Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 3. Mulai Mengagumi


__ADS_3

"Gimana tadi mainnya" Tanya Hilyah pada Nidya.


"Seru.. Tapi sayang nggak ada mbak Hilyah. Seru Nidya agak kecewa.


" Hahaa.. ya udah makan yang banyak ya biar ceot gede" Ucap Hilyah sembari kembali menyuapi mulut mungil Nidya dengan sesendok nasi. Dengan senang jari Nidya menerima suapan itu.


Di sisi lain ada gosok yang sedang mengawasi keakraban Hilyah dan Nidya. Hingga tanpa di sadari senyum merekah di wajahnya.


"Tak pernah Nidya seakrab itu dengan selain keluarga" Bisiknya pada dirinya sendiri.


"Hahh..." Terdengar suara tawa kecil Nidya di iringi suara yang lembut menyejukkan hati.


"Ya Udah mbak pulang ya, mbak mau belajar bentar lagi mbak ujian" Ucap Hilyah lembut. Mendengar hal itu gosok tadi pun langsung meninggalkan temlatnya tanpa suara.


"Dada mbak" Ucap Nidya dengan lembut.


Hilyah pun berjalan pulang meninggalkan Nidya yang juga beranjak dari tempat duduknya. Saat Hilyah keluar dari pintu dan menutupnya, Nidya langsung di gendong oleh sosok tadi.


"Makan sama siapa kamu tadi" Tanya laki-laki itu dengan suara gemas.


"Mbak Hilyah ngapa mas Fatir suka ya" Ledek Nidya sembari tertawa terbahak-bahak.


"Ih masih kecil dah tau suka-sukaan" Ucap laki-laki yang di panggil fatir itu.


...****************...


**Klek**...


Suara kenop pintu yang terbuka dari luar.

__ADS_1


"Mereka sudah tidur" Ucap Hilyah lirih sembari menoleh ke marah jam dinding.


11.30 WIB


"Pantas saja" Batin Hilyah.


Dia pun bersiap-siap ke kamar mandi. Sesampainya di sana dia membarsihkan mukanya.


Cantik bersinar alami badahal dia tak menggunakan alat kecantikan apapun hanya sabun mandi batangan dan air wudhu yang rutin is kenakan.


Sudah selesai dengan urusannya dia memutuskan untuk cepat pulang ke asramanya. Saat di pertengahan jalan dari jendela Asrama Maratus solehah tsani samar-samar ada suara peringatan sama seperti tadi pagi. Dengan hati yang terguncang Hilyah menghampiri jendela dan memandang ke luar sana.


Tak lama dari itu terlihat jalas sosok laki-laki pagi tadi yang berjalan sembari memegangi sorban hijau yang ia kenakan untuk menutup pandangannya.


Deeeekkk... Deeekkkk...


Suara jantung Hilyah kembali memburu saat melihat sosok itu. Dia pun berlari menuju asrama no 27. Saat sampai dia merebahkan badan rampingnya di atas ranjang dan mulai membaca buku nahwu sampai akhirnya tertidur.


...****************...



...****************...


Allah huakbar.. Allah.. Huakbar..


Suara Adzan mulai berkumandang.


Hilyahdan ke dua temannya pun terbangun dari istirahatnya

__ADS_1


"Alhamdulilah" Ucap mereka serentak.


Mereka pun bersiap-siap untuk solat jama'ah. Masjid yang mereka gunakan itu sama dengan milik laki-laki hanya saja laki-laki di tingkat ke dua sedang perempuan berada di bawah.


Saat santri putri Sudah berkumpul...


Teng... Teng... Teng...


Bunyi bel berdering kembali. Semua santri putri pun langsung menundukan kepalanya dan sekelompok besar santri putra berjas putih dan sarung hitam berjalan menuju tangga yang berada di sisi kiri.


Sorban hitam yang mereka bawa di gunakan untuk menghalang pandangan mereka terhadap kaum putri yang mereka lewati.


Saat itu di belakang sekelompok santri putra ada satu ketua pengurus tingkat 1 dengan logo emas di jas nya dia sedang mengguring putra agar tak melanggar aturan.


Selintas dia melihat sosok santri putri dengan mata coklat merah keemasan yang memikat.


Dengan mukenah dengan corak kuning emas yang selaras dengan nada wajahnya. Wajah yang putih kemerah-merahan membuat Hati pengurus itu berdegup tak beraturan.


"Astagfirullah" Ucap laki-laki itu dan langsung mengalihkan pandangan.


Santri putri itu masih khusuk dengan dzikir yang iya lantun kan.


Hingga solat pun di mulai.


...****************...



Temen-temen kira-kira penampakan masjidnya gini ya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2