Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Perjamuan


__ADS_3

Usai melampiaskan benih cinta, Dalton sudah diganggu oleh asistennya. Ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal.


Ia pun membangunkan Megan yang tengah terlelap tidur usai pertempuran yang melelahkan.


"Sayang.... Aku harus kembali bekerja," bisik Dalton lembut di telinga Megan seraya mengecupi wajahnya


Megan menarik tangannya seraya melenguh manja lalu menggelayutkan tangannya melingkar di belakang leher Dalton.


"Kau tidak bisa libur dulu?" tanya Megan


Dalton menggeleng, "Sayangnya tidak, maaf ya,"


Kemudian Dalton mengecupi kening Megan dan pergi mandi bersiap kembali ke kantor.


.


.


.


Tiga hari berlalu, sejak hari pernikahan Megan baru masuk kerja. Tidak ada yang tahu jika dirinya sudah menjadi Istri Dalton. Mereka belum menggelar acara resepsi karena padatnya kesibukan kerja.


Hari ini pula Dalton memasang kembali tangan besinya. Dia mendatangkan dokter dari Jepang sekaligus lengkap dengan peralatannya ke New York. Pemasangan itu dilakukan di tempat kerja karena Dalton tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Megan juga mengakui Dalton workaholic, pekerjaannya yang utama sementara dirinya seperti terabaikan. Walaupun di rumah Dalton sangat manja.


"Pak Dalton, ini berkas yang Anda pinta," ucap Megan yang langsung masuk ke ruangan Dalton.


"Terimakasih sayang, letakkan disini," ucap Dalton yang duduk di kursi seperti kursi pasien gigi sambil meremas bokong Megan. Sementara Megan mendelikkan mata dan pergi dari ruanganya. Dalton terus terkekeh


Sementara satu tangannya sedang di bius untuk dipasang tangan besi, tentu saja tidak mudah karena bukan sekedar tangan besi melainkan ada sebuah elektromagnetik yang tersambung dengan syarat. Jika Dalton ingin menggerakkan jari maka jari-jari tersebut akan bergerak.


Sang dokter yang melihat tingkah Dalton pasti akan berpikir jika Dalton adalah mata keranjang yang genit pada karyawannya. Padahal mereka adalah suami istri.


"Kenapa dokter?" tanya Dalton yang melihat raut wajahnya berbeda dari dokter seperti wajah tidak suka


"Tidak ada apa-apa Tuan,"


"Dia istriku, jika bukan mana berani aku berlaku kurang ajar kepada bawahanku," ucap Dalton


"Oh maaf saya tidak tahu, dia sangat cantik. Lalu kenapa dia masih bekerja dengan Anda, seharusnya dia berada di rumah atau berada di tingkat tertinggi dari jabatannya sekarang," sahut Dokter sembari melakukan pekerjaannya


"Dia tidak ingin di manja, katanya dia tetap ingin menjadi sekretaris seperti sebelumnya," ucap Dalton

__ADS_1


Tetapi di lain tempat Megan terus menjadi bahan gunjingan. Lantaran mereka sering menangkap basah Megan dan Dalton berciuman. Walaupun mereka melihatnya dari jauh dan secara sembunyi-sembunyi. Hanya beberapa karyawan kantor yang tahu dan itu pun yang hanya memiliki jabatan tertinggi di perusahaan.


Megan yang saat itu berada di toilet mendengar teman-teman wanita sedang bergosip mengenai dirinya.


"Aku bersumpah melihat mereka di pantry sambil berciuman," ucap susan


"Ck dasar wanita perayu, dia tidak malu menggoda bosnya sendiri," sahut Irene


"Padahal secantik apa sih Megan, dibandingkan dengan kita, dia itu tidak ada apa-apanya," ucap Mondy


"Kau memang cantik, tapi Dia punya ukuran dada yang besar," sahut Irene


Dan semuanya tertawa.


Megan keluar dari bilik toilet menuju wastafel ingin mencuci tangan. Ketiga perempuan itu terkejut karena mereka tidak tahu jika sedari tadi Megan berada di dalam. Tetapi Megan tidak menanggapi ucapannya, dia berjalan anggun dan angkuh melewati semuanya dengan tersenyum.


.


.


Baru saja Victoria menanamkan sahamnya, sudah terlihat pergerakan peningkatan pada kurva saham. Bibirnya tersenyum lebar dan semakin menyukai pria bernama Bryan yang sebenarnya adalah Dalton. Berkat dirinya Victoria meraup keuntungan yang besar.


Aksi Victoria menuai kontra dengan para bagian keuangan khususnya dengan penasihat hukum di perusahaannya, tetapi Victoria kekeuh dengan keputusannya.


