Dendam Si Cacat

Dendam Si Cacat
Love


__ADS_3

Malam itu di langit yang mendung, tanpa bintang, suara angin menderu berlarian mengibaskan rambut indah Megan yang tergerai.


Dalton tidak langsung mengantarkan Megan pulang, dia sendiri enggan berpisah dari karyawan barunya itu. Kata-kata pancingan, yang terus memojokkan dirinya juga tidak jua terjawab.


Ada hati yang enggan berbicara, masing-masing menutupi diri. Salah satunya menganggap sebuah kasta adalah tameng terbesar dari hidupnya. Dan yang satunya enggan terbuka karena pesimis akan fisiknya, menciptakan ragu akan sejatinya cinta


Mereka sedang ada di puncak, jauh dari kota dan suara kendaraan yang berisik. Namun mereka bisa melihat cahaya malam dengan dihiasi lampu-lampu kota meski tanpa kehadiran bulan dan bintang


Dalton membuka jasnya sembari memandangi Megan yang sedang memeluk dirinya sendiri, karena angin malam yang dingin menyentuh tubuhnya.


Jas mahal itu pun mendarat di kedua pundak Megan. Tanpa bicara, tanpa kata yang keluar dari bibir Dalton, Megan dapat membaca isi hati Dalton yang memberikan jas untuknya. Ia langsung memasukkan tangannya dan memakai jasnya dengan benar


"Terimakasih," ucap Megan


Dalton menggulung kemejanya hingga batas siku sambil menduduki kap mobilnya. Kemudian melepaskan ikatan tangan palsu yang sama sekali tidak berfungsi untuknya.


Tangan palsu itu pun dilemparkan begitu saja.


"Pak... kenapa dilepas?"


"Megan tolong ambilkan kotak didalam laci dasboard," pinta Dalton yang tidak menjawab pertanyaan Megan


"Ya.. sebentar," jawab Megan mengambil


Dengan cepat Megan masuk kedalam mobil dan mencari kotak yang dimaksud. Lalu diambilnya dan menyerahkannya pada Dalton


"Bukalah, dan suntikkan obat itu ke lenganku," ucap Dalton memberi perintah seraya menunjukkan lengan yang telah siap untuk di suntik


"Ah... ta-tapi aku tidak bisa menyuntik," ucap Megan


"Haha apalagi lagi aku," ucap Dalton tertawa sendiri


Lalu Megan mengambil suntikan yang telah terisi sebuah cairan obat pereda nyeri. Rasa ngilu dan sakit pada luka bekas operasi tadi kembali meradang.


"Akan ku coba, jika sakit bilanglah," ucap Megan


Bermodalkan cahaya lampu dari mobil, Megan meminta Dalton berdiri agar ia bisa melihat urat-urat dari lengan Dalton


Cesss


Megan sudah masukkan suntikan dan menusukkan obat tersebut hingga habis.


"Obat itu masuk, aku bisa merasakannya. Terimakasih," ucap Dalton

__ADS_1


"Iya...kembali kasih, meski itu membuatku sedikit takut, Aku belum pernah menyuntik sendiri," ucap Megan


"Ku kira kau takut melihat tanganku," ucap Dalton


"Astaga tidak, aku tidak takut, itu hanya tangan kan?" jawab Megan tersenyum


Dalton kembali duduk


"Di kantor, baru dua orang yang tahu dengan kondisiku, Rob dan kau," ucap Dalton


"Kenapa kau menutupinya? Apakah untuk menghindari orang-orang yang menertawakan fisik mu? Maaf jika aku berkata demikian. Tetapi aku rasa sesuatu yang ditutupi itu akan tidak nyaman,"


"Alasan utamanya karena aku ingin menghindari seseorang yang mengincar ku. Aku tidak tahu siapa," ucap Dalton


Kemudian iapun cerita soal keluarganya yang mati terbunuh. Dirinya yang menghindar dan memakai tangan palsu agar pelaku pembunuh itu tidak mengejarnya.


"Tetapi aku rasa mereka sudah tahu dimana aku," sambung Dalton setelah selesai menceritakan kisahnya


Mata Megan berembun, kemudian ia tak sengaja menjatuhkannya dan membasahi pipinya


"Kau menangis?"


"Rupanya ada kisah yang lebih menyedihkan dibandingkan diriku. Aku salut dengan mu pak,"


"Pak? Ini diluar kantor, aku belum menikah jadi jangan memanggilku Pak," sahut Dalton


"Megan, seperti yang kau bilang tadi... Jika kita menutupi sesuatu, akan tidak nyaman,"


"Itu benar," jawab Megan cepat


"Lalu sampai kapan kau akan menutupi perasaan mu?"


