
Tidak terasa hari pernikahan sebentar lagi,Sevita mulai gelisah memikirkan pernikahannya. Ditambah lagi kini Davin sudah tinggal dirumah orang tuanya, pernikahannya pun hanya dihadadiri oleh kerabat dekatnya.
Sembari menunggu sarapan pagi, Sevita sambil melamun, karena rasa cemas yang selalu Sevita rasakan dan membuat dirinya tidak tenang.
Setelah aku menjadi istri sah nya Pak Bos, apa yang harus aku lakukan.Aaah iya, yang benar Istri palsu. Bagaimana ini, jika Ibu mertua selalu menghinaku. Aaaah benar benar menguras fikiranKu, kalau saja bukan demi Kakakku, maka aku tidak bakalan sudi jika aku harus menikah dengannya. Cih.. batin Sevita berdengus kesal.
Tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Sevita.
Sevita langsung turun dari tempat tidurnya lalu segera membukakan pintunya.
Ceklek.. Sevita membuka pintunya.
"Maaf Nona, jika Bibi mengganggu Nona yang sedang beristirahat. Bibi ingin menyampaikan pesan dari Tuan Muda, bahwa pernikahan Nona akan diselenggarakan nanti malam." Ucap Bi Ina.
"Apa...! nanti malam? yang benar saja Bi, sedangkan aku saja belum mempersiapkannya." Jawab Sevita semakin cemas.
"Nona tidak perlu khawatir, Nona hanya tinggal diam saja dirumah. Nanti akan ada yang bertugas untuk mengurus keperluan Nona, dan Nona tidak perlu mengemasi barang barang bawaan, karena dirumah Tuan Besar sudah ada perlengkapan untuk Nona. Tuan Davin sudah menyiapkan semuanya termasuk hal kecil pun." Ucap Bi Ina menjelaskan.
"Kenapa mendadak begini sih Bi," Jawab Sevita cemas.
"Iya sudah kalau begitu, Non.. Bibi pamit untuk pergi ke dapur." Ucap Bi Ina pamit pergi.
"Baik lah Bi," jawab Sevita lalu segera menutup pintunya dan membantingkan tubuhnya ke tempat tidur dengan kasar, karena benar benar berasa didalam penjara.
Kenapa mesti mendadak begini sih, katanya besok hari pernikahannya. Mana aku belum siap lagi, aaaah sial. Pa... Ma.. nanti malam Sevita mau menikah. Seharusnya Papa dan Mama ada dihari pernikahan Sevita, dan pernikahan yang benar benar sakral dan juga bahagia. Tapi ini... pernikahan macam apa? hanya pernikahan palsu, yang dimana aku dijadikan dendam. Sedangkan aku sendiri ingin mengungkap siapa pembunuh berdarah dingin itu, sungguh menguras fikiranKu. Batin Sevita dengan perasaan yang berkecamuk tidak menentu.
Seharian Sevita tidak keluar dari kamarnya, makanan yang sudah disiapkan oleh Bi Ina pun hanya dilihat saja tanpa disentuh.
Waktu sudah menandakan matahari akan segera terbenam. Davin yang mendapati pesan dari Bi Ina, bahwa Sevita seharian tidak berselera makan. Davin pun geram dibuatnya. Tanpa pikir panjang Davin segera pulang dan menemui Sevita.
Dor dor dor... suara gedoran pintu mengagetkan Sevita yang sedang berbaring diatas tempat tidur, seharian Sevita hanya menghabiskan waktunya dengan tiduran.
__ADS_1
Sevita langsung bergegas bangun dan segera membuka pintu kamarnya.
Ceklek, suara pintu terbuka dengan perasaan cemas. Sevita pun kaget dibuatnya, karena yang ada di hadapannya adalah Davin yang akan menjadi suaminya.
"Pak Bos, kenapa sudah kembali." Ucap Sevita gugup.
"Untuk apa kamu bertanya itu, ini rumahku. Kamu tidak ada hak untuk mempertanyakan tentang aku dirumah ini." Jawab Davin dengan sorotan mata yang sangat tajam.
Davin pun langsung masuk kamar, dan di lihatlah sebuah piring yang masih utuh dengan makanan yang disajikan oleh Bi Inah. Davin langsung berbalik menghadap Sevita dengan tatapan seperti ingin memangsanya.
"Kamu sedang diet? hah!" tanya Davin dan membentaknya.
"Maaf Pak Bos, aku hanya sedang tidak berselera makan. Karena aku sudah terbiasa makan bersama Pak Bos, jadi aku rasa di lidahku tidak berselera." Jawab Sevita bohong.
