
Di dalam perjalanan pulang, Davin masih memegangi sudut bibirnya yang lumayan cukup sakit dan menyandarkan kepalanya dipinggir jendela mobil.
"Maaf Tuan, kita mau pulang ke rumah utama atau di rumah Tuan pribadi?" tanya anak buahnya membuyarkan lamunannya.
"Pulang ke rumah pribadi," jawab Davin sambil menatap luar jendela mobil.
Davin masih terngiang dengan ucapan Arka, serasa dicambuk hatinya. Apa yang di ucapkan Arka benar kenyataannya.
Ingat Davin, Sevita yang sudah mencelakai adik kamu, meski adik kamu dapat diselamatkan. Namun luka itu masih ada. Batin Davin segera menepis pikiran buruknya.
Dirumah Utama, Sevita telah selesai mandi dan juga langsung mengenakan baju tidurnya, karena terasa lelah Sevita mencoba merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Sevita memandangi langit langit kamar suaminya. Perasaan Sevita seperti tidak percaya jika dirinya sudah menikah, namun tidak terbayangkan sebelumnya. Jika Sevita menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
Benarkah aku ini sudah menikah? lantas atas dasar apa pernikahanku ini. Rasa cinta pun tidak ada, hanya karena kepergian Kak Edwin. Aku harus rela kehilangan masa depanku. Kak Edwin.. aku tidak akan menyerah atas kepergian kamu selama ini. Aku yakin, bahwa Davin lah pelakunya, aku berjanji bahwa aku sendiri yang akan segera mengungkap semuanya. Batin Sevita.
Tidak terasa sudah cukup lama Sevita menunggu kepulangan Davin. Namun masih saja belum juga pulang, karena rasa kantuknya yang tidak bisa diajak bergadang, akhirnya Sevita tertidur pulas.
Sedangkan Davin sudah berada di rumah pribadinya, Davin sendiri sengaja tidak pulang ke rumah utama. Karena tidak ingin kedua orang tuanya akan curiga setelah melihat dirinya babak belur. Davin pun enggan untuk memberi kabar kepada Sevita, Davin sendiri sengaja mengerjai Sevita. Fikir Davin, ketika sarapan pagi bahwa Sevita akan mendapatkan cercaan dari Ibu nya. Karena Davin tahu, jika Ibu nya maupun Ayah nya tidak menyukai Sevita. Alasannya karena Sevita bukan berasal dari keluarga terpandang.
Selamat menikmati rasanya menjadi menantu tidak disukai oleh mertua kamu. Dengan pelan kamu akan merasakan sakit, dan tidak ada yang membela kami.Kecuali Rara, dan aku akan mencari momen yang tepat untuk dibenci oleh adikku sendiri. Batin Davin sambil membayangkan ekspresi Sevita yang tidak disukai oleh orang tuanya.
Pagi pun telah tiba, karena rasa lelah semalaman. Sevita terlambat bangun, namun tidak ada yang membangunkannya.
"Apa...!! matahari sudah terbit? aduh... mana perutku kram lagi, badan juga pegal pegal. Berasa habis kerja rodi, tapi... apa ini, sepertinya tamu bulanan ku datang deh, aduh... lalu, dimana Pak Bos, apa dia tidak pulang? aaah bodoh amat, lah." Gerutu Sevita.
Sevita pun segera mandi, karena tubuhnya bau tidak sedap karena tamu bulanannya datang. Sevita pun kaget dibuatnya, rupanya dikamar mandi sudah tersedia pembalut untuknya.
Apa.. pembalut saja sudah disiapkan. Batin Sevita penuh rasa heran.
Setelah selesai mandi, Sevita segera siap siap ganti pakaian. Sevita pun kaget ketika membuka lemari yang berisikan baju baju untuknya.
__ADS_1
"Apa...! baju pun sudah tertata dengan rapi, sepertinya aku akan bertahan lama ditempat ini." Gerutu Sevita.
Sevita pun segera memakai bajunya dan bersiap siap untuk turun kebawah. Tiba tiba Sevita teringat
Tok tok tok... suara ketukan Pintu mengagetkan Sevita yang sedang merapihkan pakaiannya.
"Siapa?" tanya Sevita.
