
Teng... Teng... Teng....
"Diharapkan untuk seluruh santri putri untuk menundukkan pandangannya"
Suara peringatan menggelegar di seluruh wilayah pondok al-kausar blok putri. Dengan segera seluruh santri wati pun menundukkan pandangannya.
"Menurutmu siapa yang lewat?" Tanya seorang santri yang perawakannya tinggi dan besar.
"Mana ku tau, Mungkin abah atau wakilnya" Sahut temannya yang memiliki perawakan yang berbanding balik.
"Ayo lah kawan, kalau mengobrol terus kapan mau selesainya. Lihat masih lebar lapangan yang ini untuk kita sapu" Ujar salah seorang di belakang mereka.
Dengan perawakan yang ideal, wajah yang putih dan mata yang merah keemasan yang nampak indah di wajahnya. Pipi yang putih namun terlihat begitu jelas semburat kemerah-merahan di karenakan lelah menyapu lapangan blok putri.
"Ha... ha... ha... Baik lah Hilyah santai-santai, lihat dulu pipimu bagaikan tomat siap rebus" Ejek kedua temannya sembari memegangi perut kerna tertawa lepas.
"Kalian...!!" Geram Hilyah.
__ADS_1
Hilyah pun mengejar kedua temannya. Dengan sigap kedua temannya langsung berlali karna merasa terancam.
Hilyah berlari dengan sapu di tangannya yang di angkat siap memukul teman-temannya.
"Anis... Lail... tunggu kalian"
Anis dan Lail justru menambah kecepatan lari mereka. Walaupun mereka tau kecepatan lari mereka tak sebanding dengan kecepatan Hilyah. Hilyah adalah mantan atlit lari seprovinsi saat di sekolah menengah pertama dulu.
Saat Hilyah sudah dekat dengan teman-temannya dan telah mengayunkan sapu ke blakang, siap untuk memukul temannya.....
Buuukkk......
Hilyah terdiam, terpaku di tempatnya. Sedang Anis dan Lail yang menyadari bahwa Hilyah tak mengejar mereka lagi pun bingung dan berbalik badan.
Dengan perlahan Hilyah memutar badannya dan dia mendapati sesosok laki-laki berjas hitam-putih dengan stelan sarung hitam dan kopiyah yang putih namun agak miring akibat sapu yang bertengger di atas kepalanya.
Sebagian wajah laki-laki itu tertutup dengan sorban putih, tapi dari sorotan matanya Hilyah faham betul dia marah dan kesal. Setelah beberapa saat mereka saling menatap. Mata Abu-abu milik laki-laki itu berhadapan dengan mata kuning keemasan milik Hilyah.
Beberapa detik berlalu sampai akhirnya Hilyah baru tersadar dan langsung berlutut dan manundukan pandangannya. Sapu Hilyah pun langsung ia turunkan seketika itu juga
__ADS_1
"Tamat riwayatku" Batin Hilyah berulang-ulang kali.
"Afwan ya akhi" (Maaf saudara laki-laki) Ucap Hilyah dengan gemetar.
"Hmmm..." Dengus lelaki itu yang tampak kesal sembari mempenahi kopiyah dan membersihkan pakaiannya dari debu sapu tadi.
"Na'am" (Iya) Jawab sosok laki-laki itu dengan suara serak dan dalam.
Suasana pun menjadi canggung, sedang Anis dan Lail malah dengan lenggang ngerumpi masalah lelaki itu yang tampan dan matang.
Beberapa santri putri yang ada di TKP pun berbisik-bisik dan sesekali melirik ke arah Hilyah.
"Berapa lama kamu di pondok ini, hmm..??" Tanya lelaki itu dengan suara dalam seakan sedang tersedak kodok besar.
"Emm.. baru jalan 6 bulan ini" Jawab Hilyah gemetar.
"Pantas saja adab mu kurang, bukankah sudah di umum kan akan ada Akhi yang lewat di sini" Ucap lelaki itu dengan suara arogannya.
"Afwan ya akhi, saya tadi mengejar teman-teman saya" Timbal Hilyah yang tak terima di bilang tak punya adab.
__ADS_1
"Hmmmm.." Ucap lelaki itu.
Lelaki itu pun tak berkata-kata lagi dan berjalan meninggalkan Hilyah. Sedang Hilyah masih terpaku dengan posisinya. Hilyah pun memegangi pipinya dia yakin pipinya sudah merah padam sekarang.