"Aku rasa tidak ada yang ku tutupi, jika pun ada, aku tidak harus mengatakannya kan?"


"Hemm... sudahlah tidak usah di pikirkan, sebentar lagi hujan turun. Masuklah, ku antar kau pulang," ucap Dalton.


Kenapa dia sibuk menyuruh ku mengatakan perasaanku? Apa jangan-jangan dia juga punya rasa yang sama denganku? Lalu kenapa tidak dia saja yang mengatakan perasaanya lebih dulu. batin Megan


Megan beranjak berdiri dan mengembalikan kotak obatnya di laci dasboard dibawah setir kemudi. Megan menutup pintunya kembali dan melihat Dalton masih duduk di atas kap mobilnya.


"Kau bilang akan pulang lalu kenapa masih duduk disini?" tanya Megan lalu ikut duduk samping kiri Dalton.


"Aku berubah pikiran, aku ingin sedikit lebih lama di sini...berdua denganmu." ucap Dalton lalu memberanikan diri memandangi wajah Megan

__ADS_1


"Hah? O-okay..akan ku temani," jawab Megan membalas tatapan Dalton


Kemudian pandangannya beralih ke depan melihat cahaya kota yang jauh dari tempatnya. Dalton masih memandangi dirinya, Megan tahu meskipun tidak melihat langsung. Lalu dengan ragu Megan menolehkan pandangannya dan menatap Dalton lagi.


Mengagumi satu sama lain, berbicara dari hati ke hati. Wajah keduanya semakin mendekat dan Dalton mengecup bibir Megan, sementara Megan membuka bibirnya menerima cumbuan Dalton dan keduanya berciuman sangat dalam.


Tanpa disadari Dalton memegang punggung Megan menahan gadis itu agar tidak menjauh darinya. Megan mengalungkan tangan kirinya ke leher Dalton dan tangan kanannya menyentuh rahangnya.


Beberapa menit berciuman Dalton melepaskan tautannya menyatukan keningnya dengan kening Megan. Terdiam sejenak mengatur rasa yang sempat membuatnya berdebar kencang.


"Megan... aku mencintaimu," ucap Dalton pada akhirnya


"Bukannya kau dan Victoria...,"


Dalton melepaskan keningnya dan sedikit menjauh agar bisa dengan jelas menatap wajah Megan


"Aku tidak ada perasaan dengan wanita sombong itu. Apa kau berpikir aku dan dia berpacaran?"


"Kalian berciuman,"


"Aku tidak membalas kecupannya, apa kau cemburu? Lalu...Bagaimana dengan perasaanmu sendiri?" tanya Dalton untuk kesekian kalinya


"Aku... tidak pantas jika dengan mu,"


"Hmm Okay...aku tahu... aku lebih tidak pantas jika bersanding dengan orang normal seperti mu, Maaf soal tadi," Dalton beranjak seketika dirinya insecure.


Megan ingin meluruskan apa yang ditangkap oleh Dalton. Tetapi pria itu terlanjur masuk kedalam mobil dengan rasa malu yang luar biasa.


Mereka terdiam sepanjang perjalanan. Bunyi petir mengiringi perjalanan mereka yang saling bungkam, menafsirkan perasaan sendiri dengan menerka tanpa bukti.


Hujan menyambut keduanya di tengah perjalanan, semakin deras dan suasana dingin berkelabut didalam mobil.


Tanpa terasa Mobil matic Dalton telah sampai di depan rumah Megan. Dalton menghentikan mobilnya, tanpa bicara pada Megan.


Hujan deras, haruskan Megan meninggalkan Dalton dalam ketidakpastian. Lalu turun membasahi gaun kesayangannya yang hanya satu-satunya.


"Terimakasih Pak Dalton.... kau orang pertama yang menyentuh hatiku, jiwaku dan orang pertama yang menciumku. Kau sudah tahu kan bagaimana perasaanku padamu, tanpa harus ku jelaskan. Kau selalu menjadi Raja di hatiku. Aku tidak pernah menilai seseorang dari fisiknya, namun aku tahu diri dimana tempatku, hanya seorang cameo tidak lebih baik dari figuran," Megan meraih gagang pintu dan ingin turun di hujan yang sangat lebat.


"Megan....," panggil Dalton


"Ya," Megan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil


Ia berbalik menatap Dalton

__ADS_1


"Menikahlah denganku," ucap Dalton tiba-tiba


Kedua bola mata Megan membulat penuh dan jantungnya bertabuh kencang menggetarkan jiwa dan hatinya.


__ADS_2