
Sevita dan Davin dalam perjalanan, keduanya saling mengunci mulutnya, diantara kedua tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Tidak terasa telah sampai di Butik yang cukup terkenal. Sevita membelalakkan kedua matanya, Sevita memandangi model model baju Terlihat sangat mewah dari luar.
"Masuk, pegang tanganku." Perintah Davin, Sevita pun hanya bisa nurut dengan apa yang Davin perintahkan.
"Untuk apa kita ke Butik in?"
"Kamu lupa, bahwa kita akan segera menikah!" ucap Davin dengan sorot mata tajam.
Sevita hanya diam tidak bisa berkutik. Percuma menentang, ujungnya juga bakalan kalah beradu argumen dengan Davin.
"Tolong pilihkan baju yang pantas untuk calon istri saya, pastikan keluaran terbaru dan yang nomor satu paling bagus untuk di acara pernikahan kami." Ucap Davin.
"Baik, Tuan Muda." Jawab Pelayan Butik.
"Maaf Nona, mari ikut saya diruang ganti," Pinta pelayan.
Sevita hanya mengikuti langkah kaki pelayan.
"Silahkan untuk dicoba nya Nona," ucap Pelayan.
"Baik Mbak.." jawab Sevita.
Sevita pun memakainya gaun yang sudah dipilihkan model yang paling bagus dan harga paling mahal.
Setelah keluar, Kedua mata Davin tidak bisa untuk berkedip. Davin memandanginya penuh kagum akan kecantikan Sevita.
"Cepat ganti, aku tidak ingin banyak orang yang mengincarmu untuk masuk ke media." Ucap Davin.
Sevita pun segera mengganti pakaiannya, pelayan Butik mengemas barang barang yang dibeli oleh Davin.
"Jangan lupa, kirim ke alamat rumah." Titah Davin.
"Baik Tuan," jawab pelayan sambil membungkuk.
Davin tidak hanya langsung pulang, tetapi juga mengajak Sevita untuk membeli perhiasan.
"Kita mau kemana lagi setelah ini," tanya Sevita.
"Kamu cukup diam dan ikuti terus langkah ku." Titah Davin.
Aku seperti diberi uang kaget, berbelanja ini itu, bahkan aku sendiri tidak tahu, berbelanja apa lagi setelah ini. Batin Sevita.
Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sevita yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Tadi di Butik, sepertinya sangat patuh dan takut denganmu, apakah pelayan tadi pernah bekerja denganmu?" tanya Sevita sedikit gugup.
"Kamu ingin tahu?" tanya Davin.
"Iya, aku ingin tahu, karena aku merasa semua pegawai siap siaga setelah kedatangan kamu," jawab Sevita.
"Karena Butik tadi adalah Butik ku, aku menghadiahkan nya untuk Istriku kelak. Ibu saja tidak tahu jika aku mempunyai Butik." Ucap Davin.
"Beruntung sekali pastinya yang akan menjadi Istrimi." Jawab Sevita.
Davin memilih untuk diam, tidak ingin melanjutkan obrolannya. Sevita pun akhirnya ikut diam tanpa bertanya apapun meski hanya basa basi.
Di media Arka terkaya nomor satu, sedangkan Davin aku rasa juga pesaing berat, tapi kenapa tidak terekspos di media. Batin Sevita penasaran.
Davin dan Sevita turun dari mobil, semua orang berdecak kagum melihat pasangan yang sangat serasi. Davin menggandeng tangan Sevita terlihat mesra.
Sevita hanya mengikuti langkah Davin, dan tibalah kini didepan toko perhiasan yang sangat menggiurkan.
Semua pelayan Toko Emas memberi hormat kepada Davin dan Sevita. Sedangkan Sevita sendiri dibuat bingung, kenapa di toko ini lebih tertunduk hormat dari pada di Butik yang baru saja dikunjungi.
"Carikan perhiasan yang paling bagus dan keluaran terbaru." Titah Davin.
Tiba tiba ada seorang wanita yang cukup kenal dengannya yang tidak lain adalah musuh sekolah Sevita.
"Ckckckck... kamu sedang apa di sini Sevita? pasti sedang menemani majikan kamu, kan? menyedihkan sekali nasibmu." Ucap teman Sevita.
Sedangkan Sevita hanya diam tanpa menggubris, karena percuma membuang buang waktu.
"Sevita, lihat dong calon suamiku, bisa membawaku di toko terkenal ini. Sebentar lagi kita akan segera menikah, dan aku bentar lagi akan menjadi Nyonya Derlon." Ucap temannya dengan sombong.
