Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Di sebuah ruangan tertutup, gelap tidak ada ventilasi, aliran udara yang keluar dan masuk nyaris tidak ada. Pengap dan minim oksigen.


Mereka yang masuk didalamnya pasti berpeluh keluh karena hawa panas yang mengitari ruangan tersebut.


Seorang pria terantai dengan kedua tangan menggantung ke atas, kaki berlutut dan tubuh yang loyo berada di ruangan itu sendirian dan tersiksa.


Penuh luka, penuh darah dan nanah tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya seakan dia telah pasrah dengan hidupnya.


Debaaaag


Satu tendangan membuat kepalanya berayun ke belakang. Bertambahlah satu kenikmatan sakitnya.


Kepalanya kembali menunduk tak kuat mendongak. Tetesan darah terus keluar dari hidung dan kepalanya.


Apa salah pria itu?


Dia meninggalkan jejak, saksi mata yang keberadaannya kini tak dapat ditemukan.


"Payah!" gerutu pria berjas itu, berkali-kali ia menyeka keringatnya tak tahan berlama-lama berada di ruangan itu.


Orang yang disiksa itu adalah pembunuh bayaran yang pernah ia sewa. Tugasnya adalah menghabisi 3 nyawa, tetapi pembunuh bayaran itu kehilangan jejak si kecil. Ia pun mencoba menghilang dari kota satu ke kota lain dengan cara menyamar, berganti-ganti nama.


Siapa lagi kalau bukan Dalton. Pria berjas itu tidak tahu nama Dalton, ia hanya tahu nama anak kecil itu adalah Alpha


"Kau harus menyelesaikan misi mu hingga tuntas. Tanpa ku bayar lagi! Mengerti?! Jika tidak, keluarga mu akan ku habisi," ucap Pria berjas itu mengancam padahal dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan keluarganya.


"Jangan sakiti keluarga ku," ungkap pria itu.


Sial bagaimana dia bisa tahu dimana keluarga ku, padahal aku telah mencoba pergi dan terus menghindari keluarga ku, agar memperkecil pencarian mereka, batin Mark


"Haha, kalau begitu carilah anak kecil itu. Huh tidak, dia sudah besar mungkin sekarang usianya sudah 25 tahun," ucap Pria itu


"Bagaimana aku bisa mencarinya jika wajahnya saja aku tidak tahu. Kau hanya memberikan foto bayinya. Serta nama yang kau berikan tidak ada di wilayah itu. Terlebih saat aku kesana, tidak ada anak kecil di rumah itu," jelas Mark yang memiliki nama asli Vir dan sempat berganti nama sebagai Michael


Debaaaag


Pria berjas itu memukuli Mark lagi.


"Bodoh! Kau bisa melihat di album foto milik keluarganya kan? Kau bisa menelusuri dimana sekolahnya. Jika aku ingin maka aku sudah melakukannya sendiri, masalahnya aku tak ingin mengotori tanganku sendiri! Bahkan hidupmu sekarang bisa ku cabut sewaktu-waktu," geram pria itu.


Masih disamarkan namanya, karena author sengaja agar kalian bertanya-tanya.

__ADS_1


Pria berjas sudah tak tahan lagi, dia mengakhiri pertemuannya di basement yang pengap. Mark di bebaskan, dengan syarat ia harus menemukan anak itu dan menghabisinya.


.


.


Dalton menggelar rapat dadakan, rapat intern dengan staff financenya. Darahnya mendidih ketika mengetahui persentase saham yang baru dibelinya turun beberapa persen. Semua karena kesalahan Megan dalam membaca chart saham dan ia tidak memahami sistem saham.


Tanggung jawab yang berbeda ketika ia memegang perusahaan kecil yang hanya mengurusi staff accounting yang hanya membuat laporan berdasarkan data yang sudah ada.


Megan menyatukan kedua tangannya ke depan, grogi, panik, dan bingung harus berkata apa. Dia menunduk menyesali keangkuhannya dengan percaya diri untuk mengisi posisi finance.


Seketika wajahnya pucat, keringat dingin bermunculan di jidatnya, lehernya, tangannya pun menjadi keringatan bahkan telapak kakinya ikut berkeringat hingga Megan melepaskan sepatunya


Mendengar teriakan Dalton yang menggema di ruangan bahkan rasanya suara itu menembus kulit darah hingga kedalam tulang belulangnya.


Baru kali ini ia dimarahin seseorang dengan tekanan.


Dalton terdiam setelah melemparkan bantex tebal ke atas meja. Memarahi dan Menyalahkan Megan dengan segala kerugiannya. Belum lagi hutang Megan yang telah ia bayar. Semua mendadak berada dia atas punggung Megan, menambah beban hidupnya.


