
"Astaga aku bukan penguntit. Untuk apa Pak Dalton jangan terlalu percaya diri ya. Aku juga ada janji dengan teman, tetapi dia tidak memberiku scan QR jadi ya tidak bisa masuk," ucap Megan
"Kenapa tidak hubungi saja, kan beres,"
"Hmm masalahnya dia tidak bisa dihubungi," alasan Megan
"Begini saja, kau masuk dengan ku dan bergabung di mejaku disambil menunggu temanmu itu," ucap Dalton
"Tapi bukankah kita harus booking dulu ya?" tanya Megan
"Sudah masuk saja," ucap Dalton berjalan duluan, Megan menyusul.
Saat mendekati pintu masuk, Dalton menoleh dan menyuruh Megan untuk menyamakan langkahnya, "Ayo, aku tidak ingin berjalan sendiri," ucap Dalton
Megan menyamakan langkah kakinya dan Dalton memberikan lengannya untuk di gandeng, "Pegang lenganku dan jangan banyak bicara," bisik Dalton
Penjaga keamanan disana tersenyum dengan Dalton seraya membungkukkan badan, tanpa harus scan QR atau menanyakan siapa yang datang.
Setelah melewati pintu masuk dengan sukses, Megan bertanya penuh kebingungan.
"Pak kenapa penjaga itu tidak memintamu menunjukkan bukti scan QR?" bisik Megan
"Untuk apa? Aku tidak membutuhkan itu, restoran ini milikku," ucap Dalton membuat Megan menganga.
Megan sebagai sekretarisnya bahkan tidak tahu perusahaan apa saja yang dimiliki Dalton selain perusahaan Konstruksi tempatnya bekerja. Kali ini Megan mendapati Restoran mewah juga salah satu miliknya.
"Wow, tahu begitu kita tidak usah pesan segala pak," gerutu Megan
"Haha, kalau mau makan ya tetap bayar, bisnis is bisnis," ucap Dalton
Megan baru ingat Dalton adalah orang yang sangat perhitungan. Ia lalu melepaskan lengan Dalton takut jika Victoria melihatnya jalan bergandengan.
"Itu Victoria, sebaiknya aku duduk di meja lain," ucap Megan
"Aku yakin temanmu itu tidak akan datang kemari. Bergabung saja," ucap Dalton yang tahu betul jika Megan berbohong
Akhirnya Megan duduk bersama dengan meja Dalton dan Victoria. Dan Ekspresi tidak suka jelas terpancar dari Victoria
"Kau membawa sekretaris mu? Ah ini Dinner masalah atau pribadi?" tanya Victoria
"Dia menunggu temannya, sementara ku ajak kemari," ucap Dalton
"Selamat malam Nona Victoria," ucap Megan mengulurkan tangannya ingin menyapa
"Ya malam," ucap Victoria, hanya menjawabnya singkat tanpa membalas uluran tangan Megan
Kemudian Megan duduk di depan Victoria. Sedangkan Dalton duduk di samping Victoria. Mereka memesan menu makanan yang ingin di makan setelah pelayan datang menghampiri mereka.
Sangat canggung
Megan terdiam sambil menunggu pesanan, Dalton sibuk dengan ponselnya, dan Victoria sibuk berselfie ria.
__ADS_1
"Pak Dalton, seharusnya kau meletakkan ponsel mu dan berbicara dengannya," ketik Megan dan mengirimkan pesannya pada Dalton yang sedang sibuk dengan handphonenya
"Ada kau, aku jadi canggung haha. Ok setelah ini ku letakkan. Bantu aku memulai pembicaraan," ucap Dalton
Astaga pak bos terlihat kaku, apa dia tidak pernah kencan batin Megan
Megan memulai perbincangan, Dalton juga sudah meletakkan ponselnya. Namun tidak berhasil itu hanya dijawab ya dan tidak. Lalu setelahnya tidak ada percakapan dengan pembahasan yang lain. Terkesan lebih menutupi diri masing-masing
Megan lalu pamit ingin ke belakang, tetapi ia mengkode Dalton jika dirinya akan bersembunyi di balik dinding dekat arah menuju toilet.