"Lalu apa pentingnya denganku, kamu kalau mau menikah, ya menikah saja. Aku juga tidak butuh undangan dari kamu." Ucap Sevita ketus.
"Iya iya lah, kamu pasti tidak mampu masuk di acara pernikahanku nanti. Secara pernikahanku akan diadakan di hotel berbintang." Jawab temannya.
"Selamat ya Jen, semoga pernikahanmu bahagia." ucap Sevita ketus.
Jenita tidak merespon ucapan dari Sevita, Jenita sendiri langsung menghampiri calon suaminya yang tidak lain adalah penerima dana masukan dari Davin.
/Gitu saja dah sombong, lihat noh. Calon suamiku udah ganteng, tajir, pemilik Butik dan sepertinya pemilik Toko Emas ini. Tapi ini hanya palsu hahahaha.. batin Sevita yang tiba tiba teringat hanya pernikahan palsu.
"Derlon, sedang apa kamu disini." tanya Davin sambil mengangkat alisnya.
"Maaf Tuan Muda, saya sedang menemani istri saya untuk membeli perhiasan, karena saya rasa bisa mendapatkan potongan dari Toko Tuan Muda." Jawab Derlon.
"Beb... ayo temani aku untuk memilih perhiasan," ucap Jenita.
__ADS_1
Sedangkan Sevita menemui Davin. Entah ada angin apa Davin seperti memamerkan kemesraannya dengan Sevita, hanya gara gara Sevita di hina.
"Sudah dicoba belum perhiasannya." tanya Davin.
"Boro boro nyoba, sedari tadi aku hanya diceramahi sama Mak Lampir." Jawab Sevita asal.
"Ayo ikut aku, karena aku yang akan memakaikan perhiasannya untukmu." Ucap Davin.
Kini Sevita berdekatan lagi dengan Jenita, namun Sevita tidak memperdulikannya.Sevita fokus dengan Davin yang mencoba memakaikan kalungnya.
Jenita melihat Sevita yang sedang dipakaikan kalung oleh Davin langsung disindir.
Waaah malang sekali nasibmu Sev, dijadikan untuk percobaan pemakaian." Ucap Jenita tanpa melihat sosok pria yang memakaikan kalung.
"Tuan Muda," ucap Jenita dengan tubuh gemetar.
"Maafkan calon Istri saya Tuan, mungkin Istri saya salah orang." Ucap Derlon mengalihkan.
"Lain kali sebelum menghina calon Istriku, pastikan dulu, pantaskah punya mulut untuk menghina calon Istriku, hah!" bentak Davin.
"Maaf Tuan, saya benar benar tidak tahu," qucap Derlon ketakutan.
Apaaa.. Sevita calon Istri Tuan Davin, yang benar saja. Batin Jenita heran.
"Lain kali kamu itu hati hati, untung aku tidak dipecatnya." Ucap Derlon.
"Maaf sayang, aku tidak tahu, aku hanya tidak menyangka saja. Ternyata Sevita menjadi calon istri Tuan Davin." Jawab Jenita dengan perasaan iri.
Sedangkan Sevita dan Davin kini sudah bersiap siap untuk segera pulang, didalam mobil muka Sevita masih ditekuk, karena rasa kesalnya sedari tadi hanya dihina.
"Sekarang persiapkan dirimu untuk menjadi Istriku, dan buang semua wajah kusutmu itu didepanku, jika kamu ingin marah sama seseorang simpan saja dulu, jangan sekali kali kamu perlihatkan didepanku. Kalau sampai kamu melanggar, maka aku akan menghukum kamu." Ancam Davin.
"Maaf, aku hanya sedang kesal saja. Rupanya menilai seseorang itu dari penampilan, bukan dari sikap." Ucap Sevita.
"Lalu dengan Aku, kamu menilai aku seperti apa?" tanya Davin.
"Aku tidak mau menjawabnya, karena kamu penuh misteri." Jawab Sevita.
Keduanya lalu terdiam dari kesunyian didalam mobil, Sevita pun membuka suara untuk membuyarkan kesunyian.
"Sepertinya pegawai di Toko Emas pelayanannya sangat bagus, bahkan melebihi di Butik, sebenarnya kamu ini siapa sih?" tanya Sevita penasaran.
"Toko Emas tadi milikku. Dan kamu ingin tahu siapa Aku? hah!" aku beritahu kamu ya, bahwa aku adalah Mafia." Jawab Davin sambil memincingkan alisnya dan tersenyum nakal.
Sevita pun dibuat takut setelah mendengar penuturan dari Davin, bahwa dirinya adalah Mafia.
__ADS_1