DENDAM SUAMI

DENDAM SUAMI
Rara dan Sovia


__ADS_3

Karena capek berdebat, Davin maupun Sevita akhirnya hanya bisa diam tanpa bersuara.


Tidak terasa keduanya telah sampai. Setelah sesampainya dihalaman rumahnya, akhirnya Davin pun bersuara.


"Kita sudah sampai, turun lah. " Titah Davin.


Sevita pun langsung turun dan tidak menjawab pertanyaan Davin.


"Berhenti, " ucap Davin.


Sevita pun langsung menghentikan langkah kakinya.


"Aku ini pemelik rumah, dan tentunya Tuan rumahnya. Jadi? kalau kamu mau melangkahkan kakimu, lihat dulu langkah kakiku." Ucap Davin sinis.


"Maaf Pak Bos." Jawab Sevita yang langsung nerubah menjadi gugup.


"Apa kamu lupa, sekarang kamu itu miskin!" asal kamu tahu ya, bahwa orang tuam kamu telah membuangmu dan tidak menganggapmu sebagai anaknya, menyedihkan sekali nasibmu. " Ucap Davin dengan senyum puas.


Sevita pun geram dibuatnya, dihina, dicemooh bahkan ditindas. Sevita berusaha untuk diam, meski sebenarnya tidak terima bahkan sangat sakit.


"Lebih menyedihkan lagi jika harus berharap cinta yang tidak terbalas." Ucap Sevita yang tidak kalah sadisnya.


Davin pun langsung mencengkram kerah baju Sevita.


"Kamu masih mau hidup atau sudah bosan hidup, hah!" bentak Davin dengan sorot mata yang tajam.


Sedangkan Sevita hanya diam. Bingung harus berkata apa, karena kenyataannya Sevita sudah tidak dianggap putrinya Tuan Bramantyo.


"Maaf, aku hanya lagi tidak bisa mengatur emosiku, sekali lagi maaf. " Jawab Sevita yang nyalinya berubah menciut, Sevita sudah siap diperlakukan apapun oleh Davin.


"Bagus, " kamu benar benar bisa ku andalkan. " Ucap Davin sambil tersenyum puas.


"Sekarang masuk dan beristirahatlah, karena dia hari lagi kita akan menikah. " Pinta Davin.


Orang macam apa dia, seenaknya aja mengaturku. Batin Sevita.


Di Eropa, Rara dan Sovia tidak sengaja keduanya bertemu di Restauran.


"Rara... " seru Sovia.


"Sovia.. " seru Rara.


"Kamu ada acara apa di Eropa? " tanya Sovia.


"Aku sedang berlibur, kamu sendiri? " jawab Rara bertanya balik.


"Aku sedang mencari sosok orang yang aku cintai, Arka. " jawab Sovia sangat jelas.


"Apa... Arka? " ucap Rara kaget.

__ADS_1


"Iya lah, ngapain aku melanjutkan hubunganku dengan Kakak kamu itu, Lagian Davin hanya anak pungut. " Ucap Sovia.


Rara pun kaget dibuatnya, berani beraninya mengatakan Davin adalah anak pungut.


"Tutup mulut kamu Sov! " sekali lagi kamu mengatakan Kak Davin itu anak pungut, tidak segan segan akan aku buat keluarga kamu semiskin mungkin." Ucap Rara.


"Lakukan saja, jika kamu berani." Sovia menantang.


Tiba-tiba ponsel Rara bunyi ada panggilan masuk.


"Halo.. ada apa? " ucap Rara.


"Pulang lah, orang yang kamu cari sekarang sudah berada di Indonesia, dan kakak akan segera menikah. " Ucap seseorang diseberang telfon.


"Apa.. menikah? " secepat itu lah, baik kalau begitu aku akan segera pulang. " Jawab Rara langsung mematikan panggilannya.


"Aku akan segera pulang, dan nikmatilah pencarianmu hari ini. Kebetulan sekali, Kak Davin akan melangsungkan pernikahannya, apa kamu tidak ingin hadir dan menyaksikan hari bahagianya?" ucap Rara dengan senyum puas.


Sedangkan Sovia langsung pergi meninggalkan Rara, dan kini perasaan Rara sangat bahagia. Karena Orang yang dicarinya ternyata sudah berada di Tanah Air.


Rara segera siap siap untuk pulang ke Tanah Air. Kini Rara sudah tidak repot repot mencari Arka di Negeri orang.


Dirumah Davin, Sevita sedang beristirahat setelah membersihkan diri, perasaan Sevita benar benar kacau. Sevita tidak tahu harus memulainya dari mana, semua seperti angin topan yang susah dikendalikan.


