
Sevita bingung dengan keadaannya sendiri, berusaha mengingat ingat, namun tetap saja nihil.
"Sebenarnya saya sakit apa Dok? " tanya Sevita.
"Nona tidak sakit apa apa, hanya saja Nona kelelahan." Jawab Dokter tersenyum.
"Apa...! hanya kelelahan. Kamu bilang calon Istriku sedang hamil, kenapa sekarang baik baik saja. Ooooh ini pasti kerjaan kamu yang sengaja membuatku panik, sialan kamu Ren.." Ucap Davin kesal.
"Sekarang kamu lebih cepat lebih baik untuk segera pulang, bisa gila aku jika kamu berlama lama dirumahku. " Ucap Davin kembali, sedangkan Sevita bingung dibuatnya.
"Baik lah, ini obat untuk calon istrimu. Berikan sesuai anjuranku, maksud aku anjuran Dokter." Ucap Dokter Rendi sambil tersenyum puas, karena bisa mengerjain Davin.
"Iya iya iya.." aku percaya sama Dokter Rendi yang masih berpegang teguh pada kesendiriannya. " Ledek Davin dengan kesalnya.
"Payah kamu, aku pulang dulu, jangan lupa kabari aku jika kalian menikah. " Ucapnya.
"Tenang saja, aku pasti akan mengundangmu. Percayalah, tapi awas saja kalau kamu hanya sendirian. " Jawab Davin.
Dokter Rendi sudah pergi dan kini tinggallah Sevita yang masih berada dikamar Davin.
"Kamu mau kemana? " tanya Davin.
"Pindah kamar Pak Bos, Maafkan aku, jika aku sudah merepotkan Pak Bos. Untuk mengganti pemeriksaan Dokter, potong saja gajihku Pak.. " ucap Sevita.
"Kamu saja bekerja belum ada sehari sudah minta dipotong gajih kamu, " aku tidak lagi salah dengar, kan? " jawab Davin.
"Maaf Pak, saya akan berusaha tidak akan lagi jatuh pingsan. " Ucap Sevita.
"Istirahatlah, kesehatanmu jauh lebih penting, jika kamu ingin beristirahat, masuk kekamar yang semula." Titah Davin.
"Terimakasih Pak, tapi aku tidak bisa. Aku akan tetap tidur dikamar yang bersebelahan dengan pelayan lainnya. " Jawab Sevita.
"Kamu mau memancing emosiku, hah! " bentak Davin.
Sevita tidak punya cara lain selain nurut dengan Davin.
Sevita sudah dikamar yang pernah ditempatinya, perasaan Sevita tidak karuan. Masih memikirkan kejadian apa lagi yang akan dialaminya setelah keluar dari rumah Davin. Entah kenapa Sevita terasa berat untuk meninggalkan rumah Davin, padahal kalau dipikir kedua orang tua Davin sangatlah sombong, namun tidak untuk Davin, sifat sombongnya sih sama sekali tidak ada pada dirinya. Tetapi sifat keras kepalanya yang tidak bisa di tahan.
__ADS_1
Aku pulang saja kerumah apa ya... tapi pasti pernikahanku dengan Arka akan dilanjutkan. Aku sendiri tidak tahu keadaan dirumah maupun keadaan keluarga Arka sendiri. Aaah kenapa seakan aku harus memilih diantara keduanya, antara Arka dan Davin. Padahal Arka dalam pernikahan serius, sedangkan dengan Davin hanya sandiwara. Aah masa bodoh, siapa yang akan menikah denganku berarti itu yang terakhir. Gumam Sevita dengan perasaan yang sedang kacau.
Tidak terasa Sevita akhirnya terlelap dari tidurnya. Davin yang tidak sengaja melihat pintu kamar Sevita belum terkunci, Davin pun menutupkan pintu kamar Sevita.
Andai kamu tahu, aku pernah mengenalmu, Dan kamu ternyata sahabat adikku. Kamu rela pergi dari pernikahanmu dengan Arka karena kamu tidak ingin menyakiti perasaan adikku. Sungguh pengorbananmu sebesar itu demi sahabat kamu, aku pun mengetahui karena adikku memiliki penyakit yang sangat ganas. Dan kamu ingin berkorban demi adikku, sungguh aku tidak tahu jalan fikiranmu. Batin Davin.
Davin langsung menutup pintu kamar Sevita, dan bergegas pergi ke kamar dan beristirahat.
Pagi hari Sevita masih berada didalam kamar, rasanya pun malas untuk beraktivitas. Sevita bersiap siap untuk segera pergi dari rumah Davin. Karena bagi Sevita seperti didalam penjara jika terus terusan berada dirumah Davin.
