
Sevita masih bengong setelah mendengar ucapan dari Davin.
"Hei.. segitukah keterkejutan nya kamu setelah mendengar bahwa aku adalah seorang Mafia. Hah!" ucap Davin mengagetkan Sevita.
"Siapa tau saja kamu memang benar benar kelompotan Mafia. Aku kan tidak tahu, kamu bohong atau tidaknya." Jawab Sevita fokus melihat kedepan.
"Memang mukaku ini terlihat Mafia? hahahaha kamu itu lucu," ucap Davin sambil tertawa dan memincingkan alisnya.
Sevita hanya terdiam, karena percuma jika beradu argumen dengan Davin. Sevita menyadarinya pasti akan kalah.
"Aku kasih tahu sama kamu nih, tidak semua muka terlihat kejam bukan berarti... ah sudah lah. Suatu saat kamu akan tahu sendiri." Ucap Davin yang fokus dengan setianya.
Tidak terasa sudah sampai dirumah Davin, Sevita pun langsung turun dari mobil dan bergegas masuk rumah. Lagi dan lagi Sevita meninggalkan Davin dan tidak menunggunya dan masuk bersama.
"Kamu lupa siapa kamu, hah!" bentak Davin yang berdiri di sebelah mobilnya.
Sevita pun teringat akan peringatan dari Davin.
Aduh! aku lupa lagi, bukannya ini rumah Pak Bos. Ya Tuhan... hukuman apa lagi yang akan aku Terima dari Pak Bos. Batin Sevita yang berdiri kaku.
Sevita pun langsung membalik badannya, dan benar saja, tatapan Davin yang sangat tajam dan serasa ingin menghabisinya.
Sevita pun langsung mencari ide agar Davin tidak menghukumnya.
"Aku sedang belajar bagaimana menyambut Suami ketika pulang, apa ada yang salah denganku?" ucap Sevita beralasan.
"Wah... wah... rupanya kamu sudah memikirkan dengan matang untuk menjadi Istriku." Jawab Davin sambil menepuk nepuk tangannya.
Davin pun langsung menghampiri Sevita.
"Kamu lagi tidak beralasan, kan?" ucap Davin sambil berbisik ditelinga Sevita, sedangkan Sevita pun kaget dibuatnya.
__ADS_1
Kenapa sih ini orang selalu menebak dengan benar, apakah dia mempunyai CCTV perasaanku ini, hah? Batin Sevita.
"Sudah lah, ayo kita masuk." Titah Davin.
Sevita pun mengangguk dan masuk kedalam bersama Davin.
Persiapkan 3 hari lagi, karena pernikahan kita akan segera diadakan." Ucap Davin sambil melangkahkan kakinya masuk kekamarnya.
Sedangkan Sevita sendiri langsung masuk ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan dari Davin.
Didalam kamar, Sevita langsung membersihkan dirinya dengan berendam. Setelah selesai, Sevita langsung merebahkan dirinya ketempat tidur. Sevita memandangi langit langit seperti tidak percaya, bahwa dirinya akan segera menikah yang tidak masuk akal.
Sebenarnya aku ini kabur dari pernikahan tidak hanya demi Rara, tetapi juga kematian Kak Edwin. Aaaah rumit sekali otakku ini, bagaimana caranya agar aku bisa lolos dari Tuan Davin. Apakah dia orangnya yang menyebabkan kematian Kakakku? Bahkan sorot matanya yang tajam memperlihatkan kekejamannya. Batin Sevita yang gelisah.
Sevita merasa bosan dikamar, dan memutuskan untuk pergi ke dapur.
Dengan langkah yang pelan, Sevita turun untuk menemui pelayan dapur. Karena Sevita merasa jenuh tidak memiliki kegiatan, akhirnya Sevita dengan nekad masuk ke dapur.
"Aduh Non, jangan masuk dapur," ucap Bi Ina merasa takut dengan Davin.
"Tuan Muda tidak mengizinkan calon Istrinya masuk ke dapur, karena takut jika Nona terkena apa apa. Tuan Muda sangat menjaga fisik Nona, jadi Bibi Mohon sama Nona jangan menyentuh bagian dapur mulai sekarang." Jawab Bi Ina.
"Apa? Sevita tidak diizinkan untuk menyentuh bagian dapur?" ucap Sevita heran.
"Benar Nona, jangan lah membantah dengan apa yang sudah Tuan Muda perintahkan. Sekarang Nona Lebih baik masuk kamar dan beristirahatlah,sebelum Tuan Muda murka." Titah Bi Ina.