Sevita hanya ingin menghindar dari Arka, dan juga mencari tahu tentang kecelakaan Kakaknya. Demi sahabat dan juga dibalik insiden kecelakaan Edwin Kakak nya.


Begitu rumit permasalahanku ini, sehingga diriku sendiri menjadi kacau balau, entah lah apa yang harus aku lakukan. Aku bingung untuk memulainya. Meski aku sudah berada di dunia Davin, namun perasaanku semakin kacau. Batin Sevita lesu.


Tok tok tok.. suara ketukan pintu membangunkan Sevita yang sedang fokus dengan lamunannya.


"Masuk.. " ucap Sevita yang masih berbaring ditempat tidur.


"Maaf Nona, Tuan Davin memanggil Nona untuk segera menemuinya diruang kerja nya. " Titah Bi Nana.


"Baik Bi.. nanti aku akan segera menyusul, " ucapnya.


Perasaan Sevita semakin gugup, perasaan takut pun sudah menyelimuti fikiran Sevita.


Ada apa lagi sih, pasti aku akan dihujam habis habisan. Batin Sevita.


Dengan tubuh gontai, Sevita memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Davin, meski berat, Sevita tetap harus kuat menghadapi sikap kerasnya Davin.


Tok tok tok... suara ketukan pintu terdengar oleh Davin.


"Masuk, " ucap Davin.


Tiara pun membuka pintu dengan pelan, nafasnya terasa sesak didada. Rasa takut nya benar benar tidak bisa diajak kompromi dengan detak jantungnya.


Semoga aku tidak ditelan mentah mentah sama Pak Bos. Batin Sevina.

__ADS_1


"Maaf Pak Bos, ada perlu apa memanggilku." Ucap Sevita pelan.


"Persiapkan dirimu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Kamu tidak perlu protes, ikutin saja apa yang aku perintahkan. " Titah Davin.


"Baik Pak Bos, " jawab Sevita.


"Jangan panggil aku Pak Bos, Panggil saja namaku. Aku tidak ingin orang lain mengatakan sesuatu yang buruk tentangku." Ucap Davin menegaskan.


"Baik Pak Bos, " ucap Sevita yang belum sadar akan sebutan namanya.


"Aku bilang sebut namaku! " apa kamu tidak mendengarkanku, hah! " Bentak Davin.


"Iya, Maaf Da.. Davi.. in." ucap Sevita gugup.


"Ulangi lagi tanpa jeda, " mengerti? " titah Davin.


"Maaf Davin," ucap Sevita singkat dengan gugup.


"Bagus," mulai sekarang biasakan panggil aku Davin." kamu mengerti? " keluar dan istirahatlah," ucap Davin dengan senyum nakalnya.


Sevita hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Davin diruangan kerjanya.


Tadi Dia bilang apa? minta panggil namanya, cih... menggelikkan. Sampai kapan aku akan bertahan didunia kebohongan ini. Sungguh menyiksaku. Batin Sevita.


Sevita pun segera masuk kamar, dan merebahkan tubuhnya kembali, bahkan Sevita pun sampai lupa dengan apa yang diperintahkan Davin untuk mengajaknya pergi kesuatu tempat. Dengan santainya Sevita mencoba memejamkan kedua matanya.


Tidak lama kemudian pintu kamar yang ditempati Sevita terdengar ada suara yang mengetuk pintunya.


Tiba tiba Sevita teringat akan perintah dari Davin.


"Aduh....! m*mpus deh, itu pasti Pak Bos, mana aku belum siap siap lagi. Aaah siap siap aku akan di lahap nya. " Gerutu Sevita.


Dor dor dor.. suara ketukan kini berubah menjadi gedoran pintu yang teramat keras untuk didengarnya.


Sevita pun segera membukakan pintu, dan ditatapnya kedua mata yang begitu tajam yang sudah siap untuk menerkam musuhnya.


"Dav... vin," ucap Sevita gugup.


"Ulangi lagi, " titah Davin.


"Davin, " ucap Sevita dengan tersenyum terpaksa.


"Apanya yang lucu, sampai sampai kamu tersenyum gitu, mau menggodaku, hah?" jangan pernah menggodaku, karena aku tidak akan pernah tertarik kepadamu." ucap Davin dengan sinis.


"Iya, aku sadar diri kok, aku kan bukan dari kalangan wanita wanita kalangan atas." jadi aku sadar diri saja. " Ucap Sevita datar.


"Bagus lah, kalau kamu ternyata sudah sadar diri akan statusmu yang sekarang." Ucap Davin.


Ini orang hanya mau menghinaku, cih.. menjijikkan. Batin Sevita.

__ADS_1


__ADS_2