
Dalton keluar dari ruangan Megan setelah menyuruhnya untuk pindah posisi. Tak berapa lama Megan keluar dengan membawa semua barang-barang miliknya yang dimasukkan dalam satu kotak kecil. Isinya ada perlengkapan menulis, kertas hvs, clip, staples, binder, notebook, dan lain sebagainya
Semua mata tertuju pada Megan, saat wanita itu berjalan melewati karyawan lain. Dia pindah ke ruangan Dalton. Lebih tepatnya akan berkerja di depan ruangan Dalton.
Sebelumnya tidak pernah ada posisi untuk sekretaris. Ruangan khusus sekretaris sendiri pun tidak ada. Dan baru saja beberapa orang memberikan sekat setinggi dada dan mengisinya dengan meja, kursi, rak file, interkom, lengkap dengan komputer dan printer.
Beberapa berbisik tentang Megan yang mendadak mendapatkan posisi enak padahal dia adalah karyawan baru, dan baru saja membuat perusahaan mendapatkan rugi besar.
Gosip pun menyebar dan mengatakan jika Megan menjual tubuhnya pada sang bos. Dan gosip lainnya yang beredar di mulut para wanita.
Banyak yang memandang sinis ke arahnya, namun wanita itu tidak ambil pusing karena hidupnya sudah cukup menderita sejak kecil. Saat ini Megan adalah tulang punggung keluarganya.
Ibunya sakit-sakitan, Adiknya masih sekolah di sekolah dasar. Sebenarnya bukan adik kandung. Adik tiri dari wanita penghibur. Ibu kandung adiknya itu telah meninggal dunia sehingga dia ikut tinggal dengan Ayahnya.
Sedangkan Ayahnya sendiri seorang pekerja serabutan dan sering meninggalkan keluarganya. Bahkan bertemu saja tidak pernah. Terakhir kali Megan bertemu dengan Ayahnya saat pria itu datang membawa bayi laki-laki dan menitipkannya kerumah Megan.
Sejak saat itu Ibunya sakit-sakitan tak rela mengasuh anak dari wanita lain. Megan yang saat itu berumur 11 tahun terpaksa ikut mengasuh adiknya karena sang ibu tidak merawatnya dengan benar. Ibunya hanya memasak makanannya, memandikan, kadang mengganti popok saja sang Ibu tidak mau. Akhirnya Megan kecil turun tangan menyuapi adiknya, mengganti popoknya, dan hal-hal yang memerlukan kesabaran. Bagi Megan adik tirinya itu tidak berdosa dan dia menyayanginya.
Dalton memanggil Megan keruanganya setelah wanita itu selesai menata ruangan.
"Apa Rob sudah memberimu data mengenai siapa saja klien kita? Apa yang harus kau kerjakan tanpa diperintah?" tanya Dalton setelah Megan duduk di hadapannya
"Sudah pak, dan saya sedang memasukkan ke schedule baru saya untuk pengingat,"
"Bagus, kalau begitu catat sebagai tambahan. Aku sudah mengirimkan ke email mu rencana ke luar negri untuk beberapa hari. Kau atur sedemikian rupa agar jadwalnya tidak tabrakan dengan jadwal baru nantinya,"
"Baik Pak," jawab Megan menundukkan kepala
__ADS_1
Padahal sebelumnya dia adalah orang yang paling percaya diri. Karena tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Dalton menyuruhnya kembali bekerja.
Sementara itu, Mark pembunuh bayaran yang dilepaskan sang majikan mengonggong menanti jejak Dalton.
Pria itu menyusuri rumah kecil milik Dalton yang telah berubah menjadi sebuah bengkel mobil yang terbengkalai.
Dalton membeli kembali rumah masa kecilnya. Dan membuat bengkel besar disana hanya beberapa bulan berjalan, kemudian ia menutup bengkel itu. Bukan karena bangkrut melainkan di sengaja. Bengkel itu hanya pengalihan saja agar pembunuh orang tuanya tidak kembali mencarinya.
Yang sebenarnya juga, di dalam bengkel itu ada rumah masa kecilnya. Masih utuh dan tidak direnovasi. Dalton hanya mengecat ulang agar terlihat baru dan tidak usang.
