Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 11. I Kwon..


__ADS_3

Sesampainya di asrama...


"Kalian lapar ya.." Tanya Hilyah pada kedua temannya.


"Hehe.. tau aja kamu Hil." Timbal Anis nyengir kuda.


"Ya udah kalian makan lah. Aku mau langsung siap-siap masak." Ucap Hilyah tersenyum.


"Okey.." Ucap kedua temannya serentak.


Mereka pun berganti pakayan dengan syar'i harian biasa. Hilyah mengenakan baju berwarna hitam polos dengan lis berwarna merah marun.


"Semangat ya Hilyah kami makan dulu." Ucap Lail saat selesai bersiap-siap.


"Iya, makasih." ucap Hilyah.


Anis dan Lail pun pergi duluan meninggalkan Hilyah yang masih sibuk dengan hijabnya. Dia memasangkan satu bros kupu-kupu silver di tengah hijabnya agar tak mudah tersibak angin.


Teng... Tenggg.. Tteeenggg...


Suara bel terdengar di dalam asrama, menandakan akan ada lelaki yang lewat di blok putri.


"Wah siapa ya.." Tanya Hilyah pada dirinya sendiri.


Setelah siap diapun berjalan menuju ndalem dengan langkah yang agak di percepat. Di perjalanan dia bertemu dengan beberapa temannya dan sesekali dia menunduk karna ada pengurus-pengurus yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.


"Assalamualaikum." Ucap Hilyah sesampainya di depan pintu ndalem.


"Waalaikumsalam." Ucap beberapa suara putri dari dalam pintu.


Hilyah pun membuka pintu dan mendapati beberapa pengurus putri yang sedang berkumpul.


"Wah kumpul-kumpul ada apa mbak." Tanya Hilyah pada Fa'ah yang juga ada di sana.


"Nggak tau yang ikut ndalem di suruh kumpul" Jawab Fa'ah dengan senyum manis di bibirnya.


"Aku..?" Tanya Hilyah sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu kan juga ndalem ayok sini duduk." Ucap Fa'ah sembari menarik tangan Hilyah agar duduk di sampingnya.


"Hehehe.." Hilyah tertawa kecil.


Tak lama bunda keluar dari depan pintu dan mengamati santri-santri putrinya yang ada di hadapan beliau. Di susul dengan si mungil Nidya yang berlari kecil yang langsung menghampiri Hilyah.


"Embak." sapa Nidya sembari mendudukan dirinya di pangkuan Hilyah.


"Iya sayang.. kenapa ya di kumpulin dek Nidya tau nggak." Tanya Hilyah pada si kecil.


"Tau dong Nidya gitu lo apa yang nggak tau." Ucap Nidya menggemaskan.

__ADS_1


"Apa mbak mau tau dong." Tanya Hilyah penasaran.


"Ah bunda cuman pengen ngomong ada acara." Ucap Nidya sembari mengantungkan tangannya di leher Hilyah.


Bunda yang melihat keakraban anak bungsunya dengan Hilyah oun tersenyum dan mulai berhujar.


"Ndok, nanti malem ada acara pengajian, jadi hari ini kita masaknya agak banyak ya." Kata bunda dengan lembut.


"Masak apa buk." Tanya salah seorang santri putri yang ternyata adalah mbak Ningsih guru yang menegur Hilyah saat di koridor kantor pagi tadi.


"Sambal tempe, tumis kangkung, sama apa lah nanti di bimbing aja sama mbak Fa'ah ya Ndok,. bahan-bahannya udah ada di lumbung." Ucap bunda menyerahkan amanah.


"Enjeh buk." Sahut Fa'ah penuh ta'dzim.


"Sama Nidya jangan ganggu mbak Hilyah, mbak Hilyahnya mau masak." Tegur Bunda yang melihat Nidya mulai menggelitiki tubuh mungil Hilyah.


"Nggak mau.. mau sama mbak Hilyah nda.." Rengek Nidya memohon.


"Ya udah Ndok Hilyah momong Nidya aja ya." Ucap bunda sembari menghampiri Nidya yang berada di pangkuan Hilyah.


"Enjeh buk." Ucap Hilyah sembari menunduk.


"Hore.. mbak main umpet-umpetan ya.." Request Nidya manja.


"Haha.. iya sayang.." Ucap Hilyah sembari mencubit pipi embul Nidya.


