
Sebuah tangan menghentikan pintu lift yang ingin tertutup. Lalu saat pintu kembali terbuka, tangan yang menahannya pintu tersebut di lepas, sosok pemilik tangan tersebut juga tidak nampak. Suster pun mengintip ke luar, tidak ada seorang pun di sana. Bagaikan film horor yang tiba-tiba menghilang. Tetapi ada seorang wanita yang sedang berjalan menuju lift.
Dalton yang masih terbaring dan sedikit mengantuk kemudian bertanya pada suster, "Siapa sus?" tanya Dalton
"Saya tidak tahu pak, tadi sepertinya ada tangan pria yang menghentikan, tetapi saat dilihat tidak ada,"
Tak berapa lama Megan masuk terburu-buru sebelum pintu lift kembali tertutup. Kehadirannya mengejutkan Dalton dan juga dua suster yang ada di dalam lift.
"Kenapa kau belum juga pergi!" seru Dalton ketika tahu yang datang adalah Megan.
"Hemm begini pak..., pelaku penembakan itu belum tertangkap. Itu artinya dia masih berkeliaran bebas diluar, Aku akan menemani mu hingga Rob datang," ucap Megan seraya tersenyum
"Ck, itu hanya alasan. bilang saja kalau kau malas melanjutkan pekerjaan," ucap Dalton
Sejujurnya apa yang dikatakan Megan benar, gadis itu terlalu khawatir dengan keselamatan Dalton. Entah kenapa ada rasa tidak tenang dan ingin selalu menjaga bosnya itu. Tetapi Megan tidak boleh menunjukkan rasa sukanya.
"Sebenarnya pekerjaan ku tinggal membuat notulen dan mengarsipkan dokumen, itu bisa dikerjakan di rumah sakit kan," ucap Megan kembali tersenyum
Akhirnya Dalton ter diam, dia sendiri malas berdebat karena sedikit mengantuk, efek dari obat yang baru diberikan setelah operasi.
Sementara di lain tempat, seseorang sedang keluar dari bilik toilet umum yang ada di dekat lift.
Mark, yang ingin menyelesaikan misinya saat itu juga lagi-lagi digagalkan oleh kehadiran Megan. Padahal jaraknya sudah sangat dekat bahkan tangannya juga telah menahan pintu lift.
Untung Aku langsung bersembunyi jika tidak, Megan akan bertanya untuk apa aku disini. Argghh seharusnya dia tidak bekerja untuk Dalton, batin Mark
Tak berapa lama ponsel Mark bergetar, dengan marah ia pun mengangkat ponselnya dan melihat nama si pemanggil.
Matanya langsung terbelalak lebar. Mark tidak langsung mengangkat, ia terus membiarkan ponselnya bergetar. Untung saja nada deringnya tidak dinyalakan sehingga tidak mengganggu pengunjung atau pasien di rumah sakit.
Akhirnya Mark memilih pulang. Dia bisa saja nekat membunuh Dalton saat itu juga tetapi ia tidak ingin memperlihatkan dirinya sebagai seorang pembunuh di hadapan Megan.
Di tengah perjalanan pulang, segerombolan orang menghampiri Mark. Pria ingin berlari namun sudah terkepung. Sebuah tinjauan mengenai perutnya yang belum terisi. Beberapa kali tendangan merubuhkan tubuhnya yang telah lelah berlarian menghindari kejaran
Mark terjatuh di pinggir jalan dengan tubuh meringkuk kesakitan.
"Ck ck ck, tidak bisa kabur ya," desis Pria tua sembari melangkah mendekati Mark dan menginjak kepala Mark hingga pipinya menyentuh aspal.
__ADS_1
Joe menekankan injakannya.
"Arghhh sakit," ucap Mark memukul kaki Joe tetapi tenaganya telah habis.
"Kau tidak pernah becus menjalankan perintahku,"
"Ini baru dua hari, kau bilang akan memberiku waktu seminggu," ucap Mark
"Dua hari bagiku sudah seminggu, terlalu lama! Jadi.... kau tahu di mana anak itu sekarang hah?" tanya Vincent semakin menekan injakannya kemudian ia berteriak, "Katakan dimana Vincent!"
"Aku... Aku tidak tahu," ucap Mark menutupi keberadaan Dalton yang sebenarnya memiliki nama Vincent sebelum diubah orang tuanya.
Joe mengangkat kakinya, melepaskan Mark. Segera Mark mengangkat wajahnya dan ingin memperbaiki rahang, leher dan pipinya yang terkena tekanan.
Tetapi belum saja ia mengangkat tubuh dan kepalanya, Joe langsung menendang kepalanya.
"Aku tak percaya padamu lagi! Sekarang aku akan menjadikanmu makanan Harimau ku," ucap Joe dengan senyuman liciknya.
