
"Mas Fatir kok lama ya." Ucap Nidya yang masih menunggu di depan pintu kamar Fatir.
Hilyah yang mendengarnya pun merinding dan jantungnya lagi-lagi berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Eh.. Nidya ikut mbak yuk kita makan." Ajak Hilyah mengalihkan perhatian Nidya.
Dan yang benar saja Nidya yang sudah lapar pun langsung mengiyakan tawaran Hilyah. Sesampainya di dapur ndalem Hilyah langsung mengambil nasi dan beberapa lauknya.
"Yok makan, do'anya gimana." Ucap Hilyah lembut.
Nidya pun membaca do'a makan dan langsung menyantab makanan yang di suapkan oleh Hilyah.
"Yang banyak ya." Ucap Hilyah kembali menyuapkan satu sendok nasi lagi.
Nidya dengan senang hati menerima suapan dari Hilyah sampai akhirnya habis.
...****************...
"Hmmm..."
Hilyah berjalan menuju ke asarama setelah sibuk dengan pekerjaannya.
Sampai di asrama dia langsung merebahkan badannya yang lelah. Sampai akhirnya tertidur.
"Hilyah, ada ibuk mu.. Di tunggu tu di ruang tamu." Ucap Anis sembari mengguncang badan Hilyah.
"Apa..." Ucap Hilyah masih mengantuk. Sembari mengucak-ngucak matanya.
"Ada ibumu." ulang Anis gemas sembari membuka paksa mata Hilyah.
"Ibuk ku..??" Tanya Hilyah terpanjat sampai-sampai jidatnya membentur ranjang tingkat. "Aduh.." keluh Hilyah sembari mengusap keningnya yang memerah.
__ADS_1
Anis yang melihat kejadiannya secara langsung merasa sedikit bersalah. "Ya udah sana temuin, di tunggu tu di ruang tamu." Ucap Anis agak pelan.
"Makasih ya.." Ucap Hilyah langsung turun dari ranjang dan berlari menuju pintu.
"Hilyah.." Ucap Lail, tapi tak di dengar oleh Hilyah.
"Wah kacau ni." Ucap Lail dan Anis geleng-geleng kepala.
Mereka pun menjemput Hilyah sembari membawakan roti tawar karena Hilyah tembus tanpa sadar sangking senangnya.
Sesampainya di ruang tamu....
"Assalamualaikum.." Ucap Hilyah langsung mencium tangan orang tuanya.
"Waalaikumsalam, ndok kok lama." Tanya ibuknya yang terharu.
"Maaf tadi Hilyah tidur." Ucap Hilyah sembari tersenyum haru juga.
"Astagfirullah." Ucap Hilyah yang menyadari dirinya tembus.
Hilyah pun langsung kaku dengan posisinya, tak lama dari itu Anis dan Lail pun sampai ke ruang tamu.
"Hilyah ih cepet banget jalannya kamu lari ya." Ucap Anis ngos-ngosan. "Nih.. ganti di kamar mandi ruang tamu." Ucap Anis memberikan Roti tawar dan baju gamis berwarna hitam.
"Hehehe.. baik deh." Ucap Hilyah nyengir kuda.
"Buk temenin yok.." Rengek Hilyah pada ibunya.
"Dasar cak cilik." cerca ibunya sembari tertawa geli.
"Bapak tunggu sama Anis sama Lail ya.." Ucap Hilyah sembari menutupi bercak merah di gamis yang di kenakan. "Lail, Anis Temenin bapak ku ya." Pinta Hilyah pada kedua temannya yang langsung di setujui oleh mereka.
__ADS_1
"Yok buk." Ucap Hilyah sembari menarik tangan ibunya.
"Kok bisa sampek tembus Hilyah." Tanya ibunya sembari menunggu di depan pintu.
"Tadi aku abis masak langsung ketiduran." Ucap Hilyah di susul tawa lirih.
"Kalok emang capek udah nggak usah ikut ndalem, ibuk sama bapak kuat kok biayain kamu." Tawar ibuknya dengan nada sedikit cemas.
"Ih apa si buk Hilyah baik-baik aja kok. Hilyah malah seneng ikut ndalem." Ucap Hilyah sembari membuka pintu Kamar mandi.
"Yakin.." Tanya ibuknya memastikan.
"Ah ibuk mah." rengek Hilyah.
Ibunya pun tertawa melihat tingkah manja Hilyah yang tak pernah berubah.
Mereka berdua pun berjalan menuju ruang tamu utama di mana Bapak dan kedua temannya berada.
"Haahahaa..." Suara tawa nyaring terdengar dari bapak dan kedua temannya.
"Hus bapak ketawanya di kondisikan ah." Ucap ibuk Hilyah sembari menepuk bahu sang bapak.
"Cerita apa si." Tanya Hilyah penasaran.
"Cerita waktu kamu mukul Gus Fatir." Ucap Anis sembari kembali tertawa.
Mata Hilyah pun membulat mendengar nama Fatir di sebutkan.
'Full malu' batin Hilyah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...****************...
__ADS_1