"Ya udah masak lah Bunda juga mau ke blok putra mau liat perkembangan di sana." Ucap Bunda penuh sayang pada santri di hadapannya.


...****************...


"Satu... Dua... Tiga... "


Hitung Hilyah sembari menutup matanya.


"Siap-siap mbak cari ya.." Lanjut Hilyah yang sedang bermain petak umpet bersama Nidya.


"Di mana Nidya.." Ucap Hilyah sembari membesarkan suaranya agar terkesan ngeri.


Hilyah pun berjalan ke sana kemari mencari Nidya di sudut-sudut ruang tamu yang cukup besar. Memang banyak set-set sofa dan meja-meja di sana menjadikan petak umpet semakin seru.


Dukk..


"Hmmm.." Ucap Hilyah mendengar suara kepentok meja.


"Meoonggg..." suara kecil Nidya yang di mirip-miripkan dengan suara kucing.


"Oo kucing... ku kira Nidya tadi." Ucap Hilyah yang jelas-jelas berbohong. Karna dia tau persis suara kecil Nidya itu.


"Hihihi..." Tawa kecil Nidya karna dia mengira Hilyah akan tertipu.

__ADS_1


Saat sudah dekat dengan keberadaan Nidya yang berada di bawah meja dekat pintu, Hilyah siap untuk mengejutkan Nidya. Namun saat akan melakukannya..


"Assalamualaikum.." Ucap sesosok laki-laki.


Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok laki-laki dengan tubuh atletis yang di balut pas dengan jas hitamnya.


"Astagfirullah.." Ucap Hilyah yang melihat keberadaan laki-laki di depan pintu. Dia pun langsung duduk dan menundukan pandangannya.


"Mas Fatir." Ucap Nidya sepontan saat melihat laki-laki itu berdiri tepat di hadapannya.


Nidya pun keluar dari tempat bersembunyi dan memeluk mamas kesayangannya itu.


"Dek main apa." Tanya Fatir tak menghiraukan adanya Hilyah di sana.


"Umpet-umpetan." Jawab Nidya manja.


"Loh main umpet-umpetan kok malah keluar, ketawan dong." Ucap Fatir sembari mencubit hidung Nidya.


"Eh iya, ya.. Nidya lupa.. yah.. Nidya kalah." Ucap Nidya lesu.


Hilyah yang mendengarnya pun manjadi gemas dan tak di sadari dia tersenyum sangking gemasnya.


Fatir yang melihat senyuman Hilyah dari pantulan lantaipun terkesima karna sungguh cantiknya wanita yang di hadapannya saat ini.


"Astagfirullah.. " Ucap Fatir dalam hati.


Fatir pun langsung membuang pandanganya.


"Ya udah mas mau ke kamar dulu ya." pinta Fatir pada Nidya agar si kecil itu melepas pelukannya.


"Mas mau ngapain." Tanya Nidya yang serasa enggan melepas pelukannya pada mamas kesayangannya itu.


"Mau ngambilin coklat buat adek mas tercinta ini." Ucap Fatir agar Nidya mau melepaskannya.


Padahal dia tau Nidya tidak di bolehkan memakan coklat. Ya cuman akal-akalan untuk anak kecil biasa lah. Dengan sigap Nidya melepas pelukannya dan mempersilahkan mamasnya untuk mengambilkan coklat miliknya.


"Bukankah Nidya nggak boleh makan coklat ya gus.?" Tanya Hilyah takut Fatir lupa.


"I know." Ucap Fatir karna jika dia menggunakan bahasa arab jelas Nidya akan tau.


Hilyah yang mengerti langsung diam dan semakin mendalam kan pandangannya. Fatir pun langsung berjalan menuju ke kamarnya dan langsung menutup rapat-rapat pintu kamarnya agar tak ada celah bagi suara kecil Nidya untuk masuk.


Di dalam hati Hilyah sungguh sangat berbeda bahkan jantungnya pun serasa akan jatuh ke lantai saat ini.


Sama halnya dengan Fatir yang menahan gejolak aneh dalam dirinya. Dia menatap kosong ke arah jendela kamarnya dan dalam hati mereka berdua serentak berkata.


اعوذ بالله من نفسی...


(Aku memohon perlindungan kepada Allah dari diriku.)

__ADS_1


...****************...


__ADS_2