di hina , di hujat, di remehkan karena cacat dan miskin.


Siapa yang akan benar-benar tulus menyayanginya, hanya uang lah yang berbicara. Karena uang, dia diterima di masyarakat, karena uang ia dicintai banyak orang. Karena uang dia bisa melakukan banyak hal.


Ambisi memiliki banyak uang dan menjadi kaya telah diraih seorang Dalton. Tinggal ambisi untuk menghabisi nyawa pembunuh serta seseorang dibalik itu.


Siapa? Kenapa dan Mengapa?


Dalton kemudian melajukan mobilnya setelah beberapa menit terdiam sementara Megan salah tingkah sendiri. Jantungnya masih berdegup meski Dalton telah pergi.


"Astaga kenapa aku cium dia...mau ditaruh mana muka ku...pasti malu setengah mati. Meskipun hanya sebuah kecupan, tapi aku ini siapa? Cuma karyawan baru," ucap Megan bergumam sendiri.


"Aku tidak boleh mencintainya, seharusnya aku tetap menjalin hubungan sebatas karyawan dan bos. Ya tidak boleh terjadi, tidak boleh jatuh cinta,m. Harus fokus cari uang," sahut Megan

__ADS_1


Kemudian seseorang datang mengejutkan dirinya.


"Mana upah hari ini," tagih Ibunya


Megan tidak bisa melihat dengan jelas karena gelap di tambah, pandangan matanya tidak dapat melihat jelas tanpa kacamata


Lampu rumahnya remang-remang, beberapa bohlam putus dan Megan belum membelinya. Uang yang dimiliki hanga untuk kebutuhan makan. Setidaknya dia harus bisa menabung sebulan penuh untuk biaya makan.


Pinjam uang ke lintah darat tak akan pernah selesai karena bunganya semakin membesar. Dan uang tabungan semakin menipis


Megan mengandalkan uang tabungannya sampai bulan depan, sebisa mungkin dia harus hemat.


"Bu, upah ku di bayar bulanan, bukan harian," ucap Megan


"Lalu apa listriknya sudah kau bayar? Uhuk...Uhuk..." tanya Ibunya yang hanya bisa mengandalkan anaknya. Dia tidak bisa bekerja karena kondisinya yang berpenyakitan. Memiliki riwayat Asma dan Brongkitis. Juga linu pada tulang.


Depresi berkepanjangan membuat Ibunya tidak pernah memikirkan kesehatannya sendiri semua dikarenakan pengkhianatan suaminya.


"Ibu istirahat saja dikamar. Diluar udaranya dingin tidak bagus untuk paru-paru mu," timpal Megan


Setelah itu Ibunya masuk ke dalam kamar Kemudian Bobby, adik tiri Megan keluar dari kamarnya dan memanggil Megan dengan berbisik


"Megan," panggil Bobby


"Ada apa? Kau belum tidur? Ini sudah jam 10 malam," ucap Megan


"Aku memenangkan lomba matematika antar sekolah. Juara 1,"


"Wow itu bagus sekali sayang,"

__ADS_1


"Terimakasih, dan.... " Bobby mengeluarkan sebuah kartu debit beserta buku tabungannya lalu menyerahkannya kepada Megan.


"Pihak sekolah mengambil Piala ku, karena aku juara atas nama sekolah, tetapi mereka tetap memberikan hadiah berupa uang," Bobby menjelaskan dan Megan membaca history buku tabungan.


"Mereka menyerahkannya dalam bentuk tabungan dan langsung memotong biaya sekolah yang belum dibayar. Apakah itu tidak apa? Kata guru ku aku masih punya sisa," ucap Bobby


"Itu bagus sekali, kau bisa membayar uang sekolahmu sendiri dari hasil juara. Itu sungguh mengagumkan. Teruslah belajar, dan menjadi orang yang sukses. Jangan sepertiku," sahut Megan dengan memberikan pujian agar adiknya tambah semangat


"Aku seperti ini karena kasih sayang kak Megan. Bagiku Kau adalah panutanku. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu," ucap Bobby tersenyum


Dia tahu jika dirinya hanya anak tiri, karena Ibu Megan terus mengoceh tentang pekerjaan Ibunya Bobby. Megan memeluk Bobby dan membelai rambutnya, sedikit terharu dengan jawaban yang Bobby berikan.


"Uang ini sebenarnya masih bisa untuk bayar sekolah bulan depan tapi sebaiknya ditabung saja dulu. Besok aku akan memastikan apakah jumlahnya sama dengan buku tabungan. Sudah malam, tidur ya," ucap Megan


Setelah itu Megan masuk kedalam kamar dan berganti pakaian kering sambil memandangi lekuk tubuhnya lewat cermin.


Teringat ucapan temannya, yang pernah mengajak Megan untuk menjual diri. Bayarannya tinggi dan tidak perlu menunggu berbulan-bulan. Dia bisa mendapatkan ratusan juta dalam sehari.


Di pegangnya dada miliknya sendiri yang masih kencang dan sangat kenyal.


"Aku tidak akan menjual tubuhku. Itu sama dengan menjatuhkan harga diriku," batin Megan


Tiba-tiba ia teringat sentuhan Dalton yang menyentuh pundaknya saat di bath up. Megan pun geli sendiri. Ia menghentikan lamunannya dan langsung memakai pakaian keringnya.


Megan membuka ponselnya dan mencari tahu siapa Victoria sebenarnya, makanan favoritnya, atau hal apa yang dibencinya. Dia harus tahu karena agar memiliki bahan obrolan.


Jika ingin mendekati seseorang, maka kita harus tahu apa favoritnya, apa yang tidak. Tujuannya adalah membuat orang itu terkesan dengan kita sehingga punya pikiran 'Ih orang ini kok bisa samaan ya favoritnya sama aku.


"Ketemu, dia suka warna merah maron dan sangat membenci warna kuning. So aku tidak akan memakai pakaian warna kuning,"

__ADS_1


Klontang...


"Siapa itu?" teriak Megan karena suaranya terdengar dari arah luar kamarnya. Suara benda seperti kaleng yang jatuh.


__ADS_2