
"Al-fatihah.."
Suara dari sonsistem masjid mulai menggema ke sisi masjid pesantren.
"Qolaallah huta'alla wanafa'nabihi." Di mulailah pengajian duhur itu dengan begitu khusuk. Nampak seluruh santri seakan-akan berlomba-lomba mencatat ilmu yang di bagikan sang Yai. Ngaji pun terus berlanjut dengan hikmatnya.
Di antara sekian banyak santri tampak Hilyah yang sedang risau setelah 20 menit melaksanakan ngajinya. Pelipisnya berkeringat, jantungnya berdebar tak karuan.
"Hilyah kenapa." tanya Salah satu santri yang melihat keanehan di sikap Hilyah.
"Pena ku sakarotul maut.." Ucap Hilyah sembari tersenyum getir.
Hilyah memang sosok santri yang benar-benar menyayang ilmu. Dia tidak akan menyia-nyiakan ilmu tanpa di catat olehnya. Karena di kitab ta'lim dia pernah mendengar dari kiyai nya menjelaskan.
'Simpan lah ilmumu dalam bukumu agar di saat kau lupa kau bisa mentakrirnya.' Ucap sang yai suatu hari.
"Nih pakek punya ku." Tawar temannya tadi sembari memberikan pena Hitec-c pilot miliknya.
"Kamu makek apa." tanya Hilyah.
"Aku bawa dua, pakai lah." Serah temannya sembari tersenyum dan mengeluarkan satu pena Hitec-c dari balik jilbab syar'inya.
"Terima kasih Yani." Ucap Hilyah merasa sangat beruntung.
Di sela ngaji dia mengamati pena Hitec-c yang di pinjamkan kepadanya. 'Wah pena mahal ni' batin Hilyah sembari memutar-mutar penanya yang mengkilat tersorot cahaya lampu.
Hilyah pun menulis di sudut kiri kitab Fathul Qoribnya 'Full Senyum:)' untuk kata motifasi hariannya.
__ADS_1
'Penanya bagus.' Runtuk Hilyah terus-menerus.
Sampai selesai mengaji Hilyah pun mengembalikan penanya pada sang pemilik.
"Makasih ya Yan kalok nggak ada kamu kayaknya maknaku bakalan kosong." Ucap Hilyah sembari menyodorkan penanya.
"Udah pakek aja lagian aku punya 2 kok." Tolak Yani sembari tersenyum ringan.
"Hah..??" Hilyah syok mendengar tawaran temannya.
Pena Hitec yang secara harganya mahal apa lagi di kalangan santri, bisa-bisanya Yani memberi Hilyah dengan begitu legowo.
"Maksudnya." Tanya Hilyah memastikan yang dia dengarnya barusan.
"Penanya buat kamu aja Hilyah ih.. Kamu nggak suka ya.." Tanya Yani.
"Udah pakek aja ya, anggep aja ini tanda terima kasih ku." Ucap Yani sembari nyengir kuda.
"Terima kasih..?? buat apa." Tanya Hilyah semakin pusing.
"Kemaren kan aku pinjem buku fisikamu Hilyah," Ucap Yani.
"Jadi fisikaku di kamu Yan." Hilyah tak percaya.
"Uuu.. Sangking sibuknya lupa ya.." Ledek Yani.
Yani dan Hilyah memang teman akrab tapi karena asrama mereka berpisah jadi mereka tak begitu dekat. Apa lagi Yani yang jika ada tugas dia akan meminta tolong pada Hilyah jadi tambah lah keakraban mereka.
__ADS_1
"Tadi aku pelajaran fisika, pantas saja buku fisika ku tidak ada." Keluh Hilyah mengingat kejadian di sekolah tadi pagi.
"Hehehe... maaf ya aku lupa mulangin. Jadi ambilah pena ini itung-itung terima kasih plus minta maafku." Ucap Yani agak nggak enak hati. "Tadi aku di ceritain sama Rahma katanya kamu di jemur ya sama pak Huda." Lanjut Yani bertanya.
"He'em." Jawab Hilyah singkat sembari membereskan tampat duduknya.
"Maaf." Ucap Yani tambah tidak enak hati.
"Nggak apa-apa kok," Ucap Hilyah sembari tersenyum ringan.
"Hilyah pulang yuk, kamu juga mau masak kan." Ajak Anis setelah para kaum laki-laki selesai lewat.
"Yok," Jawab Hilyah tetap tersenyum. "Yani yok pulang bareng." Lanjut Hilyah mengajak Yani.
"Ah asrama ku piket hari ini duluan aja," tolak Yani sembari beranjak dari duduknya. "Duluan aja nanti buku fisika ku pulangin ya." Lanjut Yani.
"Ya udah iya." Jawab Hilyah singkat.
"Duluan ya Yan." Pamit Anis pada Yani.
"Oke."
"Assalamualaikum semuanya." salam Hilyah dan ke dua temannya Lail dan Anis kepada rombongan asrama Yani sembari berjalan menuju pintu keluar.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serentak.
...****************...
__ADS_1