DENDAM SUAMI

DENDAM SUAMI
Pingsan


__ADS_3

Sevita menaiki anak tangga menuju kamar Davin, perasaan takut, gugup dan cemas telah menghantui fikiran Sevita.


Tok tok tok... suara ketukan pintu membuat telinga Davin terganggu.


"Masuk!" ucap Davin membentak.


Sevita dengan langkah gontai masuk ke kamar Davin, baru kali ini Sevita melihat kamar pria serapih dan serajin ini.


Apa yang mau di beresin, dan apa yang mau dibersihkan. Bahkan semuanya sudah terlihat bersih dan sangat rapih. Batin Sevita.


"Kenapa masih diam disitu, mau menggodaku, hah! " ucap Davin membentak.


"Tidak Pak Bos, saya mulai dari mana untuk membersihkannya Pak? " tanya Sevita gugup.


"Kamu anak Mami atau anak Sultan," membersihkan rumah saja tidak becus. Kalau tidak bisa bekerja kenapa kamu mencari pekerjaan. Kamu cukup menjadi Istriku dan lamu tidak perlu serepot kerja seperti ini, ya.... walau pun hanya sandiwara, tapi setidaknya kamu bisa menikmati menjadi Nona mudaku dirumah ini." Ucapnya sinis.


Cih... Nona muda kamu, tidak sudi mempunyai Suami yang kejam sepertimu. Batin Sevita.


"Saya tidak tertarik Pak.." jawab Sevita gugup.


"Baru kali ini ada wanita sepertimu menolakku," ucap Davin datar.


Apa... baru aku yang menolakmu. Pak Bos tidak sadar kah, sudah ditinggalkan oleh Nona Sovia, dan ternyata wanita nya mau merebut paksa Arka yang jelas mau menikah denganku. Ciiih orang kaya tetapi masih kurang cinta. Batin Sevita sambil geleng geleng kepala.


"Sudah cepetan bereskan pekerjaan kamu, awas saja kalau tidak bersih, aku akan menambah hukuman untukmu. Ingat baik baik tidak cuman hukuman, tetapi gajih kamu akan aku potong sesusai hasil kerja kamu. " Ucap Davin.


Sevita dengan teliti mengerjakan tugas tugasnya sebagai pelayan. Sedangkan Davin masih sibuk dengan laptopnya,Davin tidak sibuk dengan pekerjaan nya, namun justru sibuk melihat CCTV mengawasi gerak gerik Sevita sambil senyum senyum tidak jelas. Sevita sendiri melihatnya bergidik ngeri tatkala Davin senyum senyum yang menurutnya aneh.


Mempunyai Bos seperti Pak Davin bisa bisa ikut setres sendiri akan sikapnya seperti bunglon. Pantas saja Sovia meninggalkannya, toh seperti ini tingkah aslinya. Terus dengan seenak jidatnya aku dijadikan Istri sandiwaranya, ditambah Ibu nya seperti Macan loreng. Batin Sevita bergidik ngeri jika teringat sikap Davin yang super aneh baginya.


"Sudah selesai Pak Bos, kalau begitu saya pindah untuk membereskan ruang kerja Pak Bos. " Ucap Sevita.

__ADS_1


"Silahkan, awas jika ada barang yang rusak. habis sudah gajih kamu." Ancam Davin.


Barang semahal apa coba, sampai habis sudah gajih ku. Tapi bener juga, sekarang aku sebatang kara karena aku telah kabur,Ayah dan Ibu pasti sudah tidak sudi lagi menerima ku. Batin Sevita bersedih.


Raut wajah Sevita tiba tiba berubah sedih, Davin pun melihat dari CCTV penasaran ada sesuatu apa yang sedang Sevita alami. Fikir Davin.


Dengan tubuh gontai Sevita tetap melakukan aktivitasnya, bukan karena anak manja, namun banyak masalah yang harus Sevita terima dengan kenyataan yang pahit.


Tiba tiba Sevita pingsan didalam ruang kerja Davin, saat itu juga Davin kaget dibuatnya. Davin langsung bergegas menemui Sevita diruang kerjanya, Davin langsung menggendong Sevita dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur Davin. Setelah itu Davin langsung menelfon Dokter pribadinya.


Tidak lama kemudian Dokter pribadi Davin telah sampai dirumahnya.


"Siapa yang sakit Dav, " tanya Dokter.


"Emmmm calon Istriku, iya calon Istriku. " Jawab Davin mengulang kalimatnya agar Dokter percaya dengannya.


