
Sevita masih merayu kedua orang tuanya berharap mendapatkan restu.
"Pa... " restui kami ya Pa.. Ma.." rengek Sevita.
Sedangkan Papanya ingin rasanya melemparkan tinjuannya kearah Davin. Entah apa yang membuat kedua orang tua Sevita sangat membenci keluarga Wangrama. Ditambah lagi Ingin melamar Sevita, putri semata wayangnya dan pewaris satu satunya. Karena Kakak laki laki nya telah meninggal karena kecelakan. Maka pewarisnya adalah Sevita.
"Apakah lamaran saya ditolak? " tanya Davin santai.
"Untuk apa kamu menikahi putriku, apa kamu kurang cukup untuk melukai putraku hingga meninggal. " Ucap Tuan Bram, seketika itu juga Sevita membelalakkan kedua bola matanya, sontak kaget Sevita mendengarkannya.
"Apa....!" jadi Kak Edwin meninggal gara gara kamu, hah! " Bentak Sevita.
Kedua mata Davin dengan sikap menatap Sevita dengan tatapan yang sangat tajam. Sevita pun takut menatapnya.
"Kamu bisa diam, tidak! " ucap Davin tidak kalah kerasnya.
Sevita langsung gemeteran mendengar ucapan Davin. Sedangkan Tuan Bram pun sedikit ada rasa takut jika putrinya yang akan jadi tawanannya.
"Jika Tuan tidak merestui pernikahan kami, maka kami akan tetap melangsungkan pernikahan secepat mungkin. " Ucap Davin.
"Tujuan kamu menikahi putriku untuk apa! " ucap Tuan Bram geram.
"Tujuanku untuk membalas dendam. " Jawab Davin dengan entengnya.
Kedua mata Tuan Bram pun tidak kalah tajamnya. Namun Davin tidak ada rasa takut sedikitpun.
"Balas dendam." Ucapnya.
"Sevita... " seru Arka memanggil Sevita.
Davin yang mendengar orang yang berteriak, jantungnya berdegup tidak terkontrol. Dada bidangnya terasa panas, dan rasanya ingin memangsa orang yang akan menjadi incarannya.
Davin pun langsung menoleh kearah sumber suara, dan ditatapnya wajah yang sangat dibencinya.
__ADS_1
"Arka...!" Gerutu Davin dan mengepalkan kedua tangannya.
Sudah aku duga, Tuan Bram pasti sudah menghubungi Arka. Kelicikanmu sungguh mudah aku tebak. Lihatlah aku akan membalasnya dengan putrimu, akan aku buat putrimu jatuh cinta padaku, dan setelah itu akan aku buang . Gumam Davin.
"Davin.. Davin.. " sungguh bodoh kamu, kamu pikir aku ini mudah kamu kelabuhi." Ucap Arka dengan tawanya.
"Kamu mau menikahi Sevita, hah!" jangan mimpi kamu." Karena aku lah yang akan menikahinya." Ucap Arka dengan senyum sinis. Sedangkan Davin masih santai dengan apa yang Arka ucapkan.
"Pergi kamu dari sini, " cepat keluar! bentak Tuan Bram.
"Baik lah, aku akan segera keluar. " Tapi.... sebelum aku keluar, katakan kepada Sevita, mau ikut denganku atau... tinggal dirumah ini. " Ucap Davin dengan senyum mengembang. Sedangkan Sevita bingung dibuatnya, pilihan yang sangat sulit. Semua pilihan adalah ancaman, sedangkan Sevita masih berhutang nyawa dengan Rara. Sevita pun dibuat dilema dengan dua pilihan yang sangat berat.
"Mana ada Sevita mau meninggalkan rumah ini, jelas jelas putriku akan bahagia tinggal bersamaku, sedangkan hidup denganmu hanya dijadikan untuk balas dendam." Jawab Ayah Sevita dengan senyum mengejek.
"Sevita, kamu jangan menggagalkan pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu, kamu jangan turuti kemauan Davin, percayalah padaku, bahwa kamu akan dijadikan balas dendam untuknya. " Ucap Arka memohon.
Sedangkan Sevita sendiri bingung, mana yang sebenarnya benar benar jujur, dan kenapa dua duanya membuatnya bimbang. Sevita benar benar susah untuk mencerna kejadian lampau bersama Edwin Kakaknya.
Lalu... Rara.. aaaah.. pusing.. " batin Sevita yang susah mencerna maksud semua ini antara Davin dan Arka maupun Ayahnya.
