
"Megan...." teriak Dalton dari kejauhan
Dalton menghampiri Megan dan berdiri di pintu sekat sekretarisnya, sementara Megan mengambil kipas yang dari bahan plastik yang berbentuk setengah lingkaran dengan hiasan lucu, karena kedatangan Dalton membuatnya terasa sangat panas. Pasti dirinya akan habis dimarah oleh sang bos
"Iya pak, gak usah teriak-teriak. Saya denger kok," ucap Megan di akhiri senyuman
"Kamu harus tanggung jawab ya sama isi sms kamu yang ngajaknya gak pakai tata krama. Itu kayak pesan ke teman yang udah kenal bertahun-tahun," ucap Dalton
Megan yang melepas blazernya membuat pakaian bluesnya yang terbuat dari bahan tisu dan mudah terbang sedikit melambai terkena angin. Rambut Megan yang terbawa angin memperlihatkan leher jenjangnya menghipnotis mata Dalton. Pria itu lantas membuang muka tak ingin dikira punya pikiran m3ssum.
"Sksd dong pak, sok kenal biar sok deket. Sebentar lagi dia pasti bales kok, yakin deh,"
Sebuah notifikasi pesan masuk dengan nada dering yang singkat. Dalton mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Rupanya balasan Victoria.
"Hemm kau benar, sekarang carikan tempat makan romantis yang mewah. Pesan atas nama Bryan. Aku dengar dia wanita pemilih," ucap Dalton
"Ck, ajak saja makan di pinggir jalan pak, biar menguji kesetiaannya," sahut Megan
"Aku mendekati dia bukan karena cinta. Ada sesuatu yang tidak perlu kau tahu. Kerjakan saja, tidak usah protes atau mengeluh, ini perintah, " sahut Dalton kemudian berjalan ke ruangannya
Megan melempar plastik kipasnya ke atas meja dan mulai mencari referensi restoran mahal.
"Baguslah kalau pak Dalton tidak suka, setidaknya aku berharap dia bisa menemukan wanita yang tidak memandang hartanya, seperti aku ini hehe," gumam kecil Megan
Di seberang kantor Dalton, ada sepasang mata yang mengawasi dirinya. Seseorang yang harus menyelesaikan misinya dalam waktu seminggu, jika tidak. Nyawanya dan keluarganya terancam. Begitulah ancamannya dari seorang pria yang bernama Joe Stewart.
Joe sendiri tidak tahu dimana keluarga Mark, ia mengatakan itu hanya untuk menggertak.
Senjata dengan laras panjang sudah terpasang dengan stabil, tubuhnya sudah menukik dan bidikan telah terkunci. Telunjuknya di menarik pelatuk saat itu juga.
Saat matanya menangkap sosok Dalton di balik kaca jendela ruangannya. Seseorang masuk, dengan membawa beberapa berkas dan menyerahkan pada Dalton di atas mejanya.
Mark menahan jarinya untuk tidak menekan. Ada Megan disana. Seketika tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Gugup menyerang dirinya yang sekian lama vakum dari pekerjaan kotornya.
Dia adalah sniper, sudah terlatih saat masih menjadi seorang pembunuh. Tapi selama bertahun-tahun juga dia meninggalkan pekerjaannya. Meninggalkan keluarganya agar terhindar dari ancaman. Namun jejaknya tercium saat Mark mulai menjual mobilnya. Ada rekam jejak di rekening tabungannya dan dengan mudah Joe Steward menangkap pria itu.
__ADS_1
"Ayo Megan.... cepatlah menyingkir dari sana!" ujar Mark
Dia bisa saja menembak tapi takut jika bidikannya tidak tepat sasaran karena sudah lama ia tidak melatih tangannya.
Dalton menerima berkas sambil berbicara pada Megan dengan menatap ke arah sekretarisnya itu, tapi ada sesuatu yang lain yang dilihat Dalton.. Dalton melihat seseorang dari jauh sedang mengamati dirinya dengan senapan berlaras panjang dari pantulan cermin pigura.
"Megan, cepat pergi dari ruangan ku dan panggil Rob," perintah Dalton.
"Iya Pak," jawab Megan
Begitu langkah kaki Megan keluar dari ruangan itu, Dalton menghilang dari pandangan Mark. Dan segera mengambil teropong kecil dari laci kerjanya juga pistol. Tetapi Dalton takut, pelurunya tidak bisa menjangkau orang itu karena berada jauh dari seberang kantornya.