Dalton menarik napas, mengambil minuman yang baru saja datang dan menegakknya sembari melihat ke arah Megan. Wanita itu terus menyuruh Dalton untuk buka suara lebih dulu.
(Kira2 begini ya visualnya. Megannya lagi ngumpet, jadi di meja ada Dalton Dan Victoria)
Astaga geregetan banget, Victoria sudah mulai berbicara dengannya tetapi Pak Dalton malah. lihat kesini hemmmh batin Megan lagi.
Akhirnya wanita itu pun memilih untuk pergi ke toilet dan duduk beberapa menit disana.
"Jujur saja ini kali pertamanya aku dinner dengan seorang wanita," ucap Dalton
"Ah haha pantas saja kau terlihat kaku," ucap Victoria mulai tersenyum dan tertawa kecil.
Kehadiran Megan di meja itu membuat keduanya jadi canggung dan sedikit tidak bebas
"Kau juga, terlihat pendiam," ucap Dalton
"Ya,Maaf itu tidak sengaja, dia ada di depan dan sendirian. Aku pikir dengan mengajaknya kemari tidak akan mengganggu,"
"Sudahlah lupakan, sekarang hanya ada kita berdua. Jadi kau mengajakku kemari pasti ada yang ingin kau bicarakan bukan?"
"Ya betul, aku ingin kita menjadi teman baik. Kau cantik dan pintar, siapa yang tidak ingin berteman dengan mu hehe," ucap Dalton tertawa kecil
"Oh hanya teman, aku pikir kau ingin yah... kita sama-sama sudah dewasa. Kau tahu kan apa yang ku maksud, ku pikir pertemuan ini menunju ke arah itu," ucap Victoria blak-blakan
"Haha kita baru saja berkenalan, jika sama-sama cocok why not," jawab Dalton membuka kesempatan untuk Victoria, sebenarnya tidak akan pernah karena itu hanya sebuah pancingan agar mereka dekat
Victoria sedikit senang, itu artinya mereka akan lebih dekat setelah ini. Teman tapi mesra mungkin, atau dengan istilah pendekatan sebelum berpacaran.
"Kalau begitu, bersulang untuk hubungan kita," ucap Victoria
Mereka berdua bersulang, dengan gelas masing-masing dan minuman yang berbeda, menciptakan bunyi dentingan gelas pertanda hubungan baru akan dimulai. Bukan kekasih, bukan pula sekedar teman biasa, tetapi teman tapi mesra.
Setelah menenggak satu tegukan whiskynya, Victoria mendekatkan duduknya dan membelai pipi Dalton.
"Kau sangat manis Bryan," ucap Victoria yang masih mengira pria disampingnya itu adalah Bryan
Cupp
Victoria mengecup pipi Dalton, tentu saja pria itu terkejut dan langsung menatap Victoria. Tanpa aba-aba kedua. Victoria dengan cepat mengecup bibir Dalton
__ADS_1
Kejutan kedua kalinya bagi Dalton. Pria itu mematung, bukan ini yang dia inginkan. Tetapi pikiran itulah yang Victoria maksud, teman tapi mesra. Sementara keinginan Dalton mereka seharusnya berteman saja, soal cinta adalah masalah waktu.
Megan menyaksikan dari kejauhan saat Wanita itu memutuskan untuk kembali ke mejanya, tetapi yang malah dilihat adalah sebuah pukulan yang mengenai hatinya
Mereka berciuman itu artinya... batin Megan menciptakan embun di kedua matanya. Ia terdiam menghentikan langkahnya menuju meja makan.