"Hah! Apa?? Tidak!!! Beri aku kesempatan,"
Dengan isyarat dagu ia menyuruh anak buahnya untuk membawa Mark masuk kedalam mobilnya.
Dua Bodyguard bertubuh besar mencengkeram lengannya dan memaksa masuk kedalam mobil Jeep milik Bodyguardnya. Mereka memakai dua mobil yang berbeda.
Joe memiliki cara lain untuk mendapatkan informasi soal Vincent yang tak lain adalah Dalton. Baginya Mark sudah tak berguna dan akan di buang menjadi santapan Harimau kesayangannya.
Siang menjelang Sore, Megan malah tertidur di sofa rumah sakit, setelah menyelesaikan pekerjaannya lewat laptop.
Sebelum ke rumah sakit Megan langsung berpikir untuk membawa semua berkas serta laptop milik perusahaan kedalam tas besarnya. Berjaga-jaga jika ia tidak bisa kembali ke kantor. Ternyata dugaannya benar.
Dalton terbangun dari tidur siangnya yang sedikit nyenyak, semua karena pengaruh bius dan obat. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan saat Dalton pergi. Dia tidak bisa berlama-lama di rumah sakit.
Di carinya tombol di sebelah ranjang untuk memanggil suster. Tak berapa lama sebuah dua suster datang setelah mendengarkan panggilan Dalton.
Infus telah di copot dan beberapa obat nyeri pasca operasi telah di masukkan lewat suntikan. Setelah itu suster pamit ke ruangannya.
Asistennya, Rob tidak ada di ruangan itu. Dalton berniat menghubunginya pun membuka lemari kecil yang didalamnya tergantung tapi setelan jas serta kemeja, dasi dan sepatu juga dompet dan ponselnya juga berada di dalam lemari itu.
__ADS_1
Setelah memakai pakaiannya, Dalton menghubungi Rob, tersambung tetapi belum terjawab.
Tak berapa lama ponsel Megan yang ada di atas meja juga berdering sangat keras. Meskipun begitu Megan tidak juga bangun. Akhirnya Dalton mematikan sambungan teleponnya kada Rob dan menghampiri Megan untuk membangunkannya.
Hal mengejutkan yang dilihat Dalton adalah ada foto dirinya sedang menatap ke layar laptop, dijadikan wallpaper ponsel milik wanita itu.
Dalton duduk di samping Megan yang tertidur dalam posisi duduk. Sebenarnya itu dapat membuat lehernya sakit.
Dalton berdehem, sebelum memanggil namanya, "Hemm Megan... "
Tidak bangun juga, Dalton lupa ponsel Megan yang berdering nyaring saja tidak membuatnya terbangun apalagi panggilan suara Dalton yang pelan
Suara ponsel yang sedari tadi berdering kini telah berhenti. Kelihatannya sang penelepon mematikan sambungan teleponnya.
Dalton menoel pipi Megan, tetap saja wanita itu tidak bergerak sedikit pun. Kemudian tangan kiri Dalton yang sakit menyentuh hidung Megan dan menekannya membuat wanita itu tak bernapas beberapa detik.
Tak berapa lama Megan bergerak bahkan terbangun karena merasa sesak.
"Ahhhmm pak," ucap Megan seraya menepis tangan Dalton.
"Bangunlah, kau tidur sangat pulas," ucal Dalton melepaskan jepitan tangannya di hidung Megan
Sementara Megan mengusap hidungnya yang memerah dan sedikit perih.
"Iya pak, akan ku kemasi barangku... Oh iya Rob sudah datang, dia sedang mencari tangan palsu lalu membalutnya dengan banyak perban. Katanya sekitar pukul 5 sore dia kemari," ucap Megan seraya mengemasi barangnya.
"Ini sudah pukul 5, mungkin dalam perjalanan," ucap Dalton
"Oh iya, sebaiknya kau mengatur volume sering ponsel mu. Sedari tadi ponselmu berdering sangat nyaring," ucap Dalton
"Iya, pak maaf jika mengganggu," ucap Megan
"Sebaiknya kau telpon kembali Katherine, mungkin penting," ucap Dalton melihat Megan yang sibuk memasukkan barangnya ke dalam tasnya.
"Iya.... eh.." Megan baru menyadari jika Dalton tahu nama penelepon itu berarti Dalton tahu jika fotonya menjadi wallpaper handphonenya.
Megan meraih handphonenya tanpa menoleh pada Dalton, dan sedikit menundukkan kepala karena malu.
__ADS_1
Semoga dia tidak menyadari jika yang ku jadikan wallpaper itu adalah dirinya....astaga kenapa sampai lupa ganti sih, batin Megan