"Bi Nunung, Nona.." jawab Bi Nunung. Sevita pun segera membuka pintunya.
"Ada apa, Bi?" tanya Sevita lagi.
"Waktunya sarapan pagi, Nona.. Tuan Besar dan juga Nyonya maupun Nona Rara sudah menunggunya di ruang makan." Jawab Bi Nunung.
"Baik Bi, saya akan segera turun." Jawab Sevita.
Bi Nunung pun segera turun, sedangkan Sevita sedikit gerogi, karena baru pertama kalinya berhadapan orang asing baginya. Ditambah lagi Sevita adalah menantu di keluarga Wangrama.
Dengan langkah yang pelan, Sevita menuruni anak tangga. Dengan perasaan gugup sekalipun, Sevita tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berdebar karena rasa takut, rasa malu dan juga rasa canggung tentunya.
Sevita sendiri bukanlah dari kalangan orang bawah, namun juga setara dengan keluarga Davin. Tetapi Sevita tidak menyukai kemewahan, Sevita sendiri lebih memilih menjadi seseorang yang sederhana.
Sesampai di ruang makan, Sevita ditatap nya dengan tatapan tidak suka oleh Kedua orang tua Davin. Namun Sevita mencoba menghadapinya dengan tenang.
"Selamat Pagi, Bu.. Pa.. Rara.." sapa Sevita seramah mungkin.
"Pagi," jawab Ibu mertua dan juga Ayah mertua serempak. Sevita pun sedikit risih dengan balasan sapaannya seperti terpaksa. Sevita pun segera menepis pikiran buruknya.
"Pagi juga, Kakak Ipar.." jawab Rara meledek. Sevita hanya tersenyum melihat sikap Rara kepadanya.
__ADS_1
"Ayo, duduk lah. Mari kita sarapan bersama, sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami." Ucap Rara. Sedangkan kedua orang tua Davin hanya diam tanpa ikut menimpali ucapan Rara.
Sevita pun mengangguk dan duduk bersama, semua sedang menunggu Davin kecuali Sevita yang masa bodoh sama Suaminya. Sevita berusaha biasa biasa saja, meski hatinya sakit. Namun Sevita berusaha menutupi kekesalannya.
Rupanya keluarga Pak Bos tidak jauh beda sifatnya. Hanya Rara saja sepertinya yang berbeda. Batin Sevita sambil menikmati sarapan pagi nya.
"Dimana suami kamu? kenapa tidak diajaknya sarapan bareng." tanya Ibu Mertua.
Aku harus jawab apa? anaknya saja tidak pulang. Batin Sevita.
Tiba tiba suara langkah kaki terdengar oleh semuanya, namun tidak bagi Sevita. Karena Sevita sendiri sedang sibuk dengan lamunannya.
"Kamu baru pulang, Dav? dari mana kamu semalaman. Kamu mabuk? hah?" tanya Ibu nya.
"Tidak, aku ada acara sama teman teman, biasa.. pengantin baru, Ma.. harus kumpul dulu bersama teman teman." Jawab Davin beralasan.
Sevita tiba tiba kaget melihat sosok Davin yang sudah berada didekatnya.
"Pak Bos," ucap Sevita reflek.
Davin pun segera menarik tangan Sevita menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sevita sendiri bingung akan sikap Davin padanya, karena tiba tiba pulang mendadak.
Ceklek, Davin membuka pintu kamar dan juga segera menguncinya. Sevita pun berubah menjadi gugup, Sevita berusaha menghindar dari Davin, namun tetap saja Davin lebih licik dari dugaan Sevita.
"Kamu ngomong apa saja, sama Ibu atau Papa, dan juga Rara." Ucap Davin sambil mendekatkan dirinya didekat Sevita.
"Aku belum menjawabnya, tapi... Pak Bos sudah datang." Jawab Sevita gugup.
"Bagus lah, dan satu lagi, sudah pernah aku katakan, kan? jangan panggil aku dengan sebutan Pak Bos. Panggil saja Sayang, ingat! sayang. Sekarang kita Suami Istri, jadi aku tidak ingin Papa maupun Ibu akan mencurigai hubungan kita." Titah Davin.
__ADS_1
Sevita pun hanya mengangguk, karena dirinya masih malas untuk mengeluarkan sepatah kata pun.