Victoria melepaskan kecupannya dan langsung berkata, "Hemm aku sepertinya terbawa suasana, ditambah restoran ini sungguh menciptakan suasana romantis,"
Dalton hanya tersenyum dan mengangguk kecil tanda tidak masalah. Tetapi sebenarnya sebaliknya. Matanya mengedarkan pandangan ke tempat lain dan berakhir pada sosok yang berdiri mematung di lorong menuju toilet.
Ia langsung memanggil Megan dengan isyarat tangan agar Megan duduk bersama dengannya.
Sebelum melangkah ke arah mejanya, Megan sedikit menyeka embun yang enggan membasahi pipinya. Ia duduk dengan canggung tetapi suasana lebih akrab dari sebelumnya. Mungkin karena Victoria telah mendapatkan amunisi dari Dalton.
Pelayan datang bersama dengan makanan pesanan mereka. Mereka makan dengan obrolan kecil. Hanya Dalton dan Victoria yang berbicara sementara Megan lebih memilih diam, tak ingin disebut pengganggu.
"Ini sudah 30 menit, mana temanmu," tanya Victoria pada Megan
"Teman ku tidak akan datang, aku salah hari," ucap Megan dengan berbohong
"Kau tidak boleh bertukar hari, ini masalah besar untuk seorang sekretaris. Walaupun kau sedang tidak bekerja," ucap Victoria sedikit menasihati padahal sebenarnya ia ingin sekali menunjukkan kecerobohan Megan pada Dalton
"Terimakasih nasihatnya," jawab Megan.
Usai dinner malam itu, Dalton juga meminta Megan untuk ikut dengannya. Lagi-lagi sikap Victoria mulai terlihat tidak suka, ia sedikit menyenggol lengan Megan saat berjalan menuju parkiran mobil. Untung saja Megan bisa menguasai diri dan tidak terjatuh.
Dalton membukakan pintu untuk Victoria di kurai depan, namun Victoria menolak.
"Apa kau membuat sekretaris mu spesial sehingga mendudukan dirinya di belakang hah? Aku yang di belakang," ucap Victoria sedikit ketus
"Oh sorry aku pikir kau ingin duduk denganku didepan," sahut Dalton
Kursi penumpang bagian belakang bagaikan kursi kerajaan bagi Victoria, jika ada tiga penumpang didalamnya. Tetapi jika hanya ada dua penumpang maka Victoria bersedia duduk di depan, di samping Dalton
Megan mengerutkan dahinya, heran dengan sikap Victoria, menurut Megan tidak ada masalah baginya duduk dimana.
Setelah permasalahan pendudukan selesai, Dalton mulai melakukan mobilnya menuju rumah Victoria yang terdekat lebih dahulu.
Sesampainya di rumah Victoria, Dalton turun membukakan pintu untuknya. Mereka berbicara kecil, Megan tidak ingin melihatnya takut jika ada kecilan yang mendarat pada diri Dalton atau sebaliknya, ia takut melihat jika Dalton yang memulai keromantisan itu. Megan memejamkan mata bersandar pada kursi dan terus men doktrin dirinya. Jika Megan bukan siapa-siapa.
Dalton membuka pintu mobil beberapa menit setelah berbicara kecil. Ia mulai menginjak pedal gas secara perlahan.
"Kau tahu, dia mengecup ku tadi. Aku terkejut dia memulai duluan, " ucap Dalton tiba-tiba berbicara seperti itu
"Haha kau menyukainya? Itu artinya dia menyukaimu," ucap Megan
"Apa kau juga seperti itu? Kau juga pernah mengecup ku tiba-tiba. Artinya kau menyukai ku kan?" celetuk Dalton
"What, No.... itu berbeda, Aku tidak ada perasaan apapun padamu,"
"Kenapa kau tidak ingin mengakuinya? Bahkan kau sampai menggunakan foto ku sebagai wallpaper ponselmu," ujar Dalton memojokkan Megan yang sudah tidak bisa beralasan lagi.
__ADS_1