"Murka? apa mmaksudnya, tidak diizinkan ini itu, tetapi kalau membentakku seenaknya saja. Memang aku ini mau dianggap apa? hah?" gerutu Sevita berdecak kesal sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. Sedangkan Bi Ina mendengarkannya dengan senyum senyum mengumpat.
Sevita menaiki anak tangga tanpa melihat ke atas, dengan cepat Sevita menaiki anak tangga.
"Aaaauwww.." suara Sevita kaget, tanpa disadari Sevita telah menabrak Davin.
__ADS_1
Davin langsung menangkap putar balik badan Sevita yang akan jatuh. Keduanya saling pandang dan salah tingkah dibuatnya, Davin dengan seksama memandangi kecantikan Sevita. Begitu juga dengan Sevita memandangi Davin dengan seksama, tanpa sadari Sevita telah menelan salivanya dengan susah payah.
"Ooooh, kamu mau menggodaku rupanya? sabar dong. Tapi sayangnya aku tidak tertarik denganmu, kamu bukan wanita yang aku inginkan." Ucap Davin dengan senyum sinis.
"Siapa juga yang akan menggoda Tuan," jawab Sevita lalu bergegas untuk masuk kamar dan menguncinya.
Didalam kamar Sevita mengutuki dirinya sendiri, akibat menabrak Davin.
Kenapa juga aku harus menabraknya, omongan macam apa tadi Dia. Menyebalkan sekali, aku yakin pasti Dia benar benar Mafia kelas kakap. Terlihat dari sikap Angkuhnya, kesombongannya dan juga kekejamannya jika mau menghukumku. Aku harus waspada dan harus berhati hati dengannya. Batin Sevita.
"Dor dor dor.. suara gedoran pintu mengagetkan lamunan Sevita.
Sevita pun langsung bergegas bangun dan membuka pintu kamarnya.
Ceklek.. Sevita pun membuka pintunya.
"Sekarang ikut aku ke bawah, jangan protes." Titah Davin yang langsung meninggalkan Sevita. Sedangkan Sevita bingung dibuatnya, rasa takut pun ada didalam fikirannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Davin, Sevita sendiri langsung mengikuti langkah Davin entah kemana.
Itu orang maunya apa sih, benar benar membingungkan. Bahkan aku sendiri susah untuk menebaknya, sebenarnya Dia mempunyai hati yang lembut tidak sih, makin menyebalkan saja setiap harinya. Batin Sevita kesal.
Davin pun telah sampai dibelakang rumah, tepatnya taman bunga dengan ayunan yang sangat cantik dengan perpaduan bunga bunga yang membuat suasana menjadi romantis.
Wah... romantis sekali tempat ini. Ternyata Dia suka tempat romantis juga, tapi kenapa terlihat menakutkan begitu jika sedang emosi. Batin Sevita.
"Jika kamu jenuh, tidak bisa berbuat apa apa dirumah ini, kamu cukup lakukan memandangi bunga bunga ini dan bermain ayunan. Dan satu lagi, aku tidak akan membiarkan kamu untuk menyentuh pekerjaan yang ada dirumah ini, mulai detik ini juga. Kamu cukup menikmati dan bersantai dirumah ini, dan layani aku setelah kamu menjadi istri sah ku. Sekali kamu menolak perintahku, maka aku akan menghukummu jauh lebih menyakitkan. Apa kamu sudah siap untuk menerimanya." Ucap Davin penuh penekanan.
Apa... melayani dia, aku harus melayani dia seperti apa? sedangkan aku saja tidak tahu tentang dunia pernikahan macam Dia. Karena rumus pernikahan orang pada umumnya jauh sekali dengan rancangan peenikahannya. Sungguh rumit dari pada mengerjakan soal ujian, bahkan lebih sulit dari skripsi. Aaaah aku harus berbuat apa? menyedihkan sekali hidupku ini. Ya Tuhan... tolonglah aku, batin Sevita dengan perasaan berkecamuk.
"Kamu tidak siap? hah!" ucap Davin sedikit membentak.
__ADS_1
"Aaah kata siapa kalau aku tidak siap, aku sangat siap siaga kok, dan pastinya aku sudah memikirkannya sebelumnya." Jawab Sevita bohong.
"Baik lah, setelah menikah aku mau melihat seberapa siapkah kamu menjadi Istriku." Ucap Davin dengan senyum jahilnya.