Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Perasaan Lain


__ADS_3

Megan mondar-mandir di kamarnya, gelisah sendiri setelah pulang dari rumah sakit. Ia terus memikirkan apa yang terjadi saat dinner nanti. Sebenarnya ia juga sedikit kecewa karena Dalton tidak mengantarnya pulang. Megan diantar oleh Rob, bukan Dalton. Sementara Dalton pulang ke rumah dengan menyetir sendiri.


Cemburu mungkin iya,


Khawatir juga ada,


Mengingat pelaku penembakan belum tertangkap. Padahal Megan bukanlah kekasihnya Dalton, tetapi ia sangat tidak tenang juga penasaran apa yang terjadi pada Bosnya nanti.


"Apakah mereka akan berpacaran? Ah seharusnya aku ikuti saja mereka, mengintip tidak apa kan dari pada hatiku tidak tenang. Selain itu aku juga bisa memastikan langsung jika keadaannya aman," batin Megan.


Sore menjelang malam, Megan yang sudah mandi langsung berganti pakaian dengan yang lebih manis, lebih sedikit terbuka dan sedikit elegan. Gaun satu-satunya milik Megan, hasil dari tabungannya dan sering dipakai jika ada pesta di kantor.


Setelah mengenakan gaun indahnya, Megan mulai berdandan. Tidak menor, hanya seadanya. Memakai lipstik berwarna pink muda, blush on dari lipstick dan diusapkan tipis merata ke pipinya. Eyeshadow pun sama, ia gunakan dari lipstick juga. Three in one sungguh hemat.


Megan tidak perlu maskara, ia hanya memakai alat penjepit bulu mata karena bulu matanya sudah tebal dan cantik. Hal terakhir yang jarang ia pakai adalah softlens. Soflens berwarna biru yang memiliki minus yang sama dengan kacamatanya.


"Sempurna...," ucap Megan pada pantulan cermin memuji dirinya sendiri


"Kau mau kemana Megan?" tanya Ibunya Megan yang berdiri di pintu kamar yang tidak tertutup.


"Hanya makan malam diluar," ucap Megan


"Dengan kekasihmu?" tanya Ibunya Megan


"Haha bukan Bu... dengan....,"


Tidak mungkin jika ku jawab sendiri batin Megan


"Dengan bos ku, kita juga akan membahas pekerjaan," sahut Megan sedikit berbohong


"Hmm Ibu pikir kau sudah memiliki kekasih. Kau masih muda Megan....bekerjalah sekeras mungkin, jangan berpikir untuk menikah sebelum kau raih kesuksesan mu. Kau harus berjuang sendiri jangan mengandalkan pasanganmu. Lihatlah ibu, gagal! Dan kini aku tak bisa bekerja karena penyakitan," curhat Ibunya


Seketika Megan sedikit sedih, haruskah ia melepaskan mimpinya untuk bersanding dengan Dalton.


Mungkin memang harus, karena dia tak sederajat. Tapi dia susah terlanjur berdandan cantik malam itu.

__ADS_1


Tidak apalah, aku tidak akan mengejarnya hanya saja aku ingin memastikan Dia baik-baik saja dan tidak ada apapun dengan Victoria, batin Megan yang rela menjadi Secret Admirer nya Dalton


"Iya bu, akan ku ingat itu," ucap Megan


Ibu tersenyum, ia mengayunkan langkah kakinya menuju meja rias Megan yang sudah sedikit lapuk.


"Gerai rambutmu dan buatlah seperti ini," Ibu Megan mengambil sisir yang memiliki gagang panjang kemudian mengambil beberapa helai rambutnya dan membuat gulungan. Lalu melepaskannya beberapa detik setelah terhubung semua.


"Lakukan hal yang sama dengan rambut yang lain, tetapi jangan banyak-banyak," sahut Ibu Megan


"Ahh ini cantik sekali bu, rambutku tidak terlihat lepek dan terlihat anggun hehe terimakasih ya bu," ucap Megan


Sang Ibu tersenyum membelai wajah Megan dan mengecup pipinya.


"Ibu tidak melarangmu menikah Megan, hanya saja ibu tidak ingin.... kau mengerti maksudku kan?" ucap Ibu Megan tiba-tiba


"Iya aku mengerti, kita tidak bisa selamanya berpijak dibawah ketiak pasangan kan... karena pastinya bau hahaha," canda Megan dan Ibunya kemudian mereka tertawa kecil


Sudah lama mereka tidak bercanda tawa seperti itu. Jika bertemu pasti yang dibahas uang dan uang. Belum lagi jika penyakit Ibunya kambuh yang sering batuk-batuk, bukan TBC tetapi bronkitis.


Apalagi mendengar nama restoran termewah di New York yang dipesan Dalton untuk Dinner mereka malam nanti merupakan hal yang menakjubkan. Victoria pun merasa tersanjung dengan perlakuan Dalton.


