Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 7. Mata Yang Indah


__ADS_3

"Bagaimana Lail kau bisa" Tanya Anis yang masih agak bingung dengan tugas yang di berikan pak Huda.


"Hmm.. Tenang saja" ucap Lail sembari menduduki LKS dan mulai menulis di buku A atau B, C atau D secara acak.


"Hmmm.." Anis terpanjat dengan tingkah sahabatnya. "Hilyah andai kamu nggak di tegak aku bakal punya google" Batin Anis rada kacau.


"Saya tinggal dulu." Ucap pak Huda yang tak kalah killer dari guru aslinya.


"Huu... Pergi lah nian" Ucap salah satu murid di kelas.


Tabb.. Tabb... Taabbb...


Suara langkah kaki menuruni tangga.


"Emm... Pak Huda" Ucap pria berkaca mata yang tampak Sudan berumur.


"Abah" Ucap Huda sang guru badal penuh ta'dzim. Sembari duduk berlutut dan menundukan kepalanya.


"Kenapa Hilyah di jemur?." Tanya Abah penuh selidik.


"Hilyah..? Oo siswi tadi. Dia nggak ngumpul buku catatan fisika Abah" Ucap Huda hati-hati.


"Hmmm.." Dengus abah sembari berlalu.


Huda pun melanjutkan perjalanannya menuju lapangan.


"Hilyah.." Batinnya. "Hmmm.." nafasnya tertahan ketika sekilas melihat mata Hilyah yang coklat kuning kemerahan, yang mengkilat di bawah sorot matahari.


Dekk.. Deekk... Dekkk..


"Ternyata mata indah itu milikmu Hilyah" Ucap Huda dalam hati.


Mata Hilyah yang kuning keemasan lelah menatap silaunya bendera merah putih. Dia pun menundukan kepala dan mata kuning keemasaannya menangkap mata hitam cermelang milikmu Huda.


Kening Hilyah menyerengit mencoba melihat siapa pemilik mata itu. Saat mata Hilyah hampir mendapati pemilik mata itu.

__ADS_1


"Hmm.. Sudan waktunya aku harus pulang ke kelas" Ucap Huda pada dirinya sendiri.


"Hmmm.. Tidak ada siapa-siapa di bawah koridor itu." Keluh Hilyah. "Kurasa aku hanya berhayal." Lanjutnya.


"Hilyah masuk ke kelas" Ucap suara berat dari arah belakang Hilyah. Saat Hilyah berbalik dia mendapati sesosok yang menjulang di belakangnya.


"Oh.. Bapak." Ucap Hilyah sembari menundukan kepala. Peluh yang membanjiri keningnya pun langsung menetes ke kerak bumi.


"Ganti maskermu, dan masuklah ke kelas" Ucap Huda sembari menglodorkan satu pack masker berwarna hitam.


"Haha.. Tak perlu repot-repot pak saya sudah ada persiapan." Ucap Hilyah kikuk sembari mengeluarkan masker dari balik jilbab syar'inya.


"Hilyah apa aku belum pernah bilang sebelumnya.? Aku tidak suka di tolak, atau kau mau membuat kau dan aku terys berjemur di lapangan ini" Ucap Huda dingin.


"Heheee.. Bapak masak udah panas kayak gini belom bisa nyairin kebekuan bapak si." Ucap Hilyah menyembunyikan getaran ketakutan di dadanya.


"Terima kasih bapak." Ucap Hilyah sembari mengambil masker di tangan Huda.


Hilyah mulai berjalan menjauh dari lapangan menuju kamar mandi. Sedang Huda yang melihat kepergian Hilyah tersenyum penuh arti.


Sampai di kamar mandi Hilyah membuka jilbabnya dan melepas masker di wajahnya, hingga wajahnya yang kemerah-merahan nampak menawan dari pantulan cermin.


