DENDAM SUAMI

DENDAM SUAMI
Amarah Davin


__ADS_3

Sebenarnya Davin pun tidak ingin mengucapkannya, tetapi karena sudah merasa kesal dengan tingkah Ibu tirinya. Davin semakin membencinya, apapun akan Davin lakukan demi tujuannya itu.


"Bukan! wanita itu bukan wanita yang sudah melahirkanmu. Tetapi tidak lain adalah asisten rumah tangga, sekaligus penghancur rumah tangga." Jawab Davin yang terpaksa jujur terhadap Rara, meski menyakitkan. Mau tidak mau Davin tidak ingin menyembunyikan sesuatu yang ujung ujungnya akan merugikan dirinya sendiri maupun saudara perempuannya.


Daya tubuh Rara semakin lemah, wajahnya tiba tiba terlihat sangat pucat. Rara tidak dapat menopang tubuhnya sendiri, dan pada akhirnya terjatuh. Dengan sigap Davin segera menangkapnya dan segera menggendong adiknya. Tanpa pikir panjang, Davin langsung membawa Rara ke rumah sakit. Sevita mengekor dari belakang karena takut terjadi apa apa dengan sahabatnya. karena Rara adalah sahabat dekatnya.


Dengan langkah yang tergesa gesa, Davin segera memeriksakan adiknya, perasaan Davin pun tidak karuan memikirkan keadaan Rara yang terlihat sangat mengkhawatirkannya itu. Dokter pun segera memeriksanya, sedangkan Davin dan Sevita dimintai untuk menunggunya diluar.


"Ini semua gara gara kamu. Aku tidak akan memaafkan kamu, jika terjadi hal buruk terhadap adikku. Lihat saja, aku akan menghukum kamu lebih dari derita adikku selama ini." Ucap Davin penuh kesal terhadap istrinya, yang tidak lain adalah Sevita.


"Maksud kamu?" tanya Sevita yang tidak mengerti akan maksud dari suaminya sendiri.


"Ikut, aku!!" bentak Davin menarik paksa dan dengan tatapan mata kebencian. Sevita yang dibentaknya pun kaget dibuatnya, perasaan takut pun segera muncul dari pikirannya.


"Lepaskan!! apa maksud semua ini, katakan!" ucap Sevita yang juga ikut membentak karena emosinya.


"Lihatlah jalan raya ini, apa kamu mengingatnya?" tanya Davin mencoba mengingatkan Sevita.


Sedangkan Sevita pun tiba tiba teringat akan kejadian yang menimpanya begitu kelam jika untuk diingatnya kembali.


"Aku ingat, aku dulu hampir mengalami kecelakaan hebat. Tetapi... tiba tiba ada seseorang yang menolongku. Tapi aku tidak tahu siapa dia, yang jelas dia wanita. Yang telah mendorongku hingga aku selamat. Tapi aku tidak tahu keadaan gadis itu, karena gadis itu memakai masker dan juga jaket." Jawab Sevita mencoba mengingatnya.


"Bagus lah, kalau kamu ingat. Dia adalah Rara adik perempuanku, karena demi menyelamatkan kamu dia rela mengorbankan masa depannya. Dan kamu harus membayar semuanya." Ucap Davin dengan tatapan tajamnya.


"Apa....!! jadi... selama ini Rara yang sudah menolongku." Jawab Sevita dengan dibanjiri air matanya dan tubuhnya terasa lemas.


"Kamu harus membayar semua derita Rara. Aku akan membuangmu ke suatu tempat yang dimana kamu akan kesulitan untuk menjalani kehidupan kamu." Ucap Davin dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku mohon... kamu boleh memenjarakan aku. Tapi aku mohon jangan buang aku." Pinta Sevita yang kemudian meringkuk di kaki Davin.


"Kamu pikir aku bodoh, aku tidak main main dengan ucapanku." Ucap Davin sambil jongkok sambil menatap Sevita dengan tatapan yang sangat tajam. Sevita yang menatapnya pun sangat ketakutan. Hanya pasrah yang bisa dilakukan oleh Sevita.


"Ikut aku juga sekarang, aku akan membawamu pergi jauh dari kehidupanku dan adikku." Ucap Davin yang kemudian menarik tangan Sevita dengan kuat. Sedangkan Sevita mengerang kesakitan karena Davin menariknya dengan kuat. Orang orang yang melihatnya hanya bisa diam, tidak berani ikut campur dengan urusan rumah tangga orang lain.


"Aku mohon lepaskan aku, jangan buang aku. Aku mohon... apapun akan aku lakukan, tapi ku mohon jangan buang aku." Pinta Sevita sambil merengek memohon.


