
Dengan amarah yang sudah memuncak, Davin tak dapat mengontrol emosinya. Tak peduli siapa yang akan menjadi targetnya, setidaknya mampu untuk melanjutkan rencananya yang sudah disusun dengan sangat rapi.
Karena tidak ingin jejaknya dapat diketahui oleh musuhnya yang bernama Arka, Davin memilih untuk memerintahkan anak buahnya untuk menjaga Rara dengan ketat selama dirinya tak lagi berada di rumah sakit.
"Kalian jaga adikku dengan baik, aku akan menyingkirkan istriku terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera menghubungi aku." Perintah Davin dengan tegas.
"Baik, Bos." Jawab beberapa anak buahnya yang sudah siap menerima perintah dari Davin.
Sesudah memberi perintah, Davin menyeret istrinya dengan kasar. Entah set*an dari mana, Davin seperti orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Dengan sekuat tenaga Sevita, berusaha untuk bisa lepas dari cengkraman suaminya yang cukup kuat tenaganya dibandingkan dirinya.
"Lepaskan!" Bentak Sevita dengan penuh kekesalannya.
"Diam! apa perlu aku menghajar kamu, ha!"
Davin yang masih dikuasai oleh emosinya, tak kalah kerasnya untuk membentak istrinya. Sevita meludah ke lain arah, tentunya untuk melupakan emosinya juga yang mana sudah memperlakukan dirinya sangat kasar.
__ADS_1
"Dasar! pembunuh!"
Lagi-lagi Sevita kembali membentak suaminya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Emosi yang semakin memuncak, Davin terus menyeret istrinya dengan paksa, lalu mendorongnya sampai didalam mobil dan mengikat kedua tangannya dengan kuat. Bahkan, Sevita sendiri tak mampu untuk melepaskan.
"Jaga bicaramu, aku bisa melakukan hal lebih dari ini." Ancam Davin dengan sorot matanya yang begitu tajam.
Tetap saja, sama sekali tidak membuat sosok Sevita merasa takut atau cemas. Justru, dengan cara kasar, dirinya dapat mengetahui siapa suaminya yang sebenarnya, pikir Sevita dengan segala tebakannya.
Cukup kencang saat melajukan mobilnya, tidak terasa sudah sampai di alamat yang dituju.
Saat itu juga, Davin segera turun dan membukakan pintu mobilnya yang sebelah. Yang mana istrinya duduk.
"Ayo! keluar." Perintah Davin cukup keras saat membentak istrinya.
Sevita tetap pada posisinya, tak peduli baginya jika harus kembali memancing emosi suaminya.
__ADS_1
Davin yang merasa tidak ditanggapi oleh istrinya, langsung menarik tangannya dengan sangat kuat hingga Sevita meringis kesakitan.
Ditariknya sang istri, akhirnya Sevita keluar juga dari mobil.
Sebisa mungkin, Sevita sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit yang dirasakan karena perbuatan suaminya yang cukup kasar.
Tak ada seorang pun yang keluar dari rumah, semua terjaga di rumahnya masing-masing sesuai perintah dari Davin kepada anak buahnya.
"Selamat datang, Tuan Davin dan Nona Sevi." Ucap seseorang yang sudah menjadi orang kepercayaan Davin dengan santun saat menyambut kedatangan sepasang suami istri masuk ke tempat tinggalnya.
"Awasi perempuan ini dengan ketat, tak ada sejengkal pun untuk kabur dari rumah. Ikuti kemanapun izinnya pergi. Jika sampai melakukan kesalahan, segera hubungi ke nomor yang sudah aku berikan." Ucap Davin dengan pokok intinya.
"Baik, Tuan. Kita akan menjaga Nona Sevi dengan baik, Tuan tidak perlu khawatir." Jawabnya yang bersedia untuk melaksanakan perintah dari Bosnya.
Sevita masih memasang muka masamnya, bahkan tak ada sepatah katapun yang terucap lewat bibirnya.
Setelah memberi perintah kepada orang kepercayaannya, Davin langsung pamit pergi untuk pulang ke rumah utamanya untuk melanjutkan rencana selanjutnya.
__ADS_1