Ra.. kenapa justru aku yang terjebak dirumah Kakak kamu sendiri, kenapa dahulu kamu tidak memperkenalkanku dengan Kakak kamu, jadi setidaknya aku tidak jadi bahan emosinya. Mana aku harus menikah dengannya lagi, mana aku masih harus menghadapi Arka juga. Hah! sungguh menyebalkan. Gumam Sevita didepan cermin.
Tok tok tok... suara ketukan pintu terdengar oleh Sevita.
"Masuk.. " sahut Sevita.
"Maaf Nona, Tuan Muda sudah menunggunya sedari tadi." Ucap Bibi.
"Apa Bi... " Pak Bos sudah ada dibawah Bi? " tanya Sevita was was.
" Benar Nona, maka cepatlah Nona segera turun. " Titah Bibi.
Tumben sekali sudah bangun. Gumam Sevita.
Sevita pun sudah rapi, dan Sevita selangkah demi selangkah Sevita menuruni anak tangga.
"Maaf Pak Bos, aku telat untuk keluar dari kamar. " Ucap Sevita langsung menunduk.
"Waaah belum jadi Istriku saja kamu sudah berani telat, bagaimana kalau sudah menjadi Istriku. Pasti akan lebih bersantai dan akan terus menggodaku." Ucap Davin dengan senyum menggoda. Sedangkan Sevita hanya diam, dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Sekarang kita sarapan terlebih dulu, nanti baru aku akan mengantarkanmu ke kontrakan kamu, apakah kamu sudah siap?" tanya Davin dengan senyum puas.
"Aku sudah siap Pak Bos. " Jawab Sevita singkat.
"Baik lah," Ucapnya lagi.
Sekarang Sevita masih didalam perjalanan, keduanya hanya sekedar saling melirik.
__ADS_1
Cih.. melirik.. gumam Sevita.
Cantik juga sebenarnya, pantas saja Arka akan tetap mengejarmu. Dan bodohnya lagi adikku, kenapa juga masih tetap ingin mendapatkan cinta dari Arka. Gumam Davin.
Tidak terasa mobil Davin telah sampai diposisi yang dulu pernah Sevita mengalami jambret.
"Kita sudah sampai, di silahkan turun dari mobilku. " Titah Davin.
Apa.... kenapa bisa ada Arka, bukankah masih di Eropa? lalu kenapa sekarang sudah ada didalam negeri. Bukankah Dia masih berada di Eropa. Lalu bagaimana dengan Rara. Batin Sevita cemas.
" Kenapa masih diam? " cepat keluarlah. Karena aku masih banyak pekerjaan di Kantor. " Ucap Davin.
"Tapi .. maaf Bos sebelumnya, kontrakan ku masih sedikit jauh. " Jawab Sevita.
"Aku tidak mau tahu, kamu turun disini. Karena kita bertemu disini, emmmm cepat lah turun. " Titahnya kembali.
"Tapi Pak... " ucap Sevita menggantung.
"Ooooh kamu takut ada Arka diluar?" ledek Davin.
"Arka siapa Pak Bos, " Jawab Sevita cemas.
"Kalau kamu tidak mengenalnya, maka cepatlah segera turun dari mobilku. " Titah Davin dengan keras.
"Saya kebelet Pak Bos, tiba tiba perutku sakit.. " Toilet tempat kontrakan saya lagi rusak dan saya belum memperbaikinya, aku mohon Pak Bos, antara kan aku ke Toilet umum Pak Bos.." pinta Sevita.
"Baik lah, sekarang kita turun. " titah Davin kembali.
"Tapi disini tidak ada toilet Umum, " jawab Sevita.
"Kamu tidak lihat, hah! tulisan segede gitu kamu tidak bisa membacanya? " Ucap Davin.
Sevita masih diam, bingung mau pakai cara apa lagi supaya bisa lolos, lagi dan lagi Davin memberi pilihan yang sangat berat.
"Kamu mau menikah denganku atau kamu akan memilih menikah dengan Arka. " Ucap Davin kembali dan tersenyum sinis.
"Aduh Pak Bos, jelas aku memilih menikah dengan Arka dong, pak Bos. Tapi aku tidak mengenalnya, lalu untuk apa aku memilih menikah dengan nya." Jawab Sevita pura pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku bilang turun, ya turun! " aku tidak mau melihat wanita yang plin plan sepertimu. " Kalau kamu tidak mau mengaku, maka aku akan menarikmu paksa untuk keluar, kamu sendiri yang bilang tidak mengenal Arka. Maka keluar dari sekarang! " bentak Davin yang semakin kesal.
Sevita hanya diam, apa yang harus dipilihnya. Menikah dengn Arka namun hatinya akan tetap sakit karena sahabatnya sangat mencintai Arka. Begitu juga jika memilih Davin, akan sakit juga. Bagaimana jika Sovia gagal mendapatkan Arka, pasti minta kembali dengan Davin. Fikir Sevita didalam dilemanya.