Pria itu pun bertanya kepada warga sekitar soal anak kecil yang tinggal di situ. Semua mengatakan tidak mengenalnya.
"Rumah itu sudah lama di beli seseorang dan diubah menjadi bengkel. Pemiliknya bernama Rob," ucap salah satu warga sekitar
Setelah pencarian panjang dan tidak menemukan petunjuk, Mark kemudian duduk di trotoar jalan dekat dengan rumah Dalton saat kecil. Ia membeli rokok pada seorang kakek tua.
"Aneh sekali aku mencari satu orang anak kecil yang orang tuanya terbunuh tetapi tidak ada satu pun yang mengenalnya," ucap si pembunuh
"Kau mengenalnya? Siapa namanya. Maksud ku anak Aaron dan Tessa," tanya Mark
"Apa hubunganmu dengannya?" tanya kakek tua itu
"Aku detektif yang ingin mencari tahu keberadaan si pembunuh," ucap Mark berbohong padahal dialah pembunuh itu
"Namanya Dalton. Dia tinggal di gereja setelah orang tuanya terbunuh. Dan sekarang dia telah menjadi orang sukses. Lakukanlah pencarian pelakunya, anak malang itu pasti akan membayar mahal dirimu jika dapat menemukan pelaku pembunuh orang tuanya. Dia sudah menjadi bilioner sekarang, "ucap seorang kakek tua dengan janggut putihnya.
"Aku akan menemuinya setelah ini," Mark tersenyum lebar. Sangat mudah mencari keberadaan orang kaya.
__ADS_1
"Kau sendiri, kenapa kau masih disini dan tidak ikut ke kota?" tanya Mark sembari menghabiskan putung rokoknya yang sudah mengecil.
"Aku tidak ingin menjual rumahku, banyak kenangan disana. Haha semua rumah disana berganti menjadi bagus, hanya rumahku yang berbeda dan terlihat kecil. Biarlah aku tak butuh yang bagus. Setidaknya aku bahagia bersama kenanganku," ucap kakek tua
Setelah pembicaraan kecil yang sangat bernilai itu Mark membuang putung rokoknya yang telah habis, menginjaknya dan pergi.
Jadi namanya bukan Vincent melainkan Dalton, batin Mark berjalan menuju kafe dengan fasilitas komputer dan internet gratis.
Mark memesan satu buah kopi, dia pun duduk di depan komputer yang bisa diakses secara gratis.
Ada lima komputer yang tersedia disana, jika penuh kalian bisa mengantri. Tentu saja ada waktu penggunaannya, yaitu paling lama 15 menit. Jika ingin menambah waktu kalian harus memesan kopi lagi atau menu lainnya.
Mark mencari tahu soal Dalton.
"Apakah benar ini anaknya? Tangannya terlihat utuh keduanya," Mark mulai mencermati setiap foto. Di semua potretnya Dalton mengenakan sarung tangan di tangan kanan. Terkadang dia mengenakan sarung tangan tersebut di kedua tangannya.
Setelah mencari tahu nama perusahaan miliknya, Mark menyesal kopinya dan meninggalkan bekas di ujung bibirnya. Kemudian ia menghapus bisa kopi itu dengan menjilatnya.
"Aku menemukanmu Vincent hehe, kali ini kau tidak akan ku biarkan," ucap Mark
Dia meninggalkan kafe dan berjalan menuju perusahaan besar milik Dalton. Mark memanjat gedung dengan mudahnya, dalam hitungan menit dia telah berada diatas gedung yang berada di seberang perusahaan Dalton.
Dibukanya tas panjang yang berisi senapan yang berlaras panjang. Di atur alat penyangga senjatanya dan menaruh senapan diatasnya, menambahkan peredam suara dan mengisi penuh pelurunya. Lalu menunggu Dalton keluar.
Tepat di jam pulang, Mark mengambil ancang-ancang.
"Itu dia," Mark melihat Dalton dari kaca pembesar yang menempel di senapannya.
__ADS_1
Dalton keluar, Mark bersiap membidik tetapi dihentikannya, matanya membulat besar saat seseorang memegang lengan Dalton.
"Megan," ucap Mark pada dirinya sendiri