"Benarkah? kamu sedang tidak berselera makan tanpa ada aku didekatmu?" ucap Davin sambil memicingkan alis tebalnya.
Sedangkan Sevita hanya mengangguk tanpa bersuara.
Wajah Sevita tiba tiba berubah menjadi pucat, perasaannya menjadi cemas.
Bagaimana ini, jika benar benar aku akan disuapinya. Aaah tidak, aku harus segera menghabiskannya secepat mungkin. Batin Sevita.
"Tidak perlu Pak Bos, aku bisa menyuapinya sendiri. Pak Bos tidak usah repot repot untuk menyuapiku." Jawab Sevita senyum terpaksa.
Davin yang sudah tidak Sabar melihat Sevita menyuapinya sendiri, kini Davin langsung merebut piringnya dari tangan Sevita. Sedangkan Sevita pun kaget atas perlakuan Davin kepada dirinya.
"Biar aku saja yang menyuapimu, sepertinya kamu kesusahan untuk menyuapi dirimu sendiri." Ucap Davin yang langsung menyuapi Sevita.
Bukannya membuka mulutnya, justru Sevita terbuai akan wajah tampan Davin.
Andai saja kamu tidak keras kepala dan kejam, mungkin aku akan jatuh cinta kepadamu. Tapi sayang, kamu sungguh diluar dugaanku. Kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, tanpa melihat orang didekatmu main bentak main hukum. Batin Sevita tanpa sadar sedari tadi menatap Davin.
__ADS_1
"Mau makan atau tidak? hah!" bentak Davin yang membuyarkan lamunan Sevita.
"Ooooh rupanya kamu sedang tergoda dengan wajah ketampananku, awas! nanti kamu akan jatuh cinta denganku." Ucap Davin kembali dengan senyum sinis.
Sevita pun baru tersadar akan lamunannya.
"Aaah kata siapa? aku hanya teringat Kakakku saja, Seandainya Kakakku masih hidup, pasti sudah melindungiku dari kekrjamannya kamu." Ucap Sevita kesal.
"Benarkah? Aku tidak percaya, yang ada justru Kakak kamu yang akan menyerahkanmu untuk menjadi Istriku, bukan Arka yang akan dijodohkan denganmu." Ucap Davin menggoda dengan senyum nakalnya.
"Aku tidak percaya, lihat saja nanti, aku akan segera mengungkapkannya dengan benar." Jawab Sevita dengan penuh percaya diri.
"Lakukan, jika kamu mampu untuk melakukannya sendiri." Ucap Davin.
"Baik," jawab Sevita kehabisan kata kata untuk beradu argumen dengan Davin.
"Sekarang persiapkan dirimu untuk nanti malam, karena sebentar lagi setatus kamu tidak lagi ngejomblo ngenes, tetapi akan menjadi permaisuri Davin Wangrama. Dan sebentar lagi kamu akan berganti setatus menjadi istriku sepenuhnya." Ucap Davin sambil senyum penuh kemenangan.
Davin pun langsung bergegas untuk keluar dari kamar Sevita. Begitu juga dengan Sevita segera menutup pintu kamarnya lalu cepat cepat untuk membersihkan dirinya. Sebelum masuk kamar mandi tiba tiba suara ketukan pintu menganggu Sevita yang hampir mau mengunci kamar mandi. Karena Sevita takut meski pintu kamar terkunci, karena Davin memiliki kunci cadangannya.
Sevita pun langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan segera membukakan pintu.
Ceklek, Sevita membuka Pintu kamarnya.
"Maaf Nona, saya diutus oleh Tuan Muda Davin, bahwa Nona Muda nanti malam akan menikah. Maka saya harus melakukan perawatan untuk Nona Muda, agar tubuh Nona menjadi lebih segar dan tidak merasa jenuh maupun badan menjadi lesu." Ucap Pelayan.
"Tapi aku bisa melakukannya sendiri Mbak?" jawab Sevita.
"Tapi ini perintah Tuan Muda, Nona.." ucap Pelayan.
"Baiklah, terserah Mbak nya saja." Jawab Sevita.
__ADS_1
Untuk apa aku melakukan perawatan, lagian ini pernikahan palsu, dan jugaan tidak bakalan Dia akan melakukannya kepadaku. Aaah terserah apa yang akan dilakukan oleh Pak Bos, anggap saja sedang di salon. lumayan tanpa biaya, badanku jadi lebih segar. Kenapa aku berasa benar benar menjadi orang yang tidak punya, bahkan merasakan hal gratis itu menguntungkan. Hahaha... Batin Sevita dengan perasaan senang.