
Dalton salah tingkah karena Megan ada di hadapannya. Segera dia masuk dan menempatkan dirinya duduk di samping Megan. Sementara Rob yang tadinya berangkat bersama Dalton, harus undur diri dan menghilang dari hadapan Dalton. Dia menunggu di luar dengan mobil lain.
Victoria pergi memanggil ob lewat sambungan interkom agar membuatkan minuman untuk tamunya
"Megan, kau baru datang?" ucap Dalton
"Baru saja," jawab Megan datar
"Aku tidak menyuruhmu kemari kan? Bagaimana kerjaan kantor?" ucap Dalton berbisik
"Saat Rob minta salinan data disitu juga aku berpikir pasti kau akan menemui Victoria sendirian. Jadi... itu alasannya kenapa aku tidak boleh datang, agar kau dan Victoria bisa bermesraan," ucap Megan balas berbisik
Dalton ingin menjawab tetapi Victoria sudah datang bergabung dengan mereka. Perbincangan serius pun langsung dilakukan karena keduanya tidak cukup waktu berbincang.
"Kau tidak ikut menanam saham mu di perusahaan itu? Kau akan mengalami keuntungan. Lihat ini kemarin temanku mengalami kenaikan besar, sudah dua kali dia mendapatkan keuntungan besar dan kali ini dia akan menaruh semua kekayaannya di saham IT, komunikasi elektronikal. Bisa dibayangkan bagaimana kayanya dia nanti," ucap Dalton
Jauh sebelumnya dia sengaja merekayasa semuanya, nama Rob kali ini sebagai pengusaha terkenal dengan menanamkan modal dan juga Dalton tak segan-segan mengundang pada reporter tentang keberhasilan Rob. Semua untuk membuktikan jika ucapannya benar.
"IT bukan tempat yang bagus untuk menanamkan saham,"
"Tapi kenyataannya keuntungannya itu meroket hingga 40% dan sesuai perhitungan itu akan terus bertambah hingga 200%," ujar Dalton.
Victoria tersenyum namun dalam hatinya dia menghitung-hitung.
"Kau sendiri kenapa tidak membeli saham itu?" tanya Victoria
"Aku baru saja akan berbisnis, jadi aku belum berani mengambil langkah diluar jangkauanku," ucap Dalton.
"Aku bisa membantumu, setelah ku hitung-hitung kekayaan mu bisa bertambah jika mengikuti tren saham ini," ucap Victoria
Sial kenapa dia malah menyuruhku, bagaimana caraku agar dia bisa ikut mengambil bagian di saham itu, batin Dalton
"Kami sedang dalam perencanaan mengalokasikan dana sisa untuk pembangunan baru, jika kami memakai semua uang perusahaan bagaimana untuk menutupi dana pembangunan itu?" ucap Megan memberikan alasan yang masuk akal
Dia sungguh pintar, kali ini batin Dalton
"Ah benar sekali,"
"Baiklah karena kita juga sudah selesai, kami akan pamit undur diri," ucap Dalton
"Hemm Bryan bisakah kita berbicara berdua," pinta Victoria
"Kalau begitu saya pamit duluan," ucap Megan dengan rasa kesal. Pasti ada apa-apanya jika mereka berduaan di dalam.
__ADS_1
"Terimakasih Megan, kau bisa menungguku diluar," ucap Dalton
Setelah Megan keluar, Victoria mendekat ke arah Dalton. Victoria ingin mengecup bibir Dalton tetapi bunyi telepon Dalton berdering. Untunglah telepon itu menyelamatkan dirinya
"Sebentar aku angkat," ucap Dalton rupanya yang menelepon adalah Megan
"Ya,"
"Cepat keluar," ucap Megan dan langsung menutup teleponnya
"Oh ya ya baik pak.. haha iya bisa diatur. Hmm setah ini saya akan langsung ke kantor Anda, Ya terimakasih," ucap Dalton yang masih meneruskan kalimatnya padahal Megan sudah menutup teleponnya.
"Hemm sepertinya aku tak bisa berlama-lama disini," ucap Dalton
"Baiklah, sebenarnya begini... Aku ingin berinvestasi di perusahaan itu, apakah kau punya nomer teleponnya?" ucap Victoria
"Kebetulan aku punya kartu namanya, Rob pernah menawari ku untuk ambil bagian," ucap Dalton
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama asli dari perusahaan IT yang sedang berkembang. Namun sesuai perhitungan Dalton perusahaan itu tidak akan lama, setelah meroket harga saham akan turun drastis. Tetapi dengan adanya isu gelembung spekulatif membuat manusia serakah lebih serakah lagi. Bahkan Mereka akan rela mengeluarkan seluruh kekayaan demi keuntungan 200%.
