Denyut Cinta Dalam Do'A

Denyut Cinta Dalam Do'A
Bab 14. Sama-sama di lema


__ADS_3

"Huh..."


Huda menghela nafas kasar setibanya di asrama pengurus putra.


"Ngapa kamu, ada masalah.?" Tanya salah seorang teman Huda.


"Gini bro.." Huda pun mulai menerangkan masalah perasaannya pada temannya itu karena memang dia adalah teman kepercayaan Huda.


"Ealah rebutan Hilyah toh." Ucap Anwar saat Huda selesai bercerita.


"Bingung aku, saingannya berat gus sendiri bro." Ucap Huda agak kesal.


"Ya cinta mu salah tempat." ucap Anwar. "Aku kan dah bilang jangan mau masuk ke kelas 10 itu kalok nggak mau jatuh cinta, ngeyel si.." Ucap Anwar.


Anwar adalah guru Fisika kelas Hilyah yang pagi tadi tak masuk pelajaran. Anwar memang pernah menauh hati buat Hilyah bahkan pernah mengirim surat ingin melamar namun Hilyah bukanlah wanita yang mudah di ajak sinkron. Terlalu fokus sama ngaji.


"Jadi aku mesti gimana." Ucap Huda.


"Ya nggak tau aku aja belom bisa move on dari Hilyah." Ucap Anwar yang sama-sama frustasi.


Akhirnya mereka berdua keluar dari asrama menuju ke masjid karna memang waktu sudah mendekati waktu Magrib.


'Astagfirullah.. nyesel aku ngebadali Anwar ngajar.' Batin Huda nggak karuan.


'Kasian ni temen ku nggak pernah jatuh cinta sekali jatuh cinta sama orang yang nggak tepat.' Batin Anwar.


Mereka berdua pun berjalan dalam diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.


...****************...


"Aduh... perut ku.."

__ADS_1


Ucap Hilyah sembari memegangi perutnya.


"Kenapa," tanya Anis sembari mendatangi Hilyah di ranjangnya.


Anis dan Lail sebenarnya sudah siap akan ke masjid tapi dengan Hilyah yang kesakitan oo... tidak bisa di biarkan begitu saja.


"Kayaknya aku nyeri Haid." Ucap Hilyah sembari terus memegangi perutnya.


"kerikan yok." Tawar Lail sembari menaruh kembali sejadahnya.


"Kalian kan mau jama'ah, jama'ah lah dulu." Ucap Hilyah.


"Anis kamu jama'ah ya aku yang kerokin Hilyah." Ucap Anis.


"Ya udah aku jama'ah ya.. Hilyah cepet sembuh ya." Ucap Lail memberi semangat.


"Makasih." Ucap Hilyah masih dengan memegang perutnya.


Anis pun mulai mengeriki Hilyah dengan perlahan.


'Tumben ni bocah sakit.' batin Anis sembari tersenyum kasihan pada sahabatnya itu.


"Kalok sakit ngomong jangan di tahan." Ucap Anis dewasa.


Hilyah tak menjawab dia sedang sibuk dengan bantal di mulutnya agar tidak ada kesempatan untuk suaranya keluar.


"Eh tau nggak Bapak tadi bilang kalok beliau pengen punya mantu gus." Ucap Anis agar Hilyah tak terlalu fokus pada rasa sakitnya kerikan.


"Hah..? apa kamu bilang." ucap Hilyah langsung melepaskan bantal dari mulutnya.


"Iya.. tadi kami cerita banyak tentang kamu, pak Huda, pak Anwar sama gus." terang Anis jujur.

__ADS_1


"Gila kalik, mana bisa aku dapetin gus." ucap Hilyah


"Siapa tau kan.." balas Anis cepat.


Hilyah memilih diam dan mulai membenamkan mukanya ke dalam bantal untuk menutupi semburat merah di mukanya.


'Semoga aja si.. soalnya jujur aku juga suka sama Gus Fatir.' batin Hilyah. 'Semoga Allah menjajarkan nama ku dan nama gus Fatir di Lauhul Mahfudz.' do'a Hilyah kemudian.


"Eh.. aku nanya jawab dong." Ucap Anis sembari menekan kerikannya membuat Hilyah meringis kesakitan.


"Apa." Tanya Hilyah yang tak mendengarkan perkataan Anis.


"Kalok di suruh milih antara Gus sama Pak Huda kamu milih siapa." Tanya Anis sembari nyengir kuda.


"Ih.. kok nanya begituan." Ucap Hilyah tak suka.


"Bingung ya.." Ucap Anis sembari memasangkan bra milik Hilyah.


"Jelas lah aku milih bapak ku." Ucap Hilyah yang jelas-jelas tak ada dalam pertanyaan.


"Umm..." Dengus Anis.


Sebenarnya Anis dan Lail sudah tau tentang Pack masker hitam milih Hilyah yang dari pak Huda. Waktu mereka mengambilkan baju Hilyah tadi. Tapi mereka lebih baik merahasiakannya agar Hilyah tak malu.


Mereka sangat faham bahwa Hilyah adalah sahabat mereka yang sangat pemalu tak seperti mereka berdua yang sering malu-maluin.


'Ku harap aku juga bisa jadi kayak kamu Hilyah di sukai sama orang bernama di pondok. Udah pinter cantik siapa si yang gak mau.' bantin Anis sembari tersenyum melihat Sahabatnya yang tertidur karena menahan sakit.


...****************...


'~Bismilah ngebet yang pasti~'

__ADS_1


-Anissatun Nadzifah-


__ADS_2