"Ini perusahaan ku, juga perusahaan keluargaku dan Aku berhak atas semuanya," ucap Victoria pada Samuel penasihatnya


"Tetapi Nona, saya rasa ini bukanlah keuntungan sesungguhnya. Ini hanyalah gelembung yang akan meledak sewaktu-waktu, lebih baik Anda berhenti di titik ini," nasihat Samuel


"No! Investasikan semuanya! Termasuk uang perusahaan,"


"Tapi Nona, ini akan melanggar aturan. Kau bisa dituntut atas korupsi,"


"Hah ini milikku bagaiman bisa milikku sendiri dikatakan korupsi? Hah yang benar saja,"


Akhirnya Victoria mengambil keputusan dengan sangat berani mempertaruhkan semua kekayaan miliknya. Tak ada yang berani menentangnya, semua akan terbukti pada waktunya


Disisi lain, Rob mengabarkan lada Dalton jika mereka sudah berada di titik tertinggi keuntungan dan sebentar lagi akan mengalami down.


"Ambil semua saham milik kita, dan tinggal lihat perusahaan IT itu akan bangkrut bersama dengan Victoria yang mengalami kerugian besar," perintah Dalton sore itu.


Tangannya sudah tersambung dengan sempurna dan sudah bergerak sesuai harapan. Tak berapa lama Dalton menerima undangan makan malam di rumah Victoria

__ADS_1


"Hmm pasti Megan akan menjerit jika tahu hal ini, semoga dia bisa memahaminya," gumam Dalton


Sore itu Megan mengajaknya untuk pulang bersama tetapi Dalton menolak dan berkata yang sejujurnya.


"Victoria mengundang ku makan malam, sementara pakaian yang akan ku pakai nanti ada ada di rumahku," ucap Dalton


"Hmm," dengus Megan


"Jangan cemburu, aku menerima undangannya karena dia ingin berterimakasih. Karena ku dia mengalami keuntungan berlipat-lipat," Jelas Dalton seraya memeluk Megan dari belakang yang sedang berdiri menatap kota New York dari kantornya


"Lalu sampai dimana rencanamu? Apakah berhasil?" tanya Megan sedikit kesal


"Hampir, sedikit lagi,"


"Aku anggap menganggap suamiku ini sedang berakting, tapi jangan menciumnya okay. Kau boleh mencium tangannya, menggenggam tangannya tapi tidak lebih dari itu,"


"Aku tidak menjamin," sahut Dalton menggoda


"Kau ini, awas saja kalau sampai ku tahu," ancam Megan mendelik kan matanya


Dalton terkekeh kecil, kemudian mereka pulang bersama. Megan pulang ke rumah orang tuanya diantar oleh Dalton, setelah itu Dalton pulang ke rumahnya sendiri. Sebenarnya Megan bisa saja pulang ke rumah Dalton, soal pakaian dia bisa pakai apa saja, jika tidak asistennya bisa membelikannya. Hanya saja Megan tidak ingin merepotkan semuanya.


Dalton hanya pulang bersiap untuk perjamuan di rumah Victoria dan mengambil beberapa pakaiannya untuk dibawa ke rumah Megan nanti. Serta menyiapkan sebuah pistol kecil karena dia akan kerumah Joe Stewart. Pria yang diyakini dalang dari tragedi terbunuhnya kedua orang tuanya.


Singkat cerita, Dalton telah sampai di rumah Victoria yang megah. Dia datang dan langsung di sambut oleh Ibunya Victoria. Pria itu langsung persilahkan masuk, sementara Victoria sedang berias diri di kamarnya.


"Jadi ini, pria yang bernama Bryan. Victoria banyak cerita mengenai dirimu. Masuklah. Gadis itu sedang berias diri," ucap Mery Ibunya Victoria


"Nancy... tolong bilang pada pelayan untuk menyiapkan minuman untuk kami dan juga makan malamnya," perintah Mery sedikit berteriak.


"Baik Nyonya," ucap Nancy yang berdiri tidak jauh dari Nyonyanya.


Dalton melihat sosok Nancy yang sudah tua dan berdirinya tidak tegap, sudah membungkuk. Sepatutnya Nancy sudah harus pensiun tetapi dia masih bekerja sebagai kepala pelayan.


Sementara Nancy terus melihat Dalton seakan dia pernah melihat sosok Dalton sebelumnya. Namun semua terkaan dalam batinnya di tepis. Ia langsung melangkah ke dapur dan menyuruh pelayang untuk menyiapkan minuman saat itu juga, serta menyediakan makan malamnya nanti.


Begitu Bella, pelayan yang lain datang membawa dua gelas minuman, Nancy mengambil gelas tersebut dari nampan dan menyerahkannya kepada Nyonya rumah serta kepada Dalton.


Jarak pandang Nancy dan Dalton sangat dekat sampai Nancy bergumam, "Tuan Aaron?" sahutnya


Semua wajah yang ada di sana menatap Nancy, dengan raut wajah terkejut.

__ADS_1


__ADS_2