
Davin langsung mengajak Sevita untuk turun kebawah dan sarapan pagi. Meski ternyata sudah tidak ada diruang makan. Hanya Davin dan Sevita yang tertinggal sarapan Pagi.
"Layani aku sebagaimana kamu adalah istriku." Ucap Davin, dan Sevita pun langsung mengambilkan sarapan pagi untuk Davin.
"Ayo kita sarapan, sebentar lagi aku akan mengajakmu untuk berlibur." Ucap Davin lagi dan sarapan.
"Ok!" jawabnya singkat dan melanjutkan sarapan pagi.
Keduanya menikmati sarapan Pagi dengan keheningan. Sevita sendiri merasa risih menjadi Istri Davin, yang dimana seperti main drama. Setelah selesai sarapan keduanya langsung masuk ke kamar, Sevita sendiri dibuatnya kikuk. Sevita hanya duduk disofa, tidak berani melakukan apapun.
"Buang pikiran kotor kamu itu, aku tidak akan menggodamu." Ucap Davin sambil bersiap siap.
Sevita hanya diam dan tidak merespon ucapannya Davin, Sevita memutuskan untuk duduk di sofa sambil bersandar. Agar beban beratnya berkurang, meski tetap tidak ada perubahan.
"Aku tunggu diruang kerja, sekarang ganti pakaian kamu. Hari ini aku ada pertemuan di kantor. Kamu harus temani aku di kantor." perintah Davin.
"Baik," jawab Sevita singkat. Davin ke ruang kerjanya sambil memainkan laptopnya.
Sevita di dalam kamar segera mengunci pintunya, karena takut jika Davin sewaktu waktu masuk kedalam kamar. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Sevita segera keluar dari kamar. Namun sebelum keluar dari kamar, kedua mata Sevita melihat laci yang masih terbuka, Sevita langsung mencoba untuk menutupnya. Namun karena rasa penasarannya dengan laci tersebut, Sevita mencoba merogohnya.
Deg..... jantung Sevita berdegup kencang, entah apa yang didapatkan dari laci milik Davin.
__ADS_1
"Apa....!! pistol? maksudnya? apa dia Mafia? ucap Sevita berteriak kaget, namun tetap saja. Suara Sevita tidak akan terdengar dari luar. Karena kamarnya memiliki kedap suara, jadi aman jika berteriak sekencang mungkin.
Sevita segera merogohnya kembali, karena masih penasaran. Apa isi didalam laci tersebut. Sevita pun menemukan sebuah foto yang sudah sangat kusut. Sevita dengan seksama menebak siapa yang ada pada foto tersebut.
"Kak Edwin, Kak Alvin, Arka, dan Davin? mereka berempat ini ada hubungan apa? tunggu.. kenapa foto Arka disilang. Ada apa dengan Arka? Apakah korban selanjutnya, Davin akan membunuh Arka? jika iya, berarti Raka dalam bahaya. Tapi? sepertinya bukan deh, aaaaah aku tahu sekarang. Pasti Davin dan Arka berebut Sovia, bukankah Sovia tergila gila dengan Arka? sedangkan Sovia mantan Davin. Bisa saja begitu, tapi... ini foto Kak Alvin kenapa dibolongin. Apalagi maksudnya. Bodoh amat lah, ini kan masa ABG labilnya mereka. Yang aku cari sekarang adalah, siapa dalang dibalik meninggalnya Kak Edwin?" gerutu Sevita dalam kamar.
"Ehem ehem.." suara deheman Davin mengagetkan Sevita yang sedang memegang foto. Sevita mendadak ketakutan, dan gemetar. Tatkala Davin tengah memperegokinya.
"Apa yang ada ditanganmu?" tanya Davin.
"Emmm... bukan apa apa," jawab Sevita gugup.
"Baik lah, aku tidak sengaja menemukan selembar foto. Saat aku mau menutup laci ini, maafkan aku." Jawab Sevita mengaku kesalahannya, karena Sevita tidak mau berurusan dengan Davin. Lebih baik mengakui dari pada harus menerima hukuman. Lagi pula hanya sebuah foto yang tidak ada hubungannya dengan kepergian Edwin Kakak kandung Sevita.
"Bagus, kalau kamu mengakuinya dengan jujur. Aku tidak akan menghukum kamu, tapi jika kamu masih berusaha ada kebohongan padaku, maka bersiap siaplah aku akan menghukum kamu lebih parah." Ucap Davin.
"Aku mengerti, dan aku sudah selesai bersiap siap." Jawab Sevita.