"Masuk," ucap Davin lalu mendorong tubuh Sevita kedalam mobil.


Davin yang semakin benci dan kesal dengan Sevita, tanpa pikir panjang dirinya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sevita pun ketakutan, ingin menghentikan ulah Davin namun tidak kuasa.


Tidak lama kemudian, Davin telah sampai disuatu tempat yang dimana tempat tersebut sangatlah suram. Setelah itu datanglah beberapa orang menemui Davin dengan pakaiannya yang serba hitam.


"Maaf tuan, apa yang harus saya lakukan." Tanya seorang laki laki yang tidak lain adalah anak buah dari Davin.


Sevita sendiri merasakan kebencian dari tatapan Davin yang begitu tajam dan menyakitkan, bahkan dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa apa.


"Terkutuk kamu, tuan Davin...!! kamu lebih busuk dari Raka. Aku menyesal mengenalmu, aku yakin bahwa kamulah dalang dari pembunuhan kakakku!! Aku bersumpah, hidupmu tidak akan tenang!!" bentuk Sevita dengan emosinya yang memuncak.


"Bawa wanita ini secepatnya, aku sudah muak melihatnya." Ucap Davin dengan tatapan tajamnya.


"Lihat saja, hidupmu tidak pernah bisa tenang. Das*r pembunuh!!" ucap Sevita yang tidak kalahnya dengan suara yang keras dipenuhi emosi.


Sevita pun menatap Davin dengan sorot matanya yang tidak kalah tajamnya. Sevita mengutuki Davin karena kekesalannya.


"Pembunuh laknat! sekarang juga ceraikan aku. Aku muak menjadi istrimu, bahkan aku sangat jijik denganmu." Ucap Sevita yang juga dengan tatapan bencinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, aku masih ingin menyiksamu secara bertahap. Aku ingin puas melihatmu menderita, kamu tahu itu?"


"Lepaskan! aku bisa jalan sendiri, tanpa kalian tarik tanganku ini aku bisa jalan. Ngerti!!" ucap Sevita semakin emosi.


Davin memandangi Sevita sampai bayangannya pun tidak terlihat, entah apa maksud dari seorang Davin berubah menjadi bringas bahkan berubah menjadi sangat kejam.


Prok prok prok


"Seorang Davin bisa juga membuang istri yang dicintainya, aku sangat salut denganmu Davin." Ucap seorang laki-laki yang tiba tiba datang di hadapan Davin.


"Mau apa kamu, hah! mau jadi jagoan. Lawan aku kalau berani, dan jangan jadi pecundang kamu." Jawab Davin dengan penuh kekesalan.


"Apa kamu lupa, siapa aku. Hah!" ucapnya seakan menantang.


"Kamu, aku tidak perduli siapa kamu. Yang aku tahu kamu itu seorang bajin*gan. Salah!" jawab Davin dengan suara kesalnya.


"Kamu bilang apa! baji*ngan. Apa kamu lupa apa yang dikatakan istrimu, kamu tidak lain adalah seorang pemb*nuh." Ucapnya mengejek.


"Keluarkan pistol mu kalau kamu berani. Aku menantang mu." Jawab Davin menantang.


"Aku bukan orang bodoh yang kamu sangka, Davin. Kalaupun aku berani, kamu hanya tinggal nama." Ucapnya memancing emosi Davin.


"Kita lihat saja, siapa yang akan menang, Arka..!! aku pastikan kamu tidak akan bisa menemukan istriku." Jawab Davin dengan senyum sinis.


"Seharusnya yang kamu singkirkan itu adik kamu, bukan istri kamu. Selamat tinggal, aku pegang ucapan kamu. Lihat saja, aku bisa menemukan istri kamu di manapun berada. Menemukan kamu berada disini saja aku mudah. Apalagi menemukan istri kamu. Sangat mudah bagiku untuk menerima tantangan mu." Ucap Arka yang tidak mau kalah dengan Davin. Kemudian segera meninggalkan Davin dan langsung naik mobil dengan kecepatan tinggi.


Arka yang malas berhadapan dengan Davin pun, ia memilih untuk pergi meninggalkan markas. Sedangkan Davin masih mencoba untuk mencerna setiap ucapan dari Arka, Namun tetap saja Davin tidak menemukan jawabannya. Dirinya pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan istrinya itu. Lalu, Davin meninggalkan tempat yang dimana dahulunya dijadikan markas untuk berkumpul dengan para sahabatnya yang tidak lain adalah Arka dan Edwin kakak kandung Sevita.

__ADS_1


__ADS_2