"Sejak kapan kamu bertunangan, kenapa tidak ada media yang meliput mu. " Tanya Dokter penasaran.


"Ini kejutan, dan pernikahanku saja aku rasa tidak akan diliput media juga. Aku tidak ingin ada gosip yang tidak sedap untukku. " Jawab Davin mencari alasan.


"Sudah buruan calon istriku diperiksa, " titah Davin.


Setelah diperiksa, Dokter pun diam. Seakan memberikan kode tidak baik untuk Davin.


"Kenapa muka kamu berubah bersedih, ada apa dengannya, sakit apa dia? " tanya Davin cemas.


"Calon istri kamu hamil, " ucap Dokter lesu.


"Apa......!" ha... hamil! " teriak Davin keras.


"Dengan siapa Dia hamil, aku saja belum menyentuhnya. " Gerutu Davin.

__ADS_1


Namun tidak sampai kemana mana suara Davin berteriak, karena didalam kamarnya terdapat kedap suara. Jadi yang dapat mendengarkannya hanya yang berada didalam kamar.


Sedangkan Dokter tersenyum puas telah mengerjai Davin yang menyebalkan, fikir Dokter.


"Kenapa kamu tersenyum. Hah! " Ucap Davin kesal.


"Kamu lucu Davin, " jawab Dokter dengan senyum puas. Sedangkan Davin kedua matanya molotot serasa ingin memangsa Dokter dengan buas.


"Kamu mau mentertawakan aku, jika aku tengah sial mendapatkan wanita yang sudah hamil, hah! ucap Davin semakin kesal dibuatnya.


Sevita tiba tiba terbangun dan mengucek ngucek kedua matanya, dan Sevita pun kaget dibuatnya ketika melihat ada sosok Dokter didekatnya. Dokter pun bersapa senyum dengan Sevita, namun Sevita masih bingung apa yang tengah terjadi pada dirinya.


Sedangkan Davin berubah menjadi kesal ketika menatap wajah Sevita. Kedua mata Davin terlihat sangat lah tajam tatapannya, yang melihatnya pun akan silau.


" Lihat lah Nona... calon Suami kamu terlihat lucu.. " ucap Dokter mengerjain Davin. Sedangkan Sevita masih bingung ada drama apa yang membuatnya menjadi bingung.


"Kenapa kamu tertawa Dokter Rendi, hah! apa kamu puas tengah memalukanku hari ini. Akan aku balas nanti, " ucap Davin dengan emosi yang memuncak.


Sedangkan Dokter Rendi tersenyum puas ketika melihat ekspresi yang begitu menggemaskan.


Sevita masih menerka nerka kenapa tiba tiba ada dokter dan juga dirinya tengah berada di kamar Davin, dan kenapa juga berbaring ditempat tidur Davin.


Perasaan tadi aku masih berada diruang kerja Pak Bos deh, lalu kenapa tiba tiba aku berada dikamarnya, dan kenapa juga aku di atas tempat tidur Pak Bos. Ada apa denganku, jangan jangan..... tiba tiba Sevita berhenti dari gumamnya..


"Tidak....... " ucap Sevita sambil berteriak, dan keduanya Dokter Rendi dan Davin kaget dibuatnya dan segera menutupi telinganya, karena sangat mengganggu pendengarannya.


"Diam! " Berisik! " Ucap Davin membentak. Dokter Rendi menjadi lebih puas karena usahanya untuk mengerjai Davin kini benar benar sukses tanpa meminta bantuan dengan Sevita, namun sikap Sevita yang polos membuat Sevita masuk dalam jebakan Dokter Rendi.


"Kenapa ada Pak Dokter, lalu siapa yang sakit Pak Bos? " tanya Sevita dengan polos, karena tidak tahu mengenai ucapan Dokter kepada Davin.


"Yang sakit itu calon suami kamu, lihatlah aku sudah menyuruhnya untuk bersabar, namun dia menyuruhmu untuk berbaring di

__ADS_1


tempat tidur nya. " Jawab Dokter menimpali, sedangkan Davin pusing dibuatnya. Ingin marah namun takut Sevita akan pingsan lagi, karena orang hamil sangatlah sensitif. Fikir Davin. Sedangkan Dokter Rendi sangat puas bisa mengerjain Davin.


Enak toh aku kerjain... Gumam Dokter Rendi sambil senyum senyum mengembang.


__ADS_2