Rob dan perusahaan palsu yang baru saja dibuatnya ikut membeli saham itu sebagai iming-iming Victoria. Dan akan menjual sahamnya setelah keuntungan mencapai 40%
Setelah menyerahkan sebuah kartu nama, Dalton keluar menyusul Megan yang sedang cemberut. Megan sudah menunggunya didalam mobil dengan sopir Dalton.
Megan menarik kerah Dalton ke arahnya dan mereka berciuman sangat dalam. Tidak peduli jika didalam mobil itu juga ada sang sopir yang duduk di depan kemudi.
"Hmm kenapa kau menjadi se-gresif ini," ucap Dalton kemudian melanjutkan cumbuannya
"Aku hanya ingin menghapus bekasnya," ucap Megan menghentikan ciumannya
"Tetap milikmu lah yang selalu ku inginkan," Dalton tersenyum seraya membelai pipi Megan
Megan menunduk merasa kecil dihadapan Dalton karena Victoria lebih baik darinya.
"Apa kau ingin bukti jika aku serius denganmu hmm?" tanya Dalton
Sebelum Megan menjawab, Dalton mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut
"Kita pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga dan katakan pada Rob, untuk menjemput Ibunya Megan," perintah Dalton yang langsung dilaksanakan oleh sang sopir.
Sopir langsung menghubungi Rob yang berada di mobil lain, lebih tepatnya mobil itu kini sedang mengikuti Dalton
Mobil yang tadinya melaju menuju perusahaannya kemudian berbalik arah menuju kantor catatan sipil.
__ADS_1
"Kau tidak bercanda kan?" tanya Megan
"Aku? Kapan aku bercanda sayang. Aku akan membuatmu menjadi Nyonya Higs hari ini," Dalton bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Kemudian dia mencium bibir Megan lagi membuat sang sopir merasakan gerah, lantas sang sopir menutup tirai pembatas di belakang kursinya. Agar Privacy Dalton tidak terganggu.
Saat itu juga Dalton meraih tangan kiri Megan dan memasukkan sesuatu di jari manisnya. Sebuah cincin tunangan.
Megan merasakan ada sesuatu yang masuk di sela jarinya, ia langsung melihatnya dan menganga lebar
"Ahh.. ini... cantik sekali," ucap Megan
"Kau lah yang tercantik, seharusnya aku memberikannya kemarin," ucap Dalton.
"Hmm Kalau kita menikah sekarang... Bagaimana dengan Ayahku. Dia belum bisa ku hubungi,"
"Yang terpenting Ibumu sudah merestuinyakan? Kita akan menggelar pesta pernikahan saat Ayahmu kembali," ucap Dalton
Tak berapa lama, Dalton dan Megan sudah berada didalam kantor catatan sipil pernikahan. Mereka sedang menunggu kedatangan Gloria.
Sementara itu Rob sedang menerima telepon dan mengangkatnya di luar ruangan. Kemudian kembali lagi beberapa saat dengan senyum lebarnya. Dia berbisik di telinga Dalton dan mengabarkan kabar baik
"Bos, saya baru saja mendapatkan telepon dari seseorang bernama Steve, dia menanyakan soal keterkaitan saham yang dibeli dengan harga murah dan mendapatkan keuntungan dalam seminggu, setau saya Steve adalah bagian financial diperusaahnnya," ucap Rob
"Lalu Kau membenarkannya?"
Rob mengangguk, " Iya bos,"
"Haha Victoria masuk perangkap," gumam Dalton
"Segera sebarkan isu gelembung spekulatif itu hingga meluas agar semakin banyak saham yang dia beli ," Dalton tersenyum lebar.
Sementara ditempat lain
"Steve, apa kau sudah membelikan tren saham saat ini yang sedang populer?"
"Sudah bu, saya hanya membelinya 100.000 dollar," ucap Steve
"Apa kau tidak tahu berapa lonjakan kenaikannya hah? Masukkan semua uang yang kita punya," ucap Victoria
"Tetapi kita tidak bisa memakainya, jika tidak berjalan sesuai harapan maka perusahaan akan mengalami kerugian,"
"Aku lebih rugi jika kau hanya mengeluarkan sedikit uang. Aku yang bertanggung jawab soal ini," ucap Victoria
__ADS_1
Steve pun melaksanakan apa yang dikatakan Victoria, dengan tangan gemetar karena sebenarnya itu adalah uang perusahaan untuk anggaran lain.