
11.30 WIB
Sudah begitu larut namun Hilyah masih tampak risau di atas ranjang tidurnya yang berada di sebelah kanan atas.
"Kenapa bayangannya nggak bisa hilang." Kesalnya pada dirinya sendiri.
"Dia gus..?? Bayangkan saja, bagai mana kalok dia mengeluarkan ku dari pondok. " Hilyah terus berfikir negatif. Dengan pikiran yang menumpuk akhirnya dia tertidur.
...****************...
03.30 WIB.
"Hmm.." Erang Hilyah yang bangun dari tidurnya.
Dia pun turun dan berganti pakayan untuk ke kamar mandi.
"Anis, Lail bangun lah sudah waktunya bangun" Ajak Hilyah pada kedua temannya.
"Hmmm.. iya Hilyah duluan lah nanti aku mengusul" Timbal Lail setengah tertidur.
Akhirnya Hilyahberjalan menuju kamar mandi. Koridor demi koridor dia lewati, hanya di temani lampu mode redup di langit-laingt koridor.
Saat sampai di kamar mandi ternyata Hilyah mendapati beberapa santri yang sudah berada di sana.
"Hilyah baru bangun." Sapa seorang santri dengan lesung pipi yang jelas di pipi hitam manisnya.
"Iya nih.." Jawab Hilyah dengan suara serak sembari menucak-ngucak matanya yang masih lengket.
"Yuk mandi biar segeran." Ajak santri tadi. Hilyah hanya mengaguk enggan mengeluarkan suara lagi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakayan Hilyah langsung menuju ke asrama. Jendela koridor telah terbuka hingga cahaya bulan leluasa masuk lewat celah tirai.
Sesampainya di asrama Anis dan Lail sudah tak ada di ranjang mereka. Hilya mengeringkan rambutnyabdengan handuk di tangannya.
Rambutnya yang hitam panjang se pinggang tergerai membuatnya teringat akan ibunya.
Setelah selesai mengenakan pakayan dia pun solat tahajud, berdoa dengan begitu lama dan membaca Qur'an hingga tak di sadari tamannya bercerita tentang gus Fatir yang kabarnya kepopulerannya sedang tersebar.
...****************...
"Lail, kamu liat buku fisikaku nggak" Ucap Hilyah sembari mencari-cari buku fisika di meja belajarnya.
Wajahnya pucat bagaikan mayat sedang jilbab putih syar'i yang ia kenakan tak karuan arahnya.
"Mana ku tau Hilyah" Ucap Lail santai.
Wajah Hilyah semakin pucat pasi seakan tak lagi di aliri oleh darah.
"Punyamu ada?.." Tanya Hilyah yang masih sibuk dengan buku-bukunya.
"Ada nih.." Ucap Lail sembari menunjukan buku catatan fisikanya.
Sedang Anis sedang duduk santai sembari merias wajahnya dengan make up tipis.
"Ada Hilyah?..." Tanya Anis sembari mengoleskan luptin ke bibirnya.
__ADS_1
"Tidak.." Balas Hilyah gemetar.
"Hari ini periksa catatan Hilyah." Tambah Lail membuat Hilyah makin drop.
"Haaaa... mati lah aku.. Mana guru fisika killer lagi" Ucap Hilyah takut setengah mati.
"Sudah tak apa ku kira pak killer bakal maklum kok kamu juga ikut ndalem kan.." Ucap Lail mencoba menenang kan.
"Itu bukan alasan yang logis Lail." Ucap Hilyah setengah menjerit.
Teng.... Tennngggg... Tennnngggg...
Suara bel sekolah menggelegar ke seluruh pondok Al-Kausar.
"Aaaaa.." Hilyah teriak histeris.
Sepanjang perjalanan Hilyah menatap kosong jalan yang ia lewati. Hingga tak menyadari semua santri putri bersolek rapi hari ini.
"Hilyah kamu kenapa, nggak enak badan ya?.." Tanya seorang teman Hilyah bernama Rohimah yang menyadari kejanggalan di sikap Hilyah.
"Aku tidak apa hanya buku fisika ku nggak tau di mana" Ucap Hilyah kaku.
"Hmmm.. Di pinjem temen kalik" Tebak Rohimah membantu Hilyah.
"Seingatku tidak Rohimah, kemarin ku rasa ada" Timbal Hilyah mencoba mengingat-ingat.
"Hmmm.." Ucap Rohimah ikut berfikir.
"Hilyah" Sapa Rahma, anak kesayangan pak killer.
"Tau nggak hari ini pak fisika nggak masuk loh" Ucapnya yang bagaikan rizki nomplok bagi Hilyah.