"Sekarang perbaiki semuanya! Sebelum semuanya bertambah parah! Arghhh kau membuat ku terkena darah tinggi," ucap Dalton duduk di atas kursi kerajaannya karena sedari tadi ia mondar-mandir dengan meluapkan kemarahannya.


"Apa kau bisu?" ucap Dalton


"Kau sama sekali menganggapku apa? Radio yang terus mengoceh kesalahan yang telah kau perbuat!"


Dalton tidak suka karyawannya hanya diam menunduk dan tidak membela diri. Seakan-akan semua kemarahannya memang 100 persen kesalahannya.


"Maaf Pak, saya akan memperbaikinya," ucap Megan dengan lemah


"Dengan cara apa kau memperbaikinya hah? Kau ini mengerti tidak sih? Atau hanya berlagak bisa dengan mengatakan 'Saya bisa bos' padahal pengetahuanmu NOL PERSEN," ungkap Dalton


"Kalau kau tidak bisa, tak perlu kau perbaiki, nanti yang ada malah aku bertambah rugi. Pergi ke ruangan mu, berikan surat pengunduran diri, SEKARANG JUGA!" pekik Dalton dengan nada meninggi.


Bos besarnya ini terkenal pelit dan perhitungan salah sedikit salam penulisan saja dia sudah mengamuk.


Megan yang sedari tadi takut akhirnya menangis juga saat dipaksa untuk mengundurkan diri. Wanita itu pun permisi dari ruangan Dalton seraya menyeka air matanya.


Dalton melihatnya, seketika tersadar dengan ucapannya sendiri.


"Hemm lagi-lagi aku menyakiti seseorang," gumam Dalton

__ADS_1


"Rob, lain waktu jika menerima karyawan dia harus tahan banting, tahan uji nyali, tahan tekanan apapun, mengerti," ucap Dalton kepada asisten laki-lakinya yang selalu berada di samping Dalton.


Dalton beranjak ingin pergi ke ruangan Megan dan meminta maaf, karena dia tidak bermaksud menyakiti hati Megan. Dalton hanya ingin Megan bertanggung jawab dengan perbuatannya. Jika tidak bisa seharusnya dia mengatakan tidak bisa, bukan malah menyanggupi hal yang tidak bisa ia lakukan.


Tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Megan dari pintu kaca, sambil menelepon seseorang. Dalton menguping


"Ya, Ayah, aku akan jaga Mama. Hemm semua baik-baik saja..." ucap Megan berpura-pura tersenyum


"Tidak aku tidak menangis, aku hanya flu. Iya aku akan jaga kesehatan," Megan menyeka air matanya dengan tisu, diam sambil mendengar suara di balik telepon


"Aku bekerja baik disini, perusahaannya besar, bosnya juga baik. Ayah jaga dirimu ya, aku mau kerja lagi, bye.... love you...," ucap Megan dan ia menangis setelah menutup telepon.


Kedua tangannya menutupi wajahnya dan ia menangis, lagi-lagi wanita itu harus pergi mencari pekerjaan setelah ini.


Dalton merasa kasihan, dia ingin memberikan kesempatan pada wanita itu. Namun bukan berada di posisinya sekarang. Mungkin pekerjaan yang lebih ringan dan masih posisinya masih kosong belum ditempati siapapun.


Tok Tok Tok


Megan langsung meraih tisu dan mengelap air matanya. Lalu ia berdiri dan membuka pintu ruangannya.


"Pak... Hemm silahkan ma-masuk, maaf Pak, suratnya akan saya buat sebentar lagi," ucap Megan kemudian sibuk membuka lembar kerja worksheet dan menuliskan surat pengunduran diri.


"Hemm kau ketik sesuai yang ku katakan," ucap Dalton


"Oh baik pak," ucap Megan kemudian menghapus beberapa kalinya yang telah di ketik


Megan menunggu Dalton berucap


"Pada hari ini, saya mengundurkan diri dari jabatan Staf finance," ucap Dalton, ia berhenti menunggu Megan mengetik


Setelah selesai, Dalton meneruskan lagi.


"Dan pindah menjadi sekretaris Pak Dalton Higs tertanda di bawah ini....," ucap Dalton tetapi Megan malah berhenti mengetik


"Pak...ini se-serius saya jadi sekretaris. Tapi saya tidak tahu tugasnya. Saya takut jika membuat kesalahan lagi,"


"Ini kesempatan mu, maka dari itu jangan sampai salah, mengerti," ucap Dalton


"Baik Pak... terimakasih,"


"Dan aku minta maaf soal tadi," ucap Dalton sebenarnya tulus meski terdengar sedikit dingin.

__ADS_1


__ADS_2