Hilyah mencuci mukanya di wastafel dan melihat wajahnya di pantulan cermin. Saat ingin mengeluarkan masker dari packnya.


"MAAF" Kata yang tertulis di bungkus pack masker.


"Ini tulisan pak Huda hmm..?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Hilyah pun mengenakan jilbabnya dan berlari menuju ke kelas.


"Asalamualaikum." Ucap Hilyah hati-hati.


"Ud'khul ya Hilyah." (masuk Hilyah.) Jawab Huda dingin.


"Guru ini aneh barusan sikapnya baik-baik aja sekarang dah dingin lagi" Umpat Hilyah dalam hati.


Tampa di sadari semua orang Huda memperhatikan Hilyah hingga duduk di tempatnya. Saat Hilyah duduk dan mengangkat wajahnya matanya bertemu langsung dengan mata hitam di depannya.

__ADS_1


"Loh itu kan mata di koridor tadi." Batin Hilyah. "Astagfirullah." Lanjutnya sembari menundukan pandangannya. Sedangkan pemilik mata itu yang jelas Huda malah tersenyum simpul dan terus menatap Hilyah.


"Hilyah," Ucap suara yang sukses membuat Hilyah hampir jantungan. Hilyah pun mendongakan pandangannya. "Kerjakan soal LKS halaman 23" Titah Huda sembari menyodorkan LKS di tangannya.


"Baik pak." Ucap Hilyah seraya bangkit dari tempat duduknya. "Semuanya pak." Tanya Hilyah melihat 30 soal terpampang di hadapannya.


"Menurutmu." Huda balik bertanya. Hilyah hanya mengangguk tanda mengerti. Hilyah pun duduk kembali dan terkejut saat dia memperhatikan LKSnya.


"Sudah terisi." Bisiknya. Hilyah langsung menatap ke arah Huda namun Huda sedang memandang ke luar jendela. "Baiklah." Ucap Hilyah menyalin jawaban yang ternyata benar semua.


Tanpa di sadari Hilyah, Huda ternyata sedang memandangnya lewat pantulan kaca jendela. Hati Huda tersenyum melihat Hilyah yang cantik dan anggun tentunya.


Teng... Teng.... Tenggg....


Waktu barlalu bengitu cepat hingga Huda yang masih larut dalam lamunan terpanjat.


"Hihi.." Tawa kecil siswi yang melihat wajah kikuk Huda.


"Ayo kumpulkan tugas kalian." Ucap Huda tegas yang langsung membuat siswi tegang kembali. Hilyah yang merasa panas dingin maju ke depan.


"Hmm.." Ucap Huda sesampainya Hilyah di depan mejanya. "Sudah selesai" Lanjutnya sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Alhamdulilah sudah bapak nyalin." Ucap Hilyah sembari memamerkan giginya yang jelas tak nampak dari sisi Huda karna tertutup masker.


"Sudah masuk kelas nanti ke kantor saya ambil buku tugas ini dan tolong bagikan" Ucap Huda agak lembut.


"Baik pak." Ucap Hilyah. Saat membalikannya badan menuju pintu.


"Apa aku ketua itu bagimu." Suara Huda lebih lembut.


"Hmmm.." Ucap Hilyah sembari menoleh ke tempat di mana Huda duduk. Huda mengembangkan senyuma tipis yang di saksikan sendiri oleh mata kepala Hilyah.


Desiran darah hangat mengalir ke ubun-ubun Hilyah membuat badanya panas dingin. Telapak tanganntapun secara otomatis langsung berkelingat dingin.


"Astagfirullah." Batin hilyah sembari berlari keluar dari kelas. Huda yang melihat tingkah lucy dari Hilyah pun tertawa kecil sembari memberesi meja guru.

__ADS_1


"Kau sangat lucu, ku harap aku manjadi yang pertama yang alan melamarmu nanti." Ucap Huda sangat lirih sembari keluar menunggalkan ruang kelas yang sepi.


__ADS_2