"Pa... Ma... Arka... " Maafkan aku, aku akan ikut dengan Davin, dan aku akan menikah dengannya." Ucap Sevita dengan kelu, rasanya sangat berat memberikan keputusan yang teramat sulit. "
Pa.. Ma.. maafkan Sevita, karena Sevita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sevita rela mengorbankan kebahagiaan Sevita, agar Sevita dapat mengungkap misteri insiden meninggalnya Kak Edwin. Gumam Sevita.
"Lihatlah, putrimu saja memilihku." Jadi? restui pernikahan kami Tuan Bram.. dan Nyonya Merlin begitu juga kamu Arka Mahesa." Ucap Davin dengan senyum puas.
"Sedangkan Arka merasa sakit hati, kini orang yang akan dinikahinya justru akan menjadi milik Davin, musuh terbesarnya.
" Silahkan bawa putriku pergi, aku sudah tidak menganggapnya Putriku. Aku telah mengizinkanmu untuk menikahinya." Ucap Tuan Bram.
Sevita terkejut tidak menyangka jika dirinya sudah tidak dianggap anak dari tuan Bram. Demi misinya Sevita siap menanggung akibatnya. Meski terasa sangat sakit ketika mendengar penuturan dari Ayahnya.
"Pa... Maafkan Sevita Pa.. Ma... " rengek Sevita dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Pergi dari sini... " dasar anak tidak tahu diri, begini caramu membalas budi kepada Papa, hah! " bentak Ayahnya. Ibu nya serasa tidak tega melihat anaknya terusir, meski tidak merestuinya, namun tetap saja perasaan seorang Ibu tidak tega melihat anaknya bersedih.
Dengan terpaksa Sevita segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya, Sevita berusaha menahan air matanya agar tidak terlihat rapuh.
Davin langsung menggandeng Sevita mengajaknya untuk segera meninggalkan rumah orang tuanya.
Tiba tiba Davin dikejutkan dengan perlakuan Arka kepadanya.
Buuggg..! " suara tinjuan mengenai pipi Davin, membuat Davin meringis kesakitan. Bukan membalasnya namun Davin tersenyum puas, karena Davin merasa bahwa dirinya telah menang dan mendapatkan Sevita.
"Aku belum membalasmu!" lihat saja nanti, aku akan membuatku terkapar tidak berdaya." Ucap Davin didekat telinga Arka dengan senyum licik.
"Aku tunggu ucapan kamu Davin. " Jawab Arka.
Davin terus berjalan dan segera masuk kedalam mobilnya, begitu juga dengan Sevita, mengikuti apa yang diperintahkan Davin.
Di perjalanan Sevita hanya diam, ingin menangis pun juga percuma, karena tidak akan ada yang peduli dengannya.
"Kenapa tadi kamu memilih menikah denganku, bukankah aku ini terkenal kejam, apa kamu tidak takut denganku, jika aku membuangmu kapan pun yang aku suka. Seharusnya kamu berfikir panjang untuk memilih jawaban. Lihatlah, Arka terlihat sangat mencintaimu. Bahkan sangat menginginkanmu untuk menjadikanmu Istrinya. " Ucap Davin panjang kali lebar.
Sedangkan Sevita masih diam tidak bersuara.
/Aku memilihmu karena penasaran dengan hubunganmu dan kak Edwin. Batin Sevita.
"Aku beri kamu waktu sampai malam ini, jika kamu mau mengurungkan niat mu, maka aku beri Kesempatan untukmu berpikir." Ucap Davin.
"Keputusanku sudah bulat, bahwa Aku memilihmu untuk menjadi suamiku, apapun resikonya akan aku terima." Jawab Sevita.
"Apa kamu yakin? "ucap Davin.
" Tentu saja aku yakin, kalau bukan karena adik kamu , aku tidak akan mau melakukannya, jelas aku pilih Arka. " Ucap Sevita asal.
"Benarkah? " sepertinya kamu bohong dan kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan Arka, kan?" aku tahu kalau kamu itu hanya dijodohkan dan tidak ada rasa cinta dihatimu." Ucap Davin menebak.
__ADS_1
" Sudahlah, kamu tidak perlu mencari tahu tentang aku. Bukankah yang kamu inginkan menikah denganku hanya untuk balas dendam?" kamu tidak perlu mencampuri urusanku dan kamu cukup lakukan apa yang kamu mau dariku. " Jawab Sevita.