"Yang bener Ma.." Hilyah tak percaya.
"He'em" Ujar Rahma mentaukiti(meyakinkan).
"Wah.. Alhamdulillah" Ucap Hilyah spontan. "Ngomong-ngomong kenapa" lanjut Hilyah.
"Beliau pulang soalnya keluarganya ada yang mau menikah" Balas Rahma riang.
"Uuuu... lalu kapan ya beliau nyusul haha...." Ledek Rohimah.
"Ku rasa sebentar lagi beliau kan dah termasuk golongan bujang tua" Getir Rahma.
"Nusul sama siapa ya kira-kira." Ucap Hilyah berfikir.
"Sama kamu Hilyah, mana mungkin kau melupakan surat ingin melamarmu waktu itu." Tawa mereka pun pecah hingga mereka memasuki daerah sekolah.
Sebelah selatan dari sisi pondok dengan perkelas tingkat 4. Dengan gedung yang lumayan luas. Saat di sekolah santri putri wajib menggunakan masker karena gurunya sebagian laki-laki yang masih lajang.
"Eh denger-denger gus Fatir mau cek perkelas loh" Ucap Rahma kembali.
"Gus Fatir..?? Siapa itu..??" Tanya Hilyah pura-pura tak tau menau.
"Tuh yang kemaren kamu pukul makek sapu lidi."
__ADS_1
Dek....
Detak jantung Hilyah kembali terpacu.
"Wah dah nyebar ya" Ucap Hilyah polos.
"Nggak nyebar kok paling cuman seblok putri" Tawa Rohima dah Rahma membuat Hilyah mati kutu.
Tak lama mereka masuk ke kelas yang sudah ada beberapa siswi di sana.
Mulai satu persatu siswi masuk hingga akhirnya ada lelaki dengan dada bidang yang berlapis pas dengan jas biru tua. Dengan stelan sarung putih berlis biru tua yang selaras dengan jasnya.
Dekorasi logo emas di jasnya menambah ke wibawaan lelaki itu. Peci hitam denganambang lingkaran yang atasnya tak menyambung dan dekorasi jilatan api di lingkaran itu.
"Ketua pengurus putra tingkat 1" Batin Hilyah.
"Assalamualaikum ukhti"(Yang jelas bukan ukhti ala buaya darat ya gayes..)
"waalaukumsalam ustadzuna" (guru kami)
"Fi hadzal makan ana badlu min ustadz fisika kuna" (Saya di sini menggantikan guru fisika kalian) Ucap laki-laki itu. "Ijma' katabakuna" (kumpulkan buku kalian) Lanjutnya.
Satu persatu murid di kelas mengumpulkan bukunya. Hilyah menjadi risau karnanya.
"Buku ku belom ketemu gimana ini" Batin Hilyah.
"Hilyah 'ania kitabuki" (Hilyah di mana bukumu) tanya guru badal itu.
Hilyah pun maju ke depan tanpa membawa bukunya.
"Maaf pak buku saya tidak ada" Ucap Hilyah setakdzim mungkin.
"Kemana" tanya guru badal itu dingin.
"Tidak tau" jawab Hilyah singkat.
"Keluar dari kelas dan hormat ke tiang bendera" Titah Guru itu.
"Baik Ustadz" Hilyah pun tak bisa berbuat apa-apa selain patuh. Hilyah berjalan gontai ke arah pintu dan keluar.
"Hilyah..??" Keluh Anis sedang Lail yang baperan malah menatap Hilyah dengan tatapan berkaca-kaca.
"Bapak ustadz yang terhormat menurut saya bapak tak perlu menghukumnya dia baru kali ini ada masalah jugaanya Akhir-akir ini dia sibuk di ndalem. Bapak tau dia paling rajin dan paling utama di kelas." Celoteh Rahma dengan beraninya.
Guru itu memandang Rahma tak suka.
"Jika kau kasihan pada temanmu" Guru itu berhenti sejenak. "Kenapa kau tidak menemaninya di luar sana" Lanjutnya dengan suara gang arogan.
Seluruh kelas menjadi hening tak ada yang bersuara. Suasanya menjadi bagaikan keramat sekarang. Guru itupun mulai menerangkan pelajaran di hari itu.
"Kerjakan soal LKS halaman 23, yang selesai kumpulkan." Ucap guru itu setelah selesai dengan penjelasanya.
"Dasar guru badal sok Y" Ucap Rahma berbisik pada dirinya sendri.
"Jika ada yang tidak suka pada pelajaran saya pintu terbuka." Tegasnya seakan tau isi hati seseorang.
__ADS_1