
"Hahaha..."
Suara tawa kembali pacah di ruang tamu itu.
"Ih udah ah malu tauk." ucap Hilyah yang terus menerus di gojloki.
"Kenapa malu ibuk malah pengen punya mantu gus." ucap ibu Hilyah membuat Hilyah semakin kikuk.
"Nah, Hilyah gebet aja tu gus Fatir aku yakin pasti kecantol." Saran Lail sembari menepuk pundak Hilyah.
"Weh jangan gila ah.." Ucap Hilyah ngeri.
"Ini kirimannya nak, maaf ibuk nggak bisa bawain banyak." Ucap ibu Hilyah sembari memberikan satu kardus berukuran sedang.
"Ini awas lupa." Susul bapak Hilyah yang memberikan sebungkus asoy warna hitam lumayan besar.
"Apa ini." Ucap Hilyah sembari membuka kantong asoy itu.
"Wah.. Pete." mata Hilyah membulat melihat keris pete yang panjang dan besar-besar.
"Tarok ndalem ya ndok biar di masak." Ucap bapak Hilyah sembari tersenyum.
"Hooh pak, bapak panen ya." Ucap Hilyah karna memang bapaknya punya beberapa pohon pete di kebunnya.
"Iya Alhamdulillah." Ucap bapak sembari nyengir kuda, memperlihatkan gigi ompong di bagian kanannya rongga mulutnya.
"Ya udah ini makan yuk." Ajak ibuk Hilyah yang mulai membuka bungkus nasi.
"Waduh ibuk tau aja Anis dah laper." ucap Anis sembari mengusap perutnya.
"Makan aja kamu cepet Anis-Anis." Komentar Lail sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayur apa buk." Tanya Hilyah penasaran.
"Sambel terasi sama ada ikan goreng." Ucap ibu Hilyah sembari mengeluarkan toples berisi Ikan tongkol goreng.
"Wah baunya wangi." Ucap Lail yang membantu membuka wadah nasi.
"Iya tadi masaknya ibuk kasih daun pandan." jawab ibu Hilyah.
__ADS_1
Merekapun mulai makan dengan lahap. Anis dan Lail pun memang sudah seperti keluarga bagi Hilyah.
Tak tanggung-tanggung saat Hilyah di suapi oleh ibunya Anis dan Lail pun ikut-ikutan ingin di suapi.
"Yeee.. ini ibuk ku ya.." Ucap Hilyah sembari menciutkan bibirnya.
"Haha.. masak gitu aja ngambek, dari pada aku minta suapi bapak nanti ibuk cemburu." Guyon Anis di susul tawa geli dari semuanya.
Di sisi lain ada yang sedang memperhatikan mereka.di balik CCTV. 'Masya allah, boleh lah ku tunggu sampek kamu siapku lamar.' Batin laki-laki itu.
"Uhuk.... Uhuk..." Hilyah tersedak karna di batin oleh laki-laki itu.
"Duh ndok pelan-pelan, ni minum dulu." Ucap bapak Hilyah sembari menyodorkan segelas air kemasan.
'Wah kok langsung kesedak apa dia kerasa ya.. maaf deh..' ucap laki-laki itu sembari tersenyum geli.
"Aduh siapa si yang ngomongin aku lagi makan juga ngefens banget si." Ucap Hilyah sembari menepuk-nepuk dadanya.
"Pede juga kamu Hilyah." Ucap Lail dengan mulut penuh nasi.
"Hus.. telen dulu tu nasi." Komen Anis sembari mulai minum.
Lail hanya tersenyum dengan mulut yang agak moncong karna terlalu penuh. Ibu dan bapak Hilyah pun senang melihat makanan sederhana mereka sangat di nikmati oleh Hilyah dan kedua temannya.
"Di mana abah." Tanya Fatir agak kikuk.
"Itu Gus di ndalem.". Ucap laki-laki itu.
Fatir tak menanggapi lagi dan langsung keluar dari ruang keamanan.
"Tumben gus mau masuk-masuk ke ruang keamanan biasanya paling ogah, apa di pondoknya dia jadi ketua keamanan kalik ya mangkanya jadi mood di ruang keamanan." Ucap laki-laki itu sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Ya udah ibuk sama bapak pulang ya." Ucap ibu Hilyah akhirnya setelah lama ngobrol.
"Ah ibuk masih kangen lo." Ucap Hilyah agak sedih.
"Alah manja nanti juga kesini lagi kok." Timbal bapak Hilyah yang sebenarnya juga berat.
"Hehehe.. iya deh." ucap Hilyah akhirnya.
__ADS_1
"Ini uangnya di irit-irit." Ucap ibu Hilyah sembari menyodorkan uang 300.000.
"Makasih buk." Ucap Hilyah sembari nyengir kuda.
"Liat duit aja ijo matanya." komen bapak Hilyah.
"Woo.. jelas dong.." Ucap Hilyah sembari memasukan uangnya ke dalam kantong.
"Ya udah ibuk sama bapak pulang." pamit Ibu Hilyah.
"Hati-hati pak buk." ucap Hilyah dengan senyum agak pudar.
"Pasti." ucap bapak mantab.
"Ibuk sam bapak pulang ya Anis, Lail." pamit ibuk pada kedua teman Hilyah.
Anis dan Lail pun mencium tangan kedua orang tua Hilyah seperti orang tua mereka sendiri. Mereka pun keluar dari ruang tamu. Hilyah membawa kiriman yang di bantu oleh ke dua temannya.
'Yah dah pergi padahal masih kangen' Batin Fatir melihat punggung Hilyah yang kian menjauh dari pantawan CCTV 'Ya Allah jodohkan lah aku dengan Hilyah. Sandingkan namaku dan namanya di Lauhul Mahfudzmu.' Do'a Fatir dalam hatinya.
"Assalamualaikum." salam kedua orang tua Hilyah saat naik ke motor.
"Waalaikumsalam." Ucap Hilyah dan kedua temannya serentak.
'Hati-hati calon mertuaku.' Batin Fatir sembari tersenyum.
"Gus-gus kayak orang gila senyum-senyum sendiri." ucap Huda saat melihat Fatir yang seperti orang Gila.
"Huda.? sejak kapan kamu di sini." Ucap Fatir agak datar.
"Hampir dari tadi." jawab Huda santai.
"Kamu nggak salam." Tanya Fatir.
"Gus Fatir aja yang melamun mangkanya nggak dengar." Elak Huda.
'Waduh ketawan deh aib ku.' Batin Fatir.
'Wah berat ni saingannya Gus.' Biatin Huda.
__ADS_1
Merekapun saling tatap sibuk dengan batin masing-masing.
Sedang Hilyah berjalan bersama kedua temannya menuju asrama.