
Setelah kepergian suaminya, Sevita mulai dapat bernapas lega lantaran tidak bertemu lagi dengan seseorang yang sudah mengacaukan hidupnya.
Rencana untuk menyelidiki kasus meninggalnya sang kakak, justru terpenjara oleh suaminya sendiri. Bahkan, otaknya menjadi buntu untuk berpikir.
"Nona, perkenalkan nama saya, Westi. Sedangkan lelaki yang ada di sebelah saya, Cogan, suami saya. Semoga Nona Sebita betah tinggal di kampung ini." Ucapnya memperkenalkan diri dan juga memperkenalkan suaminya dengan ramah.
"Terima kasih sudah mau menerima saya untuk tinggal di rumah ini, maafkan saya jika akan merepotkan kalian berdua." Ucapnya layaknya berbicara dengan temannya sendiri.
"Sudah menjadi tanggung jawab kami berdua, Nona." Timpal Cogan ikut bicara.
"Bolehkah aku istirahat? badanku sangat capek, bahkan sangat sakit karena ulah Bos kalian."
Dengan berani, Sevita berterus terang pada Westi dan Cogan.
"Tentu saja, mari silakan, akan saya antarkan kamar Nona." Jawab Westi sebagai orang kepercayaan Davin.
"Terima kasih banyak." Ucap Sevi datar, dengan sikapnya yang biasa saja, tanpa harus menjadi perempuan lemah.
__ADS_1
Sambil menunjukkan kamar milik istri Bosnya, Westi mengajaknya untuk menuju kamar yang dimaksudkan.
"Ini kamar Nona, meski di kampung, Tuan Davin menyiapkan rumah yang cukup baik untuk ditempati." Ucap Westi setelah membuka kamar untuk Sevita.
"Terimakasih banyak karena sudah melayaniku dengan sangat baik, maafkan aku yang sudah merepotkanmu." Kata Sevita, Westi tersenyum dan dibarengi dengan anggukan.
"Selamat malam, dan selamat beristirahat. Maaf, jika aku harus beristirahat lebih dulu." Ucap Sevita sebelum masuk ke kamarnya.
"Silakan, Nona." Jawabnya, Sevita sendiri segera masuk ke kamarnya.
"Tunggu, Nona." Ucap Westi menghentikan Sevita saat hendak masuk ke kamar dan langsung menoleh pada Westi.
Penasaran, Sevita langsung bertanya.
"Ini ada sebuah ponsel untuk Nona dari Tuan Davin. Kata Tuan, Nona boleh menggunakan ponsel ini dengan sebaik mungkin." Jawab Westi serta memberi sebuah pesan untuk istri Bosnya.
"Hanya itu sajakah pesan darinya?" tanya Sevita untuk memperjelas apa yang disampaikan oleh Westi, orang suruhan suaminya.
__ADS_1
"Ada lagi, Nona dilarang untuk menghubungi lawan jenis, apapun alasannya." Jawab Westi yang teringat dengan pesan-pesan dari Bosnya.
"Yakin nih, sudah tidak ada lagi pesan darinya? aku hanya tidak ingin dijadikan sasaran empuk atas kesalahan kamu hanya karena lupa dengan pesan-pesan darinya."
Sevita kembali memastikan dengan pesan untuknya atas perintah dari suaminya.
"Benar Nona, sudah tidak ada lagi pesan yang disampaikan oleh Tuan Davin." Jawab Westi meyakinkan sambil mencoba mengingatnya lagi.
"Kalau begitu, aku mau istirahat." Ucap Sevita berpamitan sebelum masuk ke kamarnya.
"Silakan, Nona. Selamat malam dan selamat beristirahat." Jawab Westi tak lupa dengan senyum yang ramah kepada istri Bosnya.
Setelah itu, Sevita segera masuk ke kamarnya. Tentunya, untuk meregangkan otot-ototnya karena ulah dari suaminya yang dengan entengnya memperlakukan dengan seenaknya saja.
Saat sudah berada di dalam kamar, Sevita langsung membersihkan diri dengan air hangat. Berharap, rasa sakit pada bagian anggota tubuhnya tidak lagi merasa sakit dan juga pegal-pegal.
Tidak lama kemudian, Sevita sudah selesai mandinya dan segera keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Setelah itu, Sevita mengeringkan rambutnya.
"Benar-benar sial akunya, kenapa juga aku harus terjebak di kampung ini. Awas saja, aku tidak akan menyerah." Gumam Sevita sambil berkacak pinggang dengan menatap dirinya didepan cermin.