Rob datang, Dalton yang bersembunyi merapatkan tubuhnya ke dinding di tengah-tengah jendela sambil membawa pistol membuat Rob kebingungan.
"Ada apa bos?" tanya Rob yang langsung ikut bersembunyi.
"Tangkap orang itu, dia mengincar ku," ucap Dalton seraya menunjuk dengan kepalanya
Rob mengintip dari balik jendela sembari memiringkan matanya.
"Segera," jawab Rob.
Dalton membuka kaca jendela yang bisa terbuka. Karena ada beberapa kaca yang tidak bisa terbuka. Tetapi aksi Dalton ketahuan. Pria diseberang itu lantas membidik tangan Dalton.
Peluru miliknya menembus kaca dan mengenai tangan besi Dalton.
Tidak terluka karena yang terkena adalah tangan besinya, tapi peluru itu menembus tangannya dan masuk kedalam, lalu meledakkan komponen yang terhubung di lengannya.
"Arghh sial, dia merusak tangan ku," batin Dalton
Ia bisa merasakan panas dari peluru itu masuk kedalam tangan besinya dan membuatnya meledak. Bagian tangan dan jemarinya hancur terlepas dari lengannya. Untung yang terkena adalah tangan besi jika tidak mungkin tangan itu akan hancur beserta tulangnya.
"Bos kau tak apa? Tim keamanan telah bergerak," ucap Rob.
"Aku tak apa,"
__ADS_1
"Tapi tanganmu rusak parah," ucap Rob
"Aku ingin kau menangkap pria itu hidup-hidup," ucap Dalton menahan perih.
Rob langsung bergegas pergi menuruti perintah Dalton.
Sejujurnya tangan besi Dalton, terhubung dengan jaringan syaraf lengannya sehingga jari jemari tangan besi itu bisa bergerak.
Tak mudah untuk mendapatkannya, dan tidak bisa sehari jadi. Juga Dalton membuatnya tidak di New York melainkan Jepang.
Tak berapa lama beberapa tembakan dari lantai atas membidik Mark yang bersembunyi dibalik dinding atap di seberang gedung.
Mark langsung mengendap dan berpindah tempat. Lalu membalas tembakan, namun ia juga fokus mengarahkan tembakan ke ruangan Dalton.
Tempatnya kini tidak aman. Mark tahu di lantai berapa Dalton berada, rumahnya dan mungkin segalanya.
Kabar menghebohkan seluruh karyawan yang ada disana. Beberapa karyawan ikut mengintip aksi penembakan, termasuk Megan. Mark berhasil kabur, tetapi anak buah Dalton terus mengejarnya. Sementara Megan merasa kenal dengan pria tersebut. Postur tubuh dan gaya pakaian pria itu sama persis dengan Ayahnya
Megan lalu masuk ke dalam ruangan Dalton. Tetapi Dalton langsung memarahinya.
"Siapa yang mengijinkanmu masuk! Kau ingin tertembak?" ucap Dalton
"Aku lihat pria itu dari ruangan lain, dia telah pergi," ucap Megan
Lalu matanya bergerak menuju tangan Dalton tanpa sarung tangan. Kali ini Megan benar-benar melihat tangan yang terbuat dari besi namun tangan tersebut telah hancur berserakan menyisakan separuh lengan besinya dan terlihat ada bagian kabel dengan percikan sedikit api
"Ck aku benci memperlihatkan ini padamu," Dalton tak bisa langsung menutupnya, aliran panas dari peluru menghasilkan sedikit percikan api.
Astaga dia benar-benar tidak memiliki tangan, batin Megan
"Aku senang mengetahuinya lebih cepat, tetapi kau tidak perlu menutupi kekurangan mu itu. Kita semua berbeda dan itu yang menjadikan kita indah," sahut Megan
Baru kali ini seseorang berbicara seperti itu padanya selain keluarganya. Entah karena memang hati Megan yang tulus atau karena dia adalah sekretarisnya
Dalton tak menanggapi ucapan Megan, begitu percikan api menghilang. Ia segera menutup lengan jasnya, mengambil ponselnya dan meminta Megan mengantarkannya ke suatu tempat untuk membenahi lengannya yang masih terasa panas.
__ADS_1
Peluru jenis apa yang digunakan Mark. Padahal tangan besi Dalton adalah yang terbaik tetapi bisa menembus dengan mudahnya bahkan membuatnya hancur.
Peluru Dessert Eagle, terbaik dan mampu berjalan dengan cepat, begitu terkena bidikan maka boom peluru itu akan menghancurkannya dengan mudah.