Untuk makan di restoran itu harus dengan pemesanan online terlebih dahulu dan membayar uang meja. Lalu ketika datang pemesan harus menunjukkan scan QR booking pemesanan. Nama siapa saja yang akan datang juga tertera di scan QR tersebut sehingga orang lain yang menyelinap masuk kesana tidak akan bisa.


Dalton menjemput Victoria di kediamannya yang besar bak istana. Di tengah halaman luasnya ada kolam air pancur dengan hiasan patung Zeus yang gagah berdiri di tengahnya.


Victoria keluar dari rumah megahnya, dengan langkah anggun menghampiri Dalton yang telah menunggunya di dalam mobil. Dalton keluar dari mobil lalu mengitarinya dan menyambut Victoria yang sangat cantik dengan gaun berwarna Navy.


"Hai Bryan, Maaf ya kalau kau menunggu lama," ucap Victoria


"Hai...kau cantik sekali," puji Dalton yang masih menggunakan nama samaran Bryan. "Tidak terlalu lama. Kita berangkat sekarang?" ucap Dalton dan diakhiri kalimat ajakan sembari membukakan pintu mobilnya.


Victoria tersenyum dan mengiyakan, lantas matanya bergerak ke arah tangan Dalton dengan balutan perban di tangannya. Pria itu tidak memakai penyangga tangan. Tangan itu bebas bergerak seperti biasa hanya saja Dalton menambahkan perban di tangan palsu yang kaku.


Pintu telah terbuka tetapi Victoria tidak langsung masuk.

__ADS_1


"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Victoria


"Siang tadi ada seseorang yang sedang berlatih menggunakan pistol lalu tak sengaja mengenai tanganku,"


"Wah ceroboh sekali orang itu, kau bisa menuntutnya," sahut Victoria


"Tidak, dia tidak sengaja dan langsung bertanggung jawab," sahut Dalton menambah daftar kebohongan


Setelah itu Victoria masuk kedalam dan mereka berbincang-bincang tentang diri mereka masing-masing. Victoria bercerita tentang kesuksesannya, tentang dirinya yang banyak dikagumi pria lain dan membuat Dalton bosan.


Pria itu tidak suka dengan kesombongan yang diceritakan Victoria, soal ajakannya untuk Dinner juga bukan untuk menjadikannya kekasih seperti yang dipikirkan Megan, tetaki agar mereka dekat dan saling percaya. Mempercayakan bisnis satu sama lain lalu membuat Victoria masuk kedalam bisnis itu dan menghancurkanya, membuatnya bangkrut, pailit dan bahkan hidupnya tidak akan bebas dari kejaran rentenir kemudian mati dalam kemiskinan juga pengasingan. Itulah yang dipikirkan Dalton.


Sementara di lain tempat, Megan yang hendak masuk kedalam restoran, di cegah oleh tim keamanan disana. Pasalnya Megan tidak memiliki akses untuk masuk, ia tidak mempunyai Scan QR atas namanya, meskipun yang memesankan kursi adalah dirinya.


Bodoh seharusnya aku mendaftarkan namaku juga, toh dia tidak mengecek ulang dan tidak akan tahu jika aku ikut kan, batin Megan


Megan lalu berbalik dan keluar, usahanya berdandan malam ini sia-sia. Tetapi Megan tidak kalah akal. Dia berjalan ke sisi samping gedung dan mengintip dari jendela. Tidak peduli jika dirinya menjadi perhatian orang-orang di dalam.


Tak berapa lama Dalton dan Victoria datang. Ada sesuatu yang mengganggu Dalton, sebelum ia masuk kedalam. Pria itu melihat sosok yang sangat dikenalnya, sedang mengintip dari jendela.


Dalton menyuruh Victoria untuk masuk terlebih dahulu dengan alasan ponselnya tertinggal di mobil padahal yang sebenarnya pria itu ingin menemui Megan.


"Kau sedang apa?" tanga Dalton pada Megan


Wanita itu masih fokus mengintip.


"Tenang saja pak, aku tidak menganggu kan, hanya mencari teman," ujar Megan tanpa menoleh ke arah yang bertanya


"Teman? Teman siapa? Atau kau ingin menjadi penguntit?" sahut Dalton


Seketika Megan mengenali suaranya, juga aroma parfum yang digunakan Dalton. Dengan ekspresi terkejut, Megan berbalik badan dan melihat seseorang telah memergoki dirinya.


"Eh... Pak Daltonn....," sahut Megan melemparkan senyum salah tingkahnya.


Bagaimana dia bisa berdandan secantik ini, sial jantungku tidak bisa diajak kerjasama, batin Dalton, jantungnya terus berdebar saat mengagumi kecantikan Megan tanpa kacamatanya.

__ADS_1


__ADS_2