"Baik lah, kalau begitu kita langsung turun. Karena aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berdebat denganmu." Ucap Davin langsung bergegas keluar dari kamarnya. Sevita pun langsung mengikuti langkah kaki Davin yang begitu cepat, membuat Sevita susah untuk mengejar langkah kaki Davin.
"Davin...." seru wanita pada Davin yang sudah berdiri dengan Ibu nya. Siapa lagi kalau bukan Sovia, Sevita pun sempat shok melihat Sovia berada di rumah Davin, namun Sevita tidak menghiraukan kedatangan Sovia. Sedangkan Sevita tetap pada langkah kakinya untuk mengejar langkah kaki Davin.
__ADS_1
Disaat itu juga Davin pun merasa jijik melihat wanita yang berada dihadapannya. Davin pun tidak meresponnya, dirinya tetap melangkahkan kakinya dengan cepat. Begitu juga dengan Sevita, sudah seperti sekretarisnya saja. Yang dimana mengikuti langkah Bos nya.
Tiba tiba Sovia berlari dan memeluk Davin dari belakang. Dan membuat Davin maupun Sevita menghentikan langkahnya.
"Davin... aku merindukanmu. Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu, aku masih mencintaimu Davin.." Ucap Sovia sambil memeluk dari belakang. Disaat itu juga, darah Davin seakan mendidih dengan sikap Sovia yang sudah kelewatan.
Sevita sendiri melihatnya pun geram atas sikap Sovia yang sangat menjijikkan. Sevita sendiri serasa ingin mencabik cabik Sovia dengan bringas. Namun Sevita sadar, Sevita hanya Istri palsu Davin.
"Lepaskan Aku, Sovia...!" Teriak Davin dengan keras. Semua yang melihatnya pun kaget atas sikap Davin pada Sovia. Apalagi Ibunya, langsung shok melihat sikap Davin yang berubah menjadi bringas. Fikir Ibunya, Davin akan luluh setelah Sovia memeluknya. Namun kenyataannya sungguh diluar dugaannya.
Sovia yang juga shok atas sikap Davin padanya membuat Sovia sedikit kesal. Karena sama saja dipermalukan didepan Sevita. Sovia pun segera melepaskan pelukannya karena takut jika Davin berubah lebih bringas lagi.
"Kamu ini siapa? istriku saja bukan. Aku peringatkan, jangan sentuh aku selain istriku sendiri. Kamu tahu, kamu tidak lebih dari pengemis. Kamu melakukan apa yang kamu mau, tanpa kamu pikir perasaan yang lainnya. Setelah kamu gagal mendapatkan Arka, lalu kamu berusaha mendekatiku. Wanita macam apa kamu, Hah! sedikitpun kamu tidak pernah berubah. Dulu aku menerima kamu itu karena permintaan konyol Ibuku, tapi sekarang maaf sekali, karena aku sudah dibodohi sama wanita seperti kamu." Ucap Davin meluapkan kekesalannya.
Sevita pun kaget mendengar penuturannya, Sevita mengira Davin sangat tergila gila dengan Sovia, namun kenyataannya hanya menuruti kemauan Ibunya.
"Tapi Dav, aku baru sadar kalau aku sangat mencintai kamu. Kembalilah denganku Dav, aku tahu bahwa kamu sebenarnya masih mencintaiku. Aku yakin kamu hanya sandiwara dengan semua ini, agar Istrimu tidak sakit hati. Iya, kan?" ucap Sovia yang masih merengek.
"Sandiwara? kamu mengira aku ini sandiwara, apa kamu lupa. Kamu dan Ibu tiriku hanya ingin menguasi keluarga Wangrama, kan? aku tidak bodoh seperti yang kamu kira. Kalian berdua sekongkol dibalik layar ku dan Papaku." Ucap Davin yang semakin geram. Rara pun shok mendengarnya, Rara sendiri terasa tersambar petir mendengar penuturan dari Davin. Rara pun tidak kuasa menahannya, air matanya pun mengalir begitu deras mendengar penuturan dari Kakaknya. Yang Rara tahu adalah Ibu kandungnya. Rara pun langsung menghampiri Davin.
"Apa....! Ibu tiri? apa ada hubungannya dengan Kak Davin melarangku memanggil sebutan Mama? jadi ini alasan Kak Davin melarangku? jawab Kak.. jawab..!!" ucap Rara sambil memukul dada bidang Davin yang kekar dan menangis. Davin pun bingung untuk menjelaskannya.
__ADS_1