DENDAM SUAMI

DENDAM SUAMI
Kebencian


__ADS_3

Waktu pun sudah larut malam, tamu tamu undangan semua sudah pulang, kini tinggallah Sevita yang berada di rumah orang tua Davin. Mau tidak mau Sevita mengikuti kemana arah Suaminya menginjakkan kakinya.


Kedua orang tua Davin tidak menyukai Sevita, karena mengira bahwa Sevita berasal dari keluarga yang tidak mampu. Namun berbeda dengan Rara, justru Rara sangat menyukai Sevita. Karena kepribadian Sevita jauh lebih baik dari yang lainnya, meski orang tidak punya, tetapi mempunyai sifat yang baik.


"Sayang.." Panggil Davin pada Sevita, namun Sevita tidak meresponnya. Fikir Sevita bukan suara Davin yang memanggilnya. Justru orang lain yang sedang memanggil pasangannya.


Aduh.. aku lupa lagi memberitahunya. Mau sekeras apapun dia tidak bakal merespon panggilan ku. Batin Davin yang segera menghampiri Sevita.


"Ra, antar Istri Kakak ke kamar, dan temani Dia sebentar. Karena Kakak masih ada urusan, jadi temanilah Dia." Titah Davin. Rara pun mengangguk.


"Masuk lah ke kamar, aku hanya keluar sebentar. Ada Rara yang menemanimu." Ucap Davin pada sevita.


"Baik," jawab Sevita yang langsung berbalik arah dan menarik Rara.


"Sev, kamar Kakak ada di atas, kenapa menuju dapur." Ucap Rara heran.


"Aah iya, aku lupa. Maaf, aku belum terbiasa di rumah ini." Jawab Sevita.


Sedangkan Davin hanya geleng geleng kepala, dan langsung pergi keluar dan masuk kedalam mobil tanpa supir. Davin menyupir mobilnya sendiri. Entah mau kemana arah Davin pada waktu yang sudah larut malam.


Sedangkan Sevita kini sudah masuk ke kamar Davin yang sudah sah menjadi suaminya.


"Sev, kamu kok bisa kenal dengan Kak Davin? kamu kenal dimana? katanya kamu akan dijodohkan." tanya Rara penasaran.


"Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku bisa mengenalnya. Dan Kakak kamu tiba tiba mengajakku menikah. Anehnya lagi, aku menerima permintaan Kakak kamu. Aah sudah lah jangan diteruskan, aku malu." Jawab Sevita asal.


"Justru aku sangat suka, jika kamu yang menjadi istri Kak Davin. Aku yakin, kamu pasti bisa merubah Kak Davin dari sikap dinginnya dan juga kejamnya." Ucap Rara, namun sayangnya Sevita justru salah menyangka nya.

__ADS_1


"Oh iya, laki laki tadi itu siapa?" tanya Sevita membuka cerita.


"Oooh, yang tadi bersamaku? kasih tidak ya..." jawab Rara tersenyum.


"Kasih tahu lah, katanya kita bersahabat." Jawabnya.


"Baik lah, karena kamu sahabatku. Aku pun akan memberitahumu siapa Lelaki tadi, Dia adalah Arka. Aku tidak sia sia untuk mengejarnya, karena aku sangat mencintainya. Sejak pandangan pertama aku tidak ingin kehilangan dia, awalnya sih aku menyerah. Karena Kak Arka sudah dijodohkan dengan seorang anak dari sahabat orang tuanya, tapi ternyata waktu hari pernikahannya di Eropa. Calon Istrinya itu kabur, lalu aku langsung pesan tiket dan berangkat ke Eropa. Tapi sayang, aku tidak bertemu dengannya. Dia sudah pulang duluan, lalu Kak Davin memberirahuku dan menyuruhku untuk pulang. Dan tiba tiba Kak Arka mencariku dan mengatakan cinta kepadaku." Ucap Rara panjang lebar menjelaskan.


"Oooh begitu ceritanya, romantis banget kejutannya," jawab Sevita asal.


Ada apa dengan Arka? apakah ini jebakannya agar masuk ke duniaku? Aah... bagaimana ini, jika Rara tahu yang sebenarnya. Batin Sevita cemas.


"Oh iya, karena sudah larut malam, aku mau membersihkan diri dan juga istirahat. Aku tinggal sendirian, tidak apa apa, kan?" ucap Rara.


"Aku tidak apa apa, aku pun juga sudah gerah dengan pakaian yang aku kenalan ini, jadi... akupun ingin segera membersihkan diri dan juga beristirahat." Jawab Sevita.


"Apa apaan sih Ra, itu rahasiaku dong.. udah ah sana pergi." Jawab Sevita yang semakin geli dan bergidik ngeri akan ucapan malam pertama.


"Baik Nona.." ucap Rara tersenyum.


Kini Sevita berada di kamar sendirian, karena tubuhnya terasa gerah, Sevita langsung ke kamar mandi untuk berendam. Setidaknya rasa penatnya pun menghilang.


Sedangkan Davin sudah sampai di tempat tujuannya. Davin segera keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam Caffe. Dan dilihatnya seorang lelaki yang berawal dari sahabat menjadi musuh besar.


"Wah wah wah..." ucap seorang pria bertubuh besar dan kekar lelaki tersebut tidak kalah tampannya dengan Davin sambil menepuk nepuk tangannya.


"Tidak usah bersandiwara kamu! aku peringatkan sama kamu sekali lagi. Jauhi wanita itu dan tinggalkan adikku. Arka..!!" ucap Davin lantang.

__ADS_1


"Hahahahaha.." tawa Arka dengan puas.


"Kamu menyuruhku untuk menjauhi Istrimu, agar kamu puas membalas dendam kepada istrimu, dan juga suruh meninggalkan adikmu. Hah!!" Pintar sekali otakmu bekerja, kamu pikir aku ini bodoh." Jawab Arka yang tidak kalah suara kerasnya.


"Kamu pikir aku juga bodoh, mudah kamu kelabuhi. Sudah lah, hentikan kekonyolammu itu, Arka.." Ucap Davin semakin kesal.


"Aku tahu, dari dulu kamu menyukai Sevita, bukan? karena musibah yang menimpa adikmu itu dari perbuatan Sevita, maka kamu tidak bisa membedakan mana cinta dan mana dendam. Kamu sendiri ingin membalas dendam terhadap orang yang kamu cintai, Hahahaha..." jawab Arka dengan tawa lepas dan puas.


"Kurang ajar, kamu Arka..!!"


Bug... tinjauan melayang ke pipi Arka, dan mengeluarkan sedikit darah pada bibirnya.


Arka pun berubah menjadi murka, amarahnya pun melonjak dan segera membalas perbuatan Davin dengan cara yang sama juga.


Bug... Arka meninju Davin, dan merintih kesakitan, lagi dan lagi Arka menonjok pipi Davin dan mengeluarkan sedikit darah pada bagian bibirnya. Davin sendiri pun membalasnya kembali, hingga keduanya sama sama terjatuh dan menyerah karena sama sama kuat membuat keduanya menyerah.


"Pulang lah kamu, kasihan istrimu yang sedang menunggu kamu di malam pertama. Apa jadinya dengan wajah ancurmu itu menikmati malam pertama. Hahahah.." ucap Arka tertawa mengejek.


"Diam kamu, Arka! bukankah kamu juga mencintai Sevita? sayang sekali, kamu kalah dariku, dan aku lah pemenangnya. Hahahaha.." jawab Davin lantang dan juga tertawa mengejek.


"Kamu pikir Aku bodoh, membiarkan kamu bahagia dan menang. Hah!" ucap Arka senyum sinis.


Davin pun segera bergegas pergi, meski dengan tubuh yang sempoyongan. Namun Davin tetap menjaga keseimbangannya. Davin segera menghubungi suruhannya untuk menjemputnya, karena tidak mungkin bisa mengendarai mobil sendiri dalam keadaan tubuhnya yang penuh memar.


Begitu juga dengan Arka, dengan tubuh yang juga sempoyongan akibat tinjauan dan tonjolan dari Davin, membuat dirinya meringis kesakitan. Arka pun segera menelfon anak buahnya untuk segera menjemputnya, karena tidak ingin celaka pada dirinya akibat mengendarai mobilnya sendiri.


Tidak lama kemudian keduanya sudah dijemput oleh anak buah nya masing masing. Arka maupun Davin segera meninggalkan tempat pertemuannya.

__ADS_1


Sialan kamu, Arka.. lihatlah rencanaku selanjutnya. Batin